KEMPALAN: “Jangan takut jatuh cinta, karena masing-masing kita terlahir dari orang-orang yang saling jatuh cinta”, begitulah kira-kira kutipan kata-kata bijak dari raja gombal. Jatuh cinta sejuta rasanya namun kalau gagal dalam cinta sakitnya bisa d imana-mana. Tidak seperti kata Cita Citata yang katanya hanya “sakitnya tuh di sini”.
Itulah yang namanya kegagalan cinta, yang tentu saja menyakitkan. Bagaimana dengan kegagalan pasar? Istilah ini, kegagalan pasar (market failure) dikenal dan digunakan orang untuk pertama kalinya pada tahun 1958 meskipun fondasi konseptualnya sebenarnya telah dipahami dan muncul sejak abad 18.
Secara sederhana, kegagalan pasar dapat dikatakan sebagai suatu kondisi dimana pasar telah mengalami kegagalan dalam menyediakan kebutuhan secara efisien atau terjadinya ketimpangan antara produsen dan konsumen. Gampangnya, penawaran produsen gagal bertemu dengan permintaan konsumen. Ketika penawaran tidak bertemu dengan permintaan tentu saja tidak dapat dikatakan telah terjadi transaksi. Situasi seperti inilah yang dianggap sedang terjadi di pasar otomotif kita yang selanjutnya sedang dicarikan solusi oleh pemerintah.
Transaksi mobil baru di 2020 pergerakannya sangat melambat, penurunannya hampir 50% dibanding tahun sebelumnya, 2019. Lagi-lagi, kambing hitamnya adalah pandemi covid-19 yang mengakibatkan pergerakan ekonomi industri otomotif ikut-ikutan terjun bebas. Memasuki 2021 coba dikreasi dengan skema relaksasi pajak otomotif sebagai bagian dari pemberian stimulus untuk membangkitkan pasar otomotif yang lesu.
Relaksasi sering dipahami sebagai sebuah teknik yang digunakan untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan. Secara otomatis stress yang menjadi penyebab otot-otot terasa tegang akan hilang secara perlahan setelah dilakukannya relaksasi. Pada gilirannya tubuh dan pikiran akan kembali merasa rileks. Sesederhana inilah sebenarnya relaksasi.
Namun ketika bergeser ke Relaksasi Pajak yang diwujudkan dalam bentuk penghapusan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang pemberlakuannya akan dimulai per 1 Maret 2021, ceritanya menjadi lain dan berimbas kemana-mana.
Banyak argumen dibuat dan disiapkan, mulai dari bahwa selama ini industri otomotif pemasukannya sangat besar bagi negara, konsumsi masyarakat berpenghasilan menengah atas akan meningkat, sampai pada untuk meningkatkan utilisasi industri otomotif dan mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2021 dan lain-lain.
Yang pasti tujuannya adalah yang baik-baik. Relaksasi Pajak ini tentu saja untuk menghilangkan stress ekonomi, stress yang terjadi karena sulitnya untuk bertemu antara permintaan dan penawaran selama pandemi. Keuangan masyarakat sudah terkonsentrasi untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang sumbernya terbatasi oleh kebijakan-kebijakan pembatasan kegiatan dan mobilitas aktivitas oleh pemerintah.
Keuangan masyarakat juga terkonsentrasi untuk pemulihan kesehatan anggota keluarga karena gempuran virus-virus yang datang tidak diduga sebelumnya ini. Akibatnya tentu saja dapat ditebak, kemampuan keuangan masyarakat, daya beli masyarakat sudah tidak mampu untuk menyentuh penawaran harga otomotif.
Permintaan tidak bertemu dengan penawaran, pasar tidak tercipta, transaksi tidak ada. Relaksasi pajak 3 bulanan ini peruntukannya pada mobil dengan tipe kubikasi mesin dibawah 1.500 CC selama 9 bulan. Dengan 3 bulan pertema penghapusan pajaknya nya 100%, tiga bulan berikutnya 50%, dan tiga bulan terakhir 25%. Masyarakat pun tidak terlalu berpikir bahwa instrumen kebijakan ini akan menggunakan PPnBM yang ditanggung pemerintah (DTP) melalui revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
Masyarakat hanya berpikir, relaksasi pajak ini sebenarnya untuk apa. Untuk menggerakkan industri otomotif, untuk menggairahkan pasar otomotif, atau dengan bahasa normatif untuk pemulihan ekonomi nasional. Karena situasinya sekarang sudah benar-benar berbeda, masyarakat benar-benar sudah tidak berdaya dan sudah kehilangan daya beli. Leasing-pun berpikir berulang-ulang sebelum memberikan “bantuan”.
Kalaupun harus membeli mobil baru, peruntukannya pun sekarang tidak optimal dikarenakan masih adanya pembatasan-pembatasan mobilitas atas aktivitas warga masyarakat di hampir semua tempat. Inilah, kegagalan pasar yang pemulihannya sedikit terlambat. Menyakitkan ?. Boleh dibandingkan sekarang, mana yang lebih menyakitkan, kegagalan cinta atau kegagalan pasar?
Yang pasti justru pada saat pemberlakuan relaksasi pajak per 1 Maret 2021 nanti, yang terjadi adalah adanya ancaman terhadap pasar mobil bekas. Setuju? Salam sehat untuk semua. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi