Sabtu, 25 April 2026, pukul : 11:14 WIB
Surabaya
--°C

Jurnalis Pekerja Keras itu Telah Pergi

KEMPALAN: Kabar menyedihkan itu akhirnya datang. Sebuah pesan di grup WhatsApp mengabarkan bahwa jurnalis senior, Budi Sugiharto meninggal dunia pada Selasa 16 Maret 2021 pukul 06.00 WIB. Kematian Uglu berselang satu bulan setelah sebelumnya fotografer senior, Yuyung Abdi meninggal dunia karena Covid 19.

Uglu, begitu dia biasa disapa, adalah sosok yang disegani dan menjadi jujugan jurnalis muda di Jawa Timur. Almarhum dikenal sebagai sosok pekerja keras yang idealis, kemauan kuat, punya ide-ide segar dan mudah bergaul dengan siapa saja. Sosoknya mudah dekat dengan pejabat-pejabat, dan tidak pernah meninggikan dirinya di hadapan jurnalis junior.

Lahir di Bojonegoro, Uglu hijrah ke Surabaya di tahun 1993 demi menuntut ilmu di Stikosa AWS. Bakat jurnalistiknya, terutama fotografi diasahnya  dengan mengirimkan karya-karyanya ke media massa seperti Surabaya Post. Mantan Ketua Himmarfi (Himpunan Mahasiswa Penggemar Fotografi) ini akhirnya terjun sebagai jurnalis foto di Surabaya Post, Karya Dharma, Memorandum, Tabloid Nasional Demokrat. Juga menjadi stringer di berbagai kantor berita asing, seperti Reuters, AP mapun AFP untuk wilayah Jawa Timur.

Saya teringat ketika Uglu membuat media online–yang mungkin pertama –di Surabaya. Dia adalah sosok di balik media online beritasurabaya.com, yang saat itu dinahkodai Adi Sutarwiyono – kini Ketua DPRD Surabaya dan Ketua DPC PDIP Surabaya.
Kala itu, dia tetap jalan terus meski medianya dicibir sebagai media penyokong pasangan wali kota saat itu, Bambang DH-Arif Affandi. Saat saya nyambangi kantornya di sebuah ruko sebelah Hotel Weta, Uglu menjamin medianya akan jalan terus. “Iku jare arek-arek Sit. Iki media online temenan, gak onok hubungane ambek walikota,” tegas Uglu kala itu.

Dan benar saja, memang www.beritasurabaya.com berkembang menjadi media online lokal yang disegani. Apalagi kala itu Uglu adalah panutan bagi jurnalis muda di Surabaya. Maklum waktu itu dia menjadi jurnalis Detikcom, media online nasional yang menyajikan berita dengan sangat cepat. Salah satu pendiri Detik.com, Budiono Darsono, adalah kakak kandung Uglu.

Setiap gerak-gerik Uglu dimonitor oleh jurnalis lain, yang tidak ingin ketinggalan kalah update dari berita Uglu.
Hal itu berimbas ketika saya liputan di lapangan. Ketika tahu saya membawa bendera beritasurabaya.com, banyak yang menyadari keberadaan saya sebagai jurnalis. Jujur saja, waktu itu tumbuh kebanggaan sebagai seorang jurnalis muda yang dibimbing oleh sosok seperti Uglu.

PROKES: Jenazah dishalatkan

Sebagai senior, Uglu tidak pernah menampilkan diri sebagai sosok yang jumawa. Dia seolah sengaja lupa dengan statusnya yang disegani oleh jurnalis-jurnalis lain. Juga tidak pernah ingat kalau dirinya dikagumi jurnalis muda. Dia easy going, yang tetap tertawa dengan candaan garingnya, yang selalu menghujani saya dengan berbagai pisuhan khas Arek Suroboyo.

Uglu juga membagi cara dan trik bagaimana menulis di media online, sebuah media yang waktu  itu jumlahnya tidak banyak. Uglu juga ketat dalam menegakkan verifikasi berita, selalu bertanya running berita dari berita sebelumnya. Bila matahari menggelinding ke barat, Uglu kerap bertanya kepada saya, “Gak onok berita maneh Sit?” tanyanya. Padahal saya sudah menyetor 7 berita ke kantor.

Kerjasama saya dengan almarhum kembali tersambung ketika Uglu bersama Luky Lokononto mendirikan beritajatim.com. Disana, “pelajaran” saya soal media online bertambah lagi.  Uglu membagikan ilmunya bagaimana supaya sebuah berita memiliki pembaca tinggi.
Selain jurnalis tulis, Uglu juga dikenal sebagai “suhu” fotografi berita. Sederet piala dari berbagai lomba diraihnya. Saya juga sempat ditulari ilmu fotografi Uglu. Hasilnya, salah satu foto saya pernah nangkring di media asing tempat Uglu menjadi stringer.

Dan saya dihadiahi upah sangat besar oleh Uglu.
Uglu juga aktif kerap ikut menginisiasi sebuah kegiatan – kegiatan besar di Surabaya. Salah satunya adalah Bulak Fest 2017 yang digelar tiga hari di Sentra Ikan Bulak, Kenjeran. Kegiatan itu diharapkan menaikkan pamor SIB yang masih sepi dikunjungi pembeli.

Meski punya nama mentereng di dunia jurnalistik, Uglu punya kehidupan yang bersahaja. Menjalin biduk rumah tangga bersama Ari Suwita, pacarnya semasa di kampus Stikosa AWS , dia membesarkan dua anak lelaki berkebutuhan khusus dan seorang putri.

Tidak pernah ada keluhannya mendapatkan anugerah dua anak bekebutuhan khusus ini.
Sebaliknya, Uglu kerap membanggakan putra-putranya yang berprestasi di tengah keterbatasannya, sedangkan anak perempuannya hobi bersepatu roda.

Dia juga tidak segan membela anak-anaknya. Salah satunya ketika anaknya yang bersekolah di SMKN 1 ditampar oleh kepala sekolahnya. Uglu gencar meminta keadilan.
Namun ketangguhan jiwa Uglu kalah dengan kondisi fisiknya. Sekali lagi, Uglu tidak pernah mengeluh dan tetap berikhtiar untuk sembuh. Pada akhirnya virus  Covid19  merobohkan jiwanya dan dengan kejam dari pelukan keluarganya.
Selamat jalan mas, semoga husnul khatimah. (nani mashita)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.