Kala “Fergie Time” Berbalik Menampar MU
KEMPALAN: “Hidup itu seperti wahana rollercoaster”.
Begitu kata penyanyi Inggris, Ronan Keating. Di lagunya, “Life is Rollercoaster” yang menandai solo kariernya selepas keluar dari Boyzone pada tahun 2000-an silam, penyanyi keren idola milenial zaman dulu ini berkisah tentang dinamika hidup.
Hidup yang terkadang manis ketika kita menemukan cinta. Namun, di lain waktu, hidup seperti mengajak kita “berkelahi”
Hey baby, you really got me flying tonight
Hey sugar, you almost got us punched in a fight
we found love, so don’t hide it
Begitulah kira-kira cerita yang dialami Manchester United (MU) di pekan ke-23 Liga Inggris. Ketika mereka menjamu Everton di Old Trafford. Selama 90 menit plus beberapa menit, MU seperti menaiki rollercoaster yang naik turun.
Sepanjang laga, perasaan Harry Maguire dan kawan-kawan serasa diaduk-aduk. Merasakan gembira. Kesal. Gembira lagi. Sebal.
Persis seperti petuah mantan penyerang Timnas Inggris, Gary Lineker.
Bahwa, “football is the glorious example of the ups and down of life”.
Sepak bola itu contoh paling nyata betapa kehidupan kadang berada di atas dan sebentar saja ia sudah di bawah.
Kali ini, MU yang merasakan ‘ups and down of life’ itu. Minggu (7/2) pagi waktu Indonesia atau Sabtu (6/2) malam waktu Inggris, MU merasakan sekat gembira dan sedih itu sungguh tipis. Saking tipisnya, gembira dan sedih bisa datang berbarengan.
Di pekan-pekan sebelumnya, MU beberapa kali merasakan betapa nikmatnya menang lewat gol di menit akhir. Ketika pertandingan sepertinya akan berakhir imbang, mereka justru mendapatkan gol kemenangan.
Seperti ketika mereka mengalahkan Wolverhampton 1-0 lewat gol Marcus Rashford di menit ke-93 pada akhir Desember 2020 lalu. Atau ketika berhasil come back usai tertinggal dua gol lantas menang 3-2 lewat gol telat Edinson Cavani saat melawan tuan rumah Southampton pada 29 November lalu.
Malah pernah, MU mencetak gol kemenangan di menit ke 90+10 saat mengalahkan tuan rumah Brighton & Hove Albion 3-2 lewat penalti Bruno Fernandes pada 26 September lalu.
Karena sering menang lewat gol di menit akhir itu, Pelatih MU, Ole Gunnar Solskajer lantas disebut mewarisi “Fergie Time” nya sang pelatih legendaris, Sir Alex Ferguson. Fans sungguhan MU pasti paham makna Fergie Time tersebut.
Namun, pagi tadi, Fergie Time yang selama bertahun-tahun dikonotasikan menguntungkan MU, kali ini justru berbalik menampar muka MU.
Anak asuh Solskjaer merasakan, betapa menyakitkan kebobolan di menit akhir ketika ditahan imbang Everton 3-3 di Old Trafford, Minggu (7/2).
Itu hasil imbang tapi rasanya seperti kalah. Seperti ‘kemalingan’ di istananya sendiri.
Betapa tidak, MU sempat unggul 2-0 di babak pertama lewat gol Edinson Cavani dan gol keren Bruno Fernandes. Gol Bruno itu bahkan dianggap mirip dengen gol legendaris Eric Cantona.
Namun, di awal babak kedua, pemain-pemain MU seperti belum siap masuk ke lapangan. Siapa sangka, Everton bisa menyamakan skor hanya dalam tiga menit.
Abdoulaye Dacoure dan James Rodriguez mencetak gol Everton di menit ke-49 dan ke-52. Skor pun berubah jadi 2-2.
Gol pertama Everton merupakan ‘hadiah’ dari kiper MU, David De Gea. Dia kurang peka dengan situasi ketika memblok sepakan Dominic Calvert-Lewin. Bola justru mengarah ke Dacoure.
Padahal, andai tidak diblok De Gea, bola akan bergulir meluncur jauh ke sisi kiri pertahanan MU. Sebab, tidak ada pemain Everton lainnya di kotak penalti MU. Hanya ada Dacoure yang itupun dikawal Luke Shaw.
Di menit ke-70, giliran kiper Everton, Robin Olsen yang memberi ‘hadiah hiburan’ ke MU. Olsen telat membaca arah bola sundulan Scott McTominay usai meneruskan free kick Luke Shaw.
Memang, di sepak bola, arah bola hasil sundulan itu paling sulit ditebak. Namun, tayangan ulang memperlihatkan bila kaki kiper asal Swedia ini nampak sangat berat untuk bergerak.
Gol itu membuat Tim Setan Merah kembali unggul. Hingga menit ke-90+4, skor 3-2 belum berubah. Rasanya, MU bakal menang.
Wasit Jonathan Moss bersiap meniup peluitnya tanda pertandingan usai. Solksjaer dan pemain-pemainnya di bangku cadangan rasanya sudah siap merayakan kemenangan penting demi menghidupkan peluang memburu gelar.
Namun, kemenangan yang sudah di depan mata itu ambyar. Di menit ke-95, bermula dari tendangan bebas, Dominic Calvert-Lewin ada di posisi tepat untuk mencocor bola ke gawang. Dia memedaya De Gea. Juga Maguire yang hanya bisa pasrah melihat bola mengarah ke gawangnya.
Gagal menang karena gol balasan lawan di menit akhir itu menyakitkan. Solskajer yang wajahnya imut itupun kesal. Dalam jumpa pers seusai pertandingan, pria yang semasa bermain dijuluki The Baby Face Assasin ini meluapkan kekesalannya.
“Kami seharusnya pantas menang. Tapi, beginilah sepak bola. Anda harus mampu memaksimalkan peluang dan tidak kemasukan gol setiap lawan punya peluang,” ujar Solskjaer dikutip dari BBC Sport.
Ole mengeluhkan ketidakmampuan timnya memaksimalkan peluang. Dari lima peluang, hanya tiga yang jadi gol. Kali ini, MU tidak ganas seperti saat menang 9-0 atas Southampton pada tiga hari sebelumnya.
Ucapan Solskjaer itu tak hanya mengeluhkan penampilan timnya. Tapi juga menyindir Everton. Lha wong sepanjang laga, Everton ‘pasrah’ diserang sembari menunggu datangnya.
Data statistik BBC Sports, MU mendominasi permainan dengan penguasaan bola sebesar 62 persen. Everton hanya 38 persen. Dari awal hingga akhir, Everton hanya punya tiga peluang.
Sial bagi MU, tiga peluang yang didapat Everton itu semuanya menjadi gol. Imbas pertahanan MU yang kal ini bak ‘sarang laba-laba’. Rapuh.
“Kami mendominasi permainan dan seharusnya menang. Fans bisa melihat, kami ingin menang. Bahkan, saat skor 3-2, kami ingin mendapatkan gol keempat,” sambung Ole.
Komentar Ole itu menegaskan dirinya memang murid Sir Alex Ferguson. MU di era Ferguson dulu memang seperti itu. Mereka bermain menyerang. Meski unggul, MU terus menyerang demi mengakhiri laga tanpa was-was bakal dikejar lawan.
Ketika tertinggal, MU terus menyerang hingga bisa menyamakan skor. Bahkan berbalik menang.
Lantas, muncullah istilah Fergie Time untuk menggambarkan gol MU yang tercipta di menit akhir. Ferguson juga acapkali melihat jam tangannya jelang laga berakhir.
Kini, Ole Solksjaer merasakan betapa pahitnya menjadi “korban” dari Fergie Time itu. Betapa tidak enaknya kemasukan gol di menit akhir. Betapa menyakitkan gagal menang di pertandingan yang seharusnya bisa dimenangi.
Ole menggambarkan sakitnya seperti ketika gigi dihantam. Sakitnya bahkan melebihi sakit gigi yang konon katanya lebih menyebalkan daripada sakit hati gegara putus cinta.
“The last kick of the ball kicks us in the teeth,” ujar Ole.
Hasil imbang ini membuat MU bisa semakin tertinggal dari Manchester City dalam perburuan gelar. MU kini ada di peringkat 2 dengan 45 poin dari 23 pertandingan. Sementara City memimpin klasemen dengan 47 poin dari 21 pertandingan.
Bila City bisa meraih dua kemenangan hingga jumlah pertandingan mereka sama dengan MU, poin City bisa 53 poin. City bisa unggul 8 poin. Itu jarak yang susah dikejar. Terutama bila City-nya Pep Guardiola sudah menemukan konsistensi mereka.
Kini, fans MU tinggal berharap, malam nanti Manchester City bakal dikalahkan Liverpool. Manchester City bakal menghadapi Liverpool di Anfield, Minggu (7/2) malam.
Sebab, bila City kalah, minimal mereka tidak terlalu tertinggal jauh dari tim asuhannya Pep Guardiola itu.
Namun, untuk juara, MU tentu tidak bisa hanya mengandalkan kejatuhan tim lain. Mereka juga harus merintis jalan sendiri. Jalan menuju puncak.
Jalan itu hanya bisa dibuat dengan rajin meraih kemenangan.
Karenanya, ketika menghadapi tuan rumah West Bromwich Albion pada 14 Februari mendatang, MU wajib move on. Saatnya menggerakkan rollercoaster kembali naik berada di titik atas.
Sebab, bukan rollercoster namanya bila terus-terusan di bawah. Itu namanya rollercoster macet ataupun rusak.
Seperti halnya Ronan Keating yang berdendang:
“Life is Rollercoaster just gotta ride it
I need you, so stop hiding”
Salam !
(Hadi Santoso adalah wartawan dan pengamat sepak bola)









