SURABAYA, KEMPALAN: “Mas Budi Johanis adalah gelandang serang yang hebat, seorang playmaker yang jempolan. Jadi sangat pantas bila Mas Bud, menerima gelar pemain terbaik. Saya bermain sama Mas Bud, sudah sangat nyetel, sudah sangat kompak.”
Pernyataan pujian itu disampaikan Adjat Sudrajat ketika Budi Johanis dinobatkan sebagai pemain terbaik kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1984/1985.
Adjat merupakan mesin gol Persib Bandung. Kala itu ia adalah top skorer kompetisi dengan 16 gol.

Adjat dan Budi Johanis adalah teman sesama pesepakbola. Bila mengikuti pelatnas tim nasional, Adjat, yang lebih muda dari Budi Johanis, selalu satu kamar dengan Budi Johanis. Sehingga keduanya punya waktu dan kesempatan saling menyelami satu sama lain.
Adjat menyebut Budi sebagai seorang pemain yang sportif. Begitu pula sebaliknya, Budi Johanis memuji Adjat sebagai pemain yang sportif.
Meskipun Budi Johanis mencintai Persebaya dan di hatinya hanya ada satu, yakni Persebaya.Tidak Ada yang lain, namun ia juga mengakui Persib Bandung sebagai tim yang bagus.
Ya, itulah Budi Johanes. Dia tidak tidak segan mengakui kelebihan pemain dan tim lain secara ksatria, tanpa merasa malu.
Begitu cintanya Budi Johanis pada Persebaya, sehingga sampai akhir karirnya sebagai pesepakbola ia tidak pernah bepaling ke klub atau tim lain. Padahal, sebagai pemain langganan timnas, di era 1980-an itu cukup banyak klub Galatama yang menawarinya untuk bergabung.
Seperti UMS 80 Jakarta, Perkesa Sidoarjo, Arseto Solo, Petrokimia Putra, Niac Mitra Surabaya, dan Indonesia Muda (Galatama). Karena Budi Johanis dibesarkan di klub amatir Indonesia Muda, anggota Persebaya.
Tapi semua tawaran itu ditolak. Sebab, bagi Budi Johanis Persebaya adalah segala-galanya.Tidak ada yang lain.
Pasangan Budi Johanis di tim nasional tahun 1981 ketika belum bersama Adjat Sudrajat adalah Herry Kiswanto, Rully Nere dan Mettu Duaramuri.
Kuartet gelandang ini sangat mantap ketika menggulung tim nasional Jepang dengan skor 4-0 dalam persiapan Pra Olimpiade Los Angeles.
Ketika Budi Johanis bergabung dengan Adjat di PSSI Perserikatan mulai tahun 1983 di bawah pelatih Yuswardi, barisan gelandang tim nasional terdiri dari Sutrisno, Elly Rumaropen, Adjat Sudradjat dan Budi Johanis.
Kuartet gelandang tim nasional Indonesia inilah yang menghancurkan tim nasional Thailand 5-1 pada Merdeka Games di Kuala Lumpur, Malaysia 1984.
Sementara di Persebaya, Budi Johanes bermain bersama Yongki Kastanya, Maura Helly dan Aries Sainyakit di barisan gelandang.
Pasangan gelandang ini dikenal sangat kompak. Mereka ikut mengantarkan Persebaya menjuarai kompetisi Divisi Utama Perserikatan Tahun 1988/1989 setelah difinal mengalahkan Persija Jakarta 3-2.
Menariknya, meski bukan striker, Budi Johanis yang menempati posisi gelangang serang kerap mencetak gol. Bahkan, pada turnamen Piala Jawa Pos 1989, ia dinobatkan sebagai top skorer.
Di antara sesama pemain sepakbola, Budi Johanis juga dikenal sebagai sosok pemain yang mudah bergaul. Dia juga tidak pernah bermain kasar. Sebab, semua pemain bola dianggapnya sebagai saudara. “Yang membedakan hanya bendera,” kata pemain berkostum nomor punggung 11 di Persebaya dan nomor 14 di timnas ini, suatu hari.
Berkat pribadi dan pergaulannya yang baik dengan sesama pemain nasional, Budi Johanis kerap dihormati oleh pemain lawan ketika bertanding. Bahkan, Persebaya bertanding lawan Persipura, ia selalu dijaga oleh Leo
Kapisa dan Mettu Duaramuri agar tidak ada yang mencederai, rekannya di tim nasional.
Pernah Budi Johanis ditackling sangat keras oleh pemain yunior Persipura. Leo Kapisa dan Mettu Duaramuri langsung memahari sambil berkata,” Goblok, tahu tidak siapa yang kamu tackling itu!”.
Gelandang Persebaya yang sempat berguru ke Brazil melalui program PSSI Binatama ini memutuskan gantung sepatu setelah final musim kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1989/1990. Ketika itu Persebaya melawan Persib Bandung dan Persib tampil sebagai juara. Kala Budi yang berusia 34 tahun kemudian fokus bekerja di Bank BRI hingga pensiun.
Selama membela Persebaya, Budi Johanis tercatat dua kali mengangkat trofi Piala Presiden RI, yakni pada kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1976-1978 dan 1987-1988.
Kini legenda Persebaya dan Timnas Indonesia itu sudah tiada. Budi Johanis meninggal dunia, Rabu (3/3) pagi pukul 04.00 WIB, setelah menderita sakit stroke cukup lama. Selamat jalan sahabat. Selamat jalan “Sang Pecinta Persebaya”. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi