MAJENE, FAJAR—Bantuan harus tepat sasaran. Distribusinya pun mesti merata. Butuh manajemen agar warga kebagian.
Sepanjang jalan poros Majene-Mamuju atau dari Kota Majene ke Kecamatan Tapalang, Mamuju, FAJAR menyusurinya sejak pagi hari, Sabtu, 16 Januari. Kecamatan Pamboang hingga Sendana, permukiman warga tampak biasa-biasa saja. Aktivitas warga tetap berjalan.
Misalnya, pasar Pellatoang, Desa Tammerodo, Kecamatan Tammerodo tetap ramai aktivitas. Kami pun berhenti sejenak, membeli dua sisir pisang, buat bekal dalam perjalanan. Warga di pasar yang ditanyai soal gempa, hanya menjawab. “Itu di Mamuju,” sahut seorang ibu yang menjawab pertanyaan FAJAR.
Namun, terasa berbeda saat di wilayah Tubo Sendana, titik pengungsian di tepi jalan sudah terlihat. Apalagi saat berada di Ulumanda, Malunda hingga Kecamatan Tapalang, Mamuju. Titik-titik pengungsian sudah ditemukan. Warga yang umumnya terdampak gempa memilih mengungsi. Ditambah isu tsunami begitu kuat. Rumah mereka dibiarkan kosong tanpa penghuni. Listrik juga belum menyala dan jaringan seluler timbul tenggelam.
Warga mencari tempat yang lebih tinggi. Silih berganti warga membawa barang bawaan, seperti tenda dan tikar. Barang dikemas di tenteng. “Di sana. Di atas bukit,” ujar seorang warga yang melintas. Dia terburu-buru.
Memilih mengungsi karena mereka masih trauma, cerita soal tsunami yang pernah melanda Malunda, pada tahun 1969. Cerita itu warga masih mereka ingat. Ditambah lagi, prediksi BMKG yang menguatkan.
Namun, anak-anak mudanya memilih bertahan. Mereka berjaga dan meminta sumbangan. Garis putih di tengah jalan dipasang tanda. Nyaris setiap satu kilometer, ramai tanda posko pengungsian. Mereka meminta sumbangan.
Kami coba menyingahi anak-anak muda yang meminta sumbangan itu di Desa Maliaya, Malunda. Kata mereka belum mendapatkan bantuan, sementara banyak warga mengungsi. Fokus bantuan banyak ke Mamuju, padahal mereka juga membutuhkan. Persedian bahan pokok mereka menipis. “Kita di sini juga kekurangan air minum dan makanan. Ada bayi dan ibu menyusui juga,” ungkap warga Desa Maliaya, Asis.
Di tempat lain, saat kami berada di Malunda, Kecamatan Malunda. Kerusakan di lokasi ini cukup parah. Kepala Lingkungan Galung, Kelurahan Malunda, Darsalam mengatakan, rata-rata warganya mengungsi. Rumah permanen warganya rata-rata rusak berat.
“Ada 55 kepala keluarga di sini, semua mengungsi. Rata-rata rumah semi permanen dan permanen hancur. Kita masih hitung sekitaran 20-an. Yang dibutuhkan segera bantuan dari pemerintah,” ungkapnya.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Majene, Sirajuddin mengakui jika daerah terparah ada di Ulumanda dan Malunda. Posko pun telah dibangun BPBD dan bantuan yang masuk akan langsung distribusi.
Adapun pengungsian yang didata yakni 22 titik dengan 17 ribu pengungsi. “Untuk korban sudah sembilan orang yang meninggal, 245 luka ringan. Ada 25 yang di rawat rumah sakit maupun ditenda karena luka berat. Sementara rumah yang rusak masih berlangsung pendataan tetapi sampai saat ini yang terdata 415 rumah yang rusak,” ujarnya.
Sementara itu, akses menuju poros Tapalang ke Mamuju sudah bisa dilalui. Adapun tiga titik longsoran yang berada di Tapalang sudah teratasi.
“Sebelumnya ada 12 titik longsor. Dan tiga titik di Tapalang sudah diatasi. Lima alat berat diturunkan. Akses untuk bantuan dari Sulsel bisa terdistrubusi,” ungkap Kasi Pembangunan BPJN Sulbar, Hadi Wibowo saat disela-sela kesibukan mengatasi longsoran.
Untuk akses listrik, PLN terus melakukan perbaikan. Manajer Bagian Jaringan PLN UP3 Makassar Selatan yang memperbaiki jaringan listrik di Kecamatan Malunda, Dwi Supryanto mengaku, masih terus berupaya membenahi. Hanya saja, dia belum memastikan listrik kembali normal. (ham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi