SURABAYA – KEMPALAN : Kemunculan pengarang perempuan dalam sastra Indonesia masih mendapat citra negatif. Masa pandemi jadi peluang untuk pengarang perempuan mematahkan stigmatisasi tersebut.
Hal itu disampaikan Prof. Djoko Saryono. M.Pd. dalam webinar Seminar Sastra, Perempuan dalam Sastra Indonesia : Sang Pengarang dan Sang Tokoh, Minggu (4/4). Seminar daring ini jadi bagian dari peluncuran buku kumpulan cerpen berjudul “Anomali”.
Dia memaparkan dalam sejarah sastra Indonesia, pengarang perempuan sudah muncul sejak abad 19. Beberapa tahun lalu juga muncul nama-nama seperti Marga T atau Mariani Katopo. Di awal 2000-an, nama Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu ataupun Dee Lestari menjadi pengarang perempuan terdepan di Indonesia.

“Tapi sejauh ini pengarang perempuan masih diberi citra negatif dengan sebutan Sastra Wangi, hanya sekedar selebrasi semata,” katanya.
Guru besar di Universitas Negeri Malang itu mengatakan dalam penokohan pun, perempuan dalam cerita sastra dicitrakan teraniaya, terpojok dan tidak berdaya di dalam masyarakat. Apalagi media juga kurang berpihak kepada pengarang perempuan.
“Saya melihat ada pembungkaman tekstual penulis perempuan dalam sastra Indonesia,” katanya
Menurutnya era pandemi, membuat manusia sebagai homo sapiens menjadi homo fabula (manusia pengkisah). Era pandemi juga membuat masa depan sastra Indonesia menciptakan ruang kreasi yang besar bagi perempuan. Dia menyebutkan ilmu pengetahuan kini juga diwarnai dengan naratisasi seperti jurnalisme sastrawi, psikologi naratif dan sebagainya.
Ruang kreasi baru ini harus dimanfaatkan. Apalagi perempuan yang menulis sastra punya gaya bertutur yang lebih mengalir dan mampu menangkap hal yang tidak bisa dilihat sebagian pengarang lelaki.

“Di luar kemampuan teknisnya, perempuan lebih baik dalam berkisah ketimbang pengarang lelaki. Ruang kreasi baru ini harus dimanfaatkan menghancurkan stigmatisasi itu, ” ujarnya.
Upaya pengarusutamaan perempuan dalam sastra dan kebudayaan Indonesia ini, kata Prof. Djoko harus dilakukan bersama. Dia pun mengapresiasi Kelas Menulis Cerpen yang diinisiasi Wina Bojonegoro yang berbuah buku berjudul “Anomali”.
“Cerpen yang ditulis ada yang bagus dalam menciptakan ruang peran perempuan untuk menyehatkan kewarasan kultural. Jadi buku ini patut diapresiasi,” ujarnya.
Sementara itu, Wina Bojonegoro yang juga CEO Padmedia Publisher menjelaskan buku Anomali merupakan buah dari Kelas Menulis Cerpen batch 3. Total ada 22 cerita pendek yang ditulis 17 penulis. “Dari beberapa kali kelas menulis, batch ketiga cukup lama durasinya karena beberapa faktor. Dan alhamdulillah menghasilkan karya yang tidak ecek-ecek,” katanya. (Nani Mashita)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi