Pesan Khofifah ke Eri Cahyadi: Lakukan Percepatan, Tak Boleh Ada Pelemasan
SURABAYA, KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri serah terima jabatan (Sertijab) Wali Kota Surabaya masa jabatan 2021-2024 di Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (1/3) pagi.
Sertijab dilakukan dari Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Surabaya Hendro Gunawan kepada Eri Cahyadi yang sebelumnya sudah dilantik sebagai Wali Kota Surabaya bersama Wakilnya Armuji oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (26/2).
Usai Sertijab Gebernur Khofifah menyampaikan bahwa dirinya berterima kasih kepada DPRD Kota Surabaya. Pasalnya, dalam waktu yang sangat cepat sudah memutuskan dalam Banmus (Badan Musyawarah) untuk menggelar Sertijab.
Sertijab ini, menurut Khofifah, merupakan hari pertama dan sekaligus tahap I di Jatim. Sebab, setelah Surabaya ia akan melakukan sertijab untuk Bupati Sidoarjo dan kemudian Bupati Pasuruan. “Jadi, hari ada tiga titik. Setelah Surabaya, kemudian Sidoarjo dan Pasuruan,” katanya.

Banyak hal yang disampaikan Khofifah untuk Eri Cahyadi dan Armuji. Terutama adalah percepatan yang harus dilakukan untuk bisa menjadikan Kota Surabaya tetap sebagai barometer kebangkitan ekonomi di Jatim.
“Kontribusi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Surabaya terhadap PDRB Jatim 24,11 persen. Ini menjadi bagian penting, tidak boleh ada pelemasan atau pelemahan. Jadi, semua harus dilakukan proses percepatan untuk membangun kebangkitan ekonomi di Jatim. Terutama episentrum, yang menjadi sentral adalah Surabaya,” beber gubernur perempuan pertama di Jatim ini.
Khofifah kemudian menyampaikan pesan yang tertuang Perpres No.80 Tahun 2019 Tentang Percepatan Pembangunan Ekoni Jatim. Dalam Perpres ini disebutkan bahwa 77 proyek strategis ada di Gerbangkertasila. Sebagian besar ada di Surabaya.
Oleh karena itu, hal ini juga dipesankan kepada wali kota dan wali kota Surabaya supaya ada sinergitas pasca pandemi Covid-19. “Sekarang sebenarnya praconditioning-nya sudah bisa dilakukan, karena provincial office dari PSN ada di Bappeda Provinsi Jatim,” ujar Khofifah.
Gubernur juga menyebut beberapa hal yang menjadikan kekuatan Surabaya, antara lain Indeks Pembangunan Manusia (IPM)-nya yang tinggi sekali dan mencapai 82 persen. Sedang Kabupaten Sampang indeksnya baru 62 persen.
Sehingga, Khofifah menginginkan adanya semacam sister city antara Surabaya dengan Sampang. Misalnya ada pengiriman SDM dari Surabaya yang akan mensupport penguatan IPM di Sampang.
Sebaliknya, Khofifah juga menyebut adanya beberapa hal yang harus ditingkatkan di Surabaya. Seperti yang dilihat Presiden Jokowi adalah masalah peningkatan kualitas SDM sekaligus daya saing. Saat itu, kata dia, yang pertama dilihat adalah dari angka kematian ibu (AKI), kedua angka kematian bayi (AKB), dan ketiga adalah stunting.
Untuk stunting, Surabaya dinilai sudah jauh di bawah Jatim. Tapi untuk AKI dan AKB, masih masuk lima besar. Sehingga, untuk menurunkan AKI dan AKB di Surabaya harus dilakukan intervensi secara detil. Bahkan, mungkin harus dengan sinergisitas yang lebih komprehensif.
“Saya rasa, InsyaAllah kalau sinergisitas itu terus dilakukan akan bisa memberikan penurunan secara lebih signifikan untuk angka kematian ibu dan angka kematian bayi,” jelas Khofifah.
Dia juga menyebut bahwa akibat pandemi Covid-19, banyak sekali masyarakat Surabaya yang masuk di sektor informal dan kemudian terkena dampak.
Namun, jika Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro terus melandai dan sektor informal terus bergerak, maka diharapkan angka kemiskinan terjadi penurunan di Surabaya. (*)
Peliput: Dwi Arifin









