Teluk Lamong Jadi Saksi

waktu baca 2 menit

KEMPALAN: Layaknya sebuah perpisahan tentu menyisakan duka. Melepas kepergian adalah sebuah pertarungan rasa. Begitulah, standar  yang biasa terjadi dalam kehidupan ini. Namun yang terlihat oleh mata pada Jumat 12 Maret 2021 berbeda.

Semua senang, semua bangga bergembira untuk melepas kepergian beragam output pertanian. Ada Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Menteri BUMN, dan tentu saja tuan rumah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Dalam satu agenda di Terminal Teluk Lamong melepas ekspor produk pertanian yang berasal dari Jawa Timur senilai Rp 140,03 miliar dengan total volume 5,4 ribu ton dan 757 batang, keseluruhannya akan beropindah tangan pada 12 negara tujuan ekspor ini. Beberapa produk pertanian dalam catatan ekspor kali ini mulai sarang burung walet, pakan ternak, premik, cicak kering, lipan kering, kelapa bulat, cacao powder, cacao butter, kopi biji sampai pada cengkih.

Dalam perjalanan pembangunan ekonomi suatu negara atau wilayah, proses ekspor seperti yang terjadi di Terminal Teluk Lamong ini sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa. Biasa saja dan mekanismenya memang demikian untuk proses sebuah ekspor dalam perdagangan internasional.

Yang menjadikan peristiwa ini luar biasa dan diberitakan banyak media adalah bahwa momen ini  terjadi di masa sulit masa berat pandemi Covid-19 masih belum mereda. Berikutnya nilai ekspornya yang tembus melebihi Rp 140 miliar adalah nilai yang cukup fenomenal. Besaran ini merupakan bagian dari total komoditas ekspor pertanian  yang mencapai 81,3 ton dengan nilai mencapai Rp 1,264 triliun.

Alasan berikutnya yang menjadikan peristiwa ini menarik tentu saja adalah karena ini proses ekspor dan bukan proses impor. Apapun yang namanya ekspor tentu adalah sebuah prestasi sementara kalau impor adalah sebuah ‘kekalahan’ dari sebuah proses transaksi atau perdagangan. Selisih tersebut akan menciptakan surplus neraca perdagangan yang pada tahapan berikutnya dapat dijadikan sebagai modal banyak hal dalam pembangunan ekonomi selanjutnya.

Kekhawatiran-kekhawatiran atas defisitnya neraca perdagangan kita sebenarnya terus membayangi seiring dengan capain-capaian yang kurang menggembirakan selama 2020. Hampir seluruh indikator makro ekonomi tumbang, mulai pertumbuhan ekonomi, inflasi, jumlah pengangguran, jumlah kemiskinan, dan lainnya.

Mencermati itu semua, dengan melihat fakta bahwa Jawa Timur melalui Terminal Teluk Lamong masih mampu melepas ekspor sebesar Rp 140 miliar, tentu ini adalah sebuah catatan yang membanggakan bagi kita semua.

Terlebih ini adalah produk-produk yang berasal dari para pejuang-pejuang  pertanian di negeri ini. Selamat untuk semuanya, Teluk Lamong telah menjadi saksi kebangkitan ekonomi negeri ini. Salam. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)                  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *