SURABAYA-KEMPALAN: Padepokan Wacana, adalah sebuah forum yang di gagas alumni pascasarjana angkatan 30 dan 31 UGM dan ini adalah sesi diskusi ke-7 secara online. Pada sesi ini mengangkat tema Terorisme dengan judul “Setelah Teror Makassar: Terbelahnya Opini Publik dan Prospek Strategi Deradikalisasi. Webbinar ini diselenggarakan di platform Zoom Meeting pada hari Sabtu (3/4) pukul 13.00 WIB.

Pada Diskusi ini dipimpin oleh Annas Rizaldi dari Padepokan Wacana dan mengundang dua pemateri diantaranya adalah Prakoso Permono, Seorang pegiat kajian terorisme dan juga Saefudin Zuhri, keduanya merupakan lulusan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Indonesia.
Pada materi pertama Prakoso Permono menyampaikan beberapa point diantaranya, Terorisme bukan hal yang baru di Indonesia, karena secara historis Indonesia telah berkali-kali mengalami serangan terror dan juga bomb bunuh diri dan yang paling terkenal serta menjadi serangan terror terbesar di Asia Tenggara adalah bomb bali.
Dalam kajian ini dibahas Kenapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana sikap negara lalu bagaimana langkah” proses deradikalisasi selanjutnya dan kejadian selanjutnya bagaimana?

Isu ini tidak pernah hilang di masyarakat dan bagaimana nanti masyarakat terfragmentasi dalam menyikapi terorisme di Indonesia. Sejak awal Februari 2020 sudah banyak kasus penangkapan terduga teroris di Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, peta perpolitikan konflik di Timur tengah sudah berubah. ISI di pandang sebagai kelompok yang kehilangan wilayahnya sebagai Proto State dan sekarang lebih disebut sebagai Global Virtual Caliphate karena meskipun tidak memilik wilayah namun memiliki pengaruh yang kuat dan juga proses radikalisasi yang tetap berjalan hingga sekarang.
Pramono menyebut ada hubungan antara Makassar dengan Mabes Polri namun bukan hubungan secara koordinasi. Serangan-serangan kecil yang terjadi disebut sebagai upaya untuk pengalahan isu kekalahan ISIS di Timur Tengah yang kalah selama masa post pandemic dan juga sebagai langkah untuk tetap menghidupkan pengaruh-pengaruhnya di luar Timur-Tengah.

Pramono menyebut dalam tindakan terorisme tidak ada korelasi mutlak antara cara perpakaian dengan perilaku dan aksi ia juga menyebut dalam tindakan femonisme terdapat aspek feminism dimana isis mencoba menghilangkan stigma gender yang perempuan juga bisa melakukan aksis teror, dan hanya kemuliaan jihad yang ingin di capai, ia juga menyampaikan bahwasannya apa yang terjadi di Surabaya tahun kemarin dimana satu keluarga melakukan bomb bunuh diri adalah sebagai upaya teroris untuk menunjukkan bahwa satu keluarga juga bisa mencapai kemuliaan jihad.
Menurut Pramono terdapat Kerentanan Dunia Maya, diantaranya aktivitas kelompok terror di dunia maya terus berkembang dan migrasi ke dinua maya membuka potensi penguatan radikalisasi. Terdapat lima tahapan seseorang teradikalisasi, diantaranya; Kondisi dasar-kondisi pendukung,-pintu masuk awal-proses radikalisasi-baiat dan potensi luaran rekrutmen.
Kemudian pemateri selanjutnya, Saefudin Zuhri menjelaskan terdapat empat komposisi hingga seseorang sampai pada tahap radikal, yang pertama adalah menjadi seorang simpatisan, simpatisan berada pada strata paling rendah kemudian diatasnya terdapat Supporter kemudian aktivis dan yang strata paling tinggi adalah radikal. (Abdul Manaf Farid)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi