Minggu, 19 April 2026, pukul : 04:45 WIB
Surabaya
--°C

Ledakan Kilang Balongan: Antara BBM dan Beras

KEMPALAN: “Mengutuk keras, prihatin” kata-kata inilah yang belum tuntas disusun dan disampaikan untuk mengungkapkan kesedihan para pejabat kita atas terjadinya ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar, Minggu 28 Maret 2021 pukul 10:28 WITA, ternyata beberapa jam kemudian sudah harus disusun dan disampaikan kembali untuk mengungkapkan kedukaan atas meledak dan terbakarnya Kilang Balongan.

Kilang milik PT Pertamina RU VI Balongan Indramayu jawa Barat yang dibangun 1993 dan berlokasi kurang lebih 200 km arah Jakarta ini cukup strategis sebagai area produksi. Beroperasi sejak 1994 dengan kapasitas 125.000 barel per hari, Kilang Balongan melayani pasokan wilayah DKI jakarta, termasuk Balongan itu sendiri, Cikampek, Plumpang dan sekitarnya.

Ledakan pada 29 Maret 2021 Senin pagi pukul 00:45 tersebut sejatinya bukan yang pertama terjadi di Kilang Balongan. Dari beberapa catatan media ledakan pernah terjadi pada 2007 juga 2019. Hebatnya, sekalipun terjadi ledakan demi ledakan, PT Pertamina tetap mampu menjaga stok bahan bakar minyak (BBM) di level aman.

Masih dapat dikelola dengan baik tanpa memunculkan gejolak baru di pasar atas keberadaan stok BBM tersebut. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan tidak memuncukan kejadian ikutan yang menimbulkan gejolak pasar atau gejolak di masyarakat. PT Pertamina berani mastikan bahwa pasokan BBM aman, padahal beberapa analisis menyebut potensi hilangnya produksi minyak karena ledakan tersebut dapat mencapai 400.000 barel.

Situasi yang demikian harusnya adalah sebuah prestasi tersendiri bagi PT Pertamina di samping tentu saja perlu evaluasi lebih lanjut atas terjadinya ledakan demi ledakan di Kilang Balongan tersebut. Meski dapat juga dilihat dari sisi yang lain atas  BBM sebagai sebuah output yang merupakan salah satu dari sekian banyak jenis barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat setiap harinya.

Barang kebutuhan pokok yang lain bagi masyarakat yang dapat dicatat adalah beras, yang hari-hari ini menjadi obyek yang cukup menjual untuk diberitakan karena tarik ulur agenda impor dari beberapa pihak terkait. Mencermati keberadaan kedua barang kebutuhan pokok tersebut rasanya menjadi perlu untuk diperbandingkan, dilihat persamaan dan perbedaan perilakunya.

BBM, tidak gampang terpengaruh namun gampang mempengaruhi. Beras, gampang terpengaruh namun tidak dapat mempengaruhi. Pemahamannya, perilaku dari BBM yang tidak gampang terpengaruh, artinya sekalipun terdapat gangguan proses produksi seperti ledakan Kilang Balongan ini ternyata harga BBM tidak terpengaruh.

Bandingkan dengan beras yang keberadaannya gampang terpengaruh. jangankan gangguan proses produksi yang terjadi karena pergerakan harga pupuk, bibit, dan harga gabah. Hanya karena terdapat hiruk pikuk perdebatan setuju atau tidaknya akan dilakukannya impor beras saja, ternyata harga beras di pasar sudah mengalami perubahan. Berikutnya, BBM gampang mempengaruhi sementara kalau beras tidak dapat mempengaruhi.

Artinya, perubahan harga BBM akan secepat kilat mempengaruhi perubahan harga-harga barang yang lain, sementara perubahan harga beras tidak akan menciptakan gerakan atau perubahan harga barang-barang yang lain. Fakta ini sebenarnya adalah yang hari-hari sudah terjadi dalam masyarakat kita namun kita jarang mengamati dan menyadarinya.

Sekilas atas terjadinya ledakan Kilang Minyak Balongan mungkin sedikit akan membuat kita lebih memperhatikan perilaku dari kedua jenis barang kebutuhan pokok ini. Pertanyaannya, sama-sama menguasai hajat hidup orang banyak, mengapa BBM pengelolannya dalam monopoli sementara beras tidak? Selamat berpikir. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)                 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.