Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 21:10 WIB
Surabaya
--°C

Sangar Rek ! Persebaya Bantai Bali United 5-2 di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya 

SURABAYA -KEMPALAN: Duel Persebaya versus Bali United awalnya berlangsung biasa biasa saja. Kedua tim yang tak ingin terlena sangat berhati-hati dalam melakukan penyerangan. duapuluh menit pertama, kedua tim tidak menciptakan peluang yang berarti. Baru di menit ke 23 Persebaya membuka peluang lewat kapten tim Bruno Moreira. Sayang tembakan setengah dada Bruno tepat di pelukan penjaga gawang Bali United.

Setelah itu tak ada lagi peluang yang membahayakan gawang lawan. Delapan menit menjelang jeda, Bali United di kejutkan dengan gol berkelas dari Fransisco Rivera. Gol pemain asal Mexico ini bermula dari umpan sodoran dari Bruno Moreira kepada Fransisco Rivera yang sempat membelakangi gawang lawan. Akan tetapi Dengan kecerdikan dan kemampuan tehnik tinggi yang di miliki, Rivera langsung memutar badan menghadap gawang sekaligus melakukan tembakan tepat di pojok kanan atas gawang Bali United yang tak mampu di selamatkan kiper. Gol 1-0 Persebaya memimpin. Unggul 1-0 Persebaya kian bersemangat. Menit ke 44 Persebaya kembali mencetak gol ke dua ke gawang Bali United lewat heading Risto Mitrevski yang gagal di selamatkan kiper Bali United. Sementara itu Bali United memperkecil ketinggalan 2-1 setelah B. Kopitovic  mencetak gol penutup di babak pertama atau di menit ke 45+2.

Memasuki babak kedua, kedua tim tetap bermain spartan. Persebaya yang mendapat dukungan penonton terus bermain menyerang. Fransisco Rivera, Bruno Moreira dkk silih berganti tukar posisi demi misi besarnya untuk memenangi laga. Upaya itu tak sia-sia. Menit ke 53 Mihailo Perovic akhirnya turut berpesta setelah ia mencetak gol ketiga bagi Persebaya sekaligus membawa Persebaya unggul 3-1.

Tertinggal 3-1 Bali United tak pasrah begitu saja. Irfan Jaya, Thijmen Goppel yang di dukung Ricky Fajrin tak butuh waktu lama untuk mencetak gol demi mengejar ketertinggalannya. Suplay bola Thijmen Goppel yang begitu matang kepada Irfan Jaya tak di sia siakan. Sontekan Irfan Jaya pun berhasil membobol gawang Persebaya yang di jaga Ernando Ari Sutaryadi. Skor berubah menjadi 3-2.

Setelah skor 3-2 sejatinya laga kian seru. Persebaya yang berjanji memuaskan pendukung mereka terus bermain force. Menit ke 58 Petaka menimpa Bali United. Pelanggaran yang dilakukan oleh kapten tim Ricky Fajrin kepada pemain Persebaya di kotak penalti berakibat fatal. Wasit pun langsung menunjuk titik putih untuk Persebaya. 

Bruno Moreira yang melakukan eksekusi penalti berhasil dengan baik dan gol untuk Persebaya sekaligus merubah skor menjadi 4-2.

Setelah skor 4-2 baik Persebaya maupun Bali United tetap bersama bermain menyerang. Akan tetapi Persebaya dengan kepercayan diri tinggi sedikit bermain lebih enjoy. Bahkan arek arek green force Persebaya bermain tanpa celah. Bahkan head coach Eduardo Perez berani berspekulasi dengan mengganti pemain dengan memasukkan beberapa pemain baru termasuk Gali Freitas. Alhasil spekulasi itu di jawab dengan manis oleh Gali Freitas dengan gol penutup sekaligus Persebaya berpesta dengan kemenangan 5-2.

Dengan hasil tersebut Persebaya kini berada di posisi ke tiga klasemen sementara Indonesia super league dengan mengantongi poin 6 dari hasil tiga kali main dua kali menang dan sekali kalah. Sedangkan kekalahan 5-2 Bali United dari Persebaya menempatkan Bali United di papan bawah dengan hanya mengoleksi nilai 2 dari hasil tiga kali maindan dua kali seri(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Tangani KLB Campak, Gubernur Khofifah Turun Langsung ke Sumenep

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menimjau pasien anak pasien campak yang dirawat di RS Moh.Anwar Sumenep, Sabtu (23/8).

SUMENEP-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung menangani Kasus Luar Biasa (KLB) Campak yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Sabtu (23/8).

Begitu tiba, Khofifah langsung menggelar Rapat Teknis penanganan KLB Campak di Kantor Bupati Sumenep, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan dan menjenguk anak-anak penderita campak yang tengah dirawat di RS Moh. Anwar.

Khofifah juga menyaksikan langsung proses vaksinasi MR kepada sepuluh orang anak di Pendopo Kab. Sumenep. Dia didampingi Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim dan jajaran Dinas Kesehatan baik provinsi maupun Kab. Sumenep.

Khofifah memerintahkan agar penanganan KLB Campak di Sumenep harus dilakukan kerja secara terpadu dan terintegrasi oleh semua elemen, baik sektor vertikal maupun horizontal.

Gubernur Khofifah diskusi dengan tim dokter.

“Secara vertikal, Kemenkes RI dan Pemprov Jatim telah hadir langsung. Bahkan ada institusi Internasional yaitu UNICEF dan WHO. Secara horizontal, ada Bupati, Wakil Bupati, dan berbagai institusi lain, termasuk jajaran TNI/Polri,” jelasnya.

“Dari Dandim, Polres sampai dengan Babinsa Bhabinkamtibmas jadi semua harus terpadu, terintegrasi,” sambungnya.

Kerja terpadu dan terintegrasi ini diperlukan guna percepatanan penanganan KLB Campak di Kab. Sumenep. Ditambah, akan dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) atau vaksinasi Campak Rubela secara masal dan masif pada 25 Agustus – 14 September 2025 mendatang.

Sosialisasi terhadap pentingnya vaksinasi Campak Rubela diharapkan dapat dilakukan secara masif hingga lini terbawah di masyarakat. Oleh sebab itu, kerja sama semua elemen yang bersatu padu disebutnya sebagai salah satu indikator suksesnya ORI.

“Ini bekerjanya di lini paling bawah. Oleh karena itu kami mohon semua elemen bersatu padu menyampaikan pesan ini kepada masyarakat,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kab. Sumenep hingga Agustus 2025, tercatat 17 kasus meninggal akibat penyakit Campak. Dari jumlah itu 16 diantaranya terkonfirmasi tidak pernah menjalani imunisasi. Sedangkan satu lainnya tidak lengkap imunisasi.

Oleh sebab itu, kejadian tersebut diharapkannya bisa menjadi pembelajaran bersama bagi masyarakat, tokoh masyarakat hingga ulama, akan pentingnya imunisasi Campak Rubela bagi anak-anak.

“Kita ingin generasi penerus nantinya semua sehat batin dan lahirnya. Oleh karena itu rencana ORI atau vaksinasi masif dan massal di tanggal 25 besok, bersama kita menyampaikan sosialisasi dan pesan kepada masyarakat supaya memaksimalkan capaian dari vaksinasi yang akan dilakukan,” pesan Khofifah.

“Tempatnya bisa di Puskesmas, Puskesmas Pembantu hingga Posyandu,” lanjutnya.

Sebagai informasi, Pemprov Jatim telah mengirimkan 9.825 vial vaksin MR atau Measles and Rubella dari Kementerian Kesehatan ke Dinas Kesehatan Sumenep guna menyukseskan pelaksanaan ORI yang akan dimulai Senin (25/8) mendatang.

“Mari kita sampaikan pesan-pesan ini dengan suasana yang bisa diterima oleh masyarakat umum. Kita punya tugas bersama-sama memberikan layanan tercepat guna membantu proses penanganan dari kasus kasus campak yang sedang terjadi di Sumenep,” pungkasnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RS Muh. Anwar Dr. Anita mengatakan bahwa peningkatan jumlah kasus Campak di Kab. Sumenep kebanyakan diakibatkan kurangnya pengetahuan dari masyarakat tentang pentingnya pencegahan atau preventif dari Campak itu sendiri.

Karena campak itu disebabkan oleh virus maka masyarakat diharapkan bisa melakukan vaksinasi di Campak Dasar dan Campak Booster.

Untuk itu, ia mengaku senang dan berterima kasih atas kehadiran Gubernur Khofifah beserta jajaran guna percepatan penanganan KLB Campak di Sumenep. Termasuk mendukung Vaksinasi masal pada Senin (25/8) mendatang.

Kaitan kondisi terkini di RS Muh. Anwar Sumenep, tercatat enam belas orang anak pasien campak yang dipastikan kondisinya stabil. “Alhamdulillah enam belas orang anak pasien campak kondisinya sudah stabil dan Insya Allah hari ini akan ada dua orang yang dipulangkan,” ungkapnya. (Dwi Arifin)

Paradoks Demontrasi Atau Unjuk Rasa

KEMPALAN: Demonstrasi—dilihat sekilas—adalah wajah paling langsung dari aspirasi rakyat yang memuncak ke permukaan.

Ia bermula sebagai seruan keadilan, terlahir dari ketidakpuasan terhadap kebijakan diskriminatif, ketimpangan ekonomi, atau korupsi yang merajalela.

Namun demikian, paradoksnya tak bisa dihindari ketika tuntutan tertunaikan, seringkali apa yang menggantikannya bukannya pemerintahan yang adil, melainkan kekuasaan baru yang menunggangi momentum demonstrasi untuk meraih legitimasi.

Dengan kata lain, demonstrasi menjadi medan tidak hanya menuntut keadilan, tetapi juga arena perebutan kekuasaan baru—dan potensi manipulasi oleh aktor-aktor oportunis tak bisa diabaikan.

Mari kita mundur sedikit ke beberapa kasus global yang mencerminkan dinamika ini.

Dalam studi Erica Chenoweth dan Maria Stephan terhadap 323 kampanye—baik yang nonviolent maupun violent—dari tahun 1900 hingga 2006, ditemukan bahwa gerakan non-violence berhasil dalam 53% kasus, sedangkan gerakan kekerasan hanya mencapai 26% keberhasilan.

Bukan hanya itu, gerakan non-violent menarik empat kali lebih banyak partisipan dibanding yang menggunakan kekerasan, dan gerakan-gerakan tersebut cenderung membuka jalan bagi sistem pemerintahan yang lebih demokratis.

Chenoweth bahkan merumuskan “aturan 3,5 %”: ketika setidaknya 3,5 % populasi ikut kampanye non-violent secara aktif, hampir dipastikan tujuan gerakan tercapai—tentunya dengan catatan organisasi, momentum, dan kepemimpinan strategi berjalan baik.

Contoh sejarah memperkuat temuan ini. Pada Revolusi Bunga (1989) di Cekoslowakia, atau di Sudan antara 2019–2022, partisipasi besar dan gerakan non-kekerasan berhasil meruntuhkan rezim otoriter dan membuka kesempatan transisi demokrasi.

Namun, tidak semua berbuah manis di China (Tiananmen 1989) maupun Belarus tahun 2020, keamanan negara yang tetap kompak dan tindakan represif menghebatkan kegagalan demonstrasi meski terjadi dalam skala besar.

Artinya, massa saja tidak cukup tanpa dukungan atau ketidakpecahan dari sistem keamanan dan elite penguasa.
Teori sosial juga memberi kerangka penting untuk memahami siklus ini.

Sidney Tarrow menulis tentang “cycle of contention”, yaitu gelombang mobilisasi sosial—ketika struktur politik berubah dan membuka “peluang politik” sehingga protes meluas, terjadi inovasi aksi, dan interaksi intens antara pengunjuk rasa dan otoritas.

Siklus ini bisa meninggalkan sisa politik yang memicu poros mobilisasi baru—apakah itu reformasi, stagnasi, atau pembalikan kekuasaan.

Artinya, gelombang unjuk rasa bersifat dinamis pembentuk lanskap politik sekaligus arena negosiasi kekuasaan baru.

Empiris modern memperlihatkan betapa demonstrasi bisa jadi manfaat sekaligus jebakan politik.

Kasus “Million Moments for Democracy” di Republik Ceko adalah contoh bagaimana gerakan akar rumput—dengan pesan kuat, pengorganisasian rapi, dan koalisi lintas partai—mampu menumbangkan figur Trump-like pada pemilu 2021.

Steven Levitsky dari Harvard menambahkan bahwa meskipun protes massal di negara demokratis tidak langsung menggulingkan pemerintah, ia efektif “melemahkan pemerintah, membentuk opini publik, dan mengubah framing media dan wacana politik”.

Sebaliknya, di Israel tahun 2023, protes cepat terhadap rencana otoritarian Netanyahu berhasil menghentikan pengesahan UU penghapusan pengawasan pengadilan, meskipun kemudian sebagian proposal diselenggarakan lagi secara berkala, akhirnya Mahkamah Agung Israel secara diam-diam menolaknya.

Artinya, tekanan rakyat bisa menghentikan langkah-langkah transformatif rezim—meski tidak menghapus semuanya.

Namun, gelombang demonstrasi juga bisa kehilangan makna jika tidak didukung organisasi yang matang.

Deepak Bhargava altifis dan pakar strategi gerakan sosial dari Amerika Serikat, mengingatkan bahwa protes membangkitkan kepercayaan diri kolektif dan solidaritas, tetapi sendirian tak cukup melawan otoritarianisme baru.

Ia menekankan strategi tiga langkah: disruption (mengganggu normalitas), delegitimasi (mencabut legitimasi rezim), dan drawing defectors (membelokkan orang dalam struktur rezim).

Ia juga memperingatkan bahwa efektivitas gerakan protes modern menurun karena otoritarian belajar dari sejarah, berkoordinasi, dan memperkuat alat represi.

Zeynep Tufekci sosiolog, penulis dan pakar teknologi asal Turki menambahkan kritik terhadap protes yang terfasilitasi media sosial semata popularitas online tidak cukup, terutama jika tidak ada organisasional yang bisa merundingkan dan menyesuaikan taktik secara real time.

Di sisi lain, Jan-Werner Müller dalam opini Guardian (April 2025) menegaskan bahwa demonstrasi “jarang mengarah langsung ke perubahan kebijakan”, tapi “esensial untuk membangun komunitas dan kekuatan perlawanan jangka panjang”.

Demonstrasi yang dampaknya tidak cepat tetap sarana vital untuk merajut solidaritas dan mempertahankan momentum politik yang inklusif.

Jika kita hubungkan perspektif data, teori, dan peristiwa nyata, muncul pola yang repetitif: demonstrasi lahir dari ketidakadilan, direpresi atau berhasil menumbangkan rezim, lalu kekosongan kekuasaan diisi oleh aktor baru—yang menang karena menjadi wajah pergantian, bukan peningkatan kapabilitas pemerintahan.

Inilah paradoksnya ketika protes berhasil—keadilan tercapai—tapi kemudian momentum dikapitalisasi untuk kekuasaan, kadang dengan dramatis dan oportunistik.

Prosesi otoritarian yang digulingkan bisa digantikan oleh aktor baru yang tak lebih baik, hanya lebih lihai mengomunikasikan harapan dan menyerukan legitimasi.

Dalam nuansa itu, kita perlu sikap kritis yaitu Pertama protes harus diiringi strategi transisi—kemitraan dengan lembaga demokratis, observasi internasional, perencanaan pemilu yang fair.

Kedua penguatan sipil society sebagai penyeimbang kekuasaan baru harus menjadi prioritas, supaya perjuangan tidak berhenti di panggung demonstrasi.

Ketiga penyadaran bahwa 3,5 % partisipasi aktif bukan sekadar jumlah—melainkan petunjuk bahwa ketika rakyat terorganisasi dengan jelas, dengan pesan tunggal dan dukungan institusi, peluang transformasi demokrasi lebih terbuka.

Demikianlah ironi mendalam yang harus kita hadapi bahwa demonstrasi yang awalnya suara kebenaran, sering menjadi sapi perah bagi politikus ambisius.

Hanya saja bila dirawat dengan baik—dengan strategi inklusif, kelembagaan kuat, dan solidaritas berkelanjutan—ia tetap menjadi alat transformatif menuju pemerintahan yang sungguh menjawab keadilan.

Paradoks ini menuntut kita tidak sekadar berteriak di jalanan, tetapi juga membangun struktur demokrasi yang tahan banting agar suara rakyat tetap berujung pada perubahan sejati, bukan sekadar penggantian wajah kuasa.

Oleh : Bambang Eko Mei

          *****

Kemendikdasmen Komitmen Realisasikan Program Digitalisasi ke Seluruh Sekolah

Gogot Suharwoto

JAKARTA-KEMPALAN: Berangkat dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2025 tentang Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMA Unggul Garuda, dan Digitalisasi Pembelajaran, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dasmen) berkomitmen untuk melaksanakan instruksi tersebut dengan sebaik-baiknya.

Program ini dirancang untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan berbasis teknologi, sekaligus memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis digital yang menyeluruh dan inklusif.

Pemerataan kualitas pendidikan berbasis teknologi itu disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri peringatan Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 2025 di SDN Cimpahpar 5, Bogor, Jawa Barat.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan keinginannya untuk  menyediakan layar televisi di seluruh sekolah Indonesia.

“Saya ingin ada digitalisasi sekolah-sekolah. Kita akan taruh layar-layar televisi di setiap sekolah kita. Di situ kita bisa memberi materi pelajaran yang terbaik, dan ini bisa bermanfaat untuk sekolah-sekolah, apalagi di daerah terpencil, daerah tertinggal, daerah terluar, ataupun di daerah-daerah kota yang mengalami kesulitan mendapat bahan atau guru yang ahli di bidang-bidang tertentu,” kata Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo Subianto juga menargetkan dalam satu tahun ke depan, seluruh sekolah di Indonesia mempunyai layar televisi atau Interactive Flat Panel (IFP) untuk pembelajaran digital. Dengan demikian, hal ini akan membantu sekolah-sekolah, terutama di daerah terpencil, mendapatkan materi belajar yang berkualitas.

Dalam pelaksanaannya, digitalisasi pembelajaran dikuatkan dengan penyediaan perangkat media seperti IFP, laptop, media penyimpanan konten pembelajaran (external HDD), dan lainnya.

Tahun ini, sekolah sasaran yang akan menerima perangkat media yang telah terinstall konten pembelajaran sebanyak 288.865 sekolah, dan hingga bulan Agustus ini sudah berlangsung pengiriman untuk tahap 1.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto mengatakan bahwa digitalisasi pembelajaran yang berangkat dari Instruksi Presiden merupakan media untuk membangun ekosistem digital classroom dan pembelajaran berbasis teknologi yang sesuai dengan tuntutan zaman.

“Sekolah-sekolah yang menerima IFP juga kita latih dalam bentuk bimbingan teknis agar optimal dalam penggunaan fitur-fitur yang ada,” kata Dirjen Gogot, Sabtu (23/08).

Sesuai rencana, tambah Dirjen Gogot, perangkat media itu akan dikirim ke sekolah sasaran di seluruh Indonesia.

Kemendikdasmen berkomitmen melaksanakan Inpres tersebut, merealisasikan program ini sebaik-baiknya dengan menyalurkan IFP ke seluruh sekolah baik negeri maupun swasta.

“Selain proses pengiriman tahap 1 sedang berlangsung, kami juga terus melakukan konfirmasi kepada sekolah sekolah penerima terkait kesiapan mereka sebelum dilakukan pengiriman. Sehingga program digitalisasi ini tepat sasaran dan benar benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pendidikan,” ujar Gogot.

Terakhir, Gogot mengajak masyarakat bersama sama-sama mengawal program ini untuk  tepat sasaran, demi mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.(Dwi Arifin)

Diplomasi Malaysia di Ambalat

M.Rohanudin

KEMPALAN: Sengketa Ambalat antara Indonesia dan Malaysia kembali memanas, membangkitkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di perbatasan laut kedua negara yang rapuh. Api persengketaan ini terus menyala, menghanguskan harapan akan perdamaian dan kerja sama bilateral.

‎Ambalat menjadi ajang pertarungan sengit antara dua negara tetangga ini karena wilayah tersebut diyakini menyimpan harta karun berupa cadangan minyak dan gas bumi  melimpah.

‎Di jantung perairan Laut Sulawesi, Blok Ambalat terbentang luas, menyimpan potensi besar sumber daya alam yang melimpah, dengan cadangan minyak 62 juta barel dan gas alam 348 juta meter kubik.

‎Dalam gebrakan terbaru, kedua negara sepakat menggelar pertemuan darurat tingkat tinggi, sebuah langkah diplomatis yang penuh harapan untuk meredakan tensi dan menemukan solusi damai atas sengketa yang telah berlangsung selama lebih dari 56 tahun. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi kedua negara untuk menemukan titik temu dan mengakhiri sengketa yang telah berlangsung lama.

‎Namun, perbedaan klaim kedaulatan atas wilayah ini masih menjadi tantangan besar.

‎Indonesia berpijak pada Perjanjian Tapal Batas Landas Kontinen 1969 dan UNCLOS 1982, landasan hukum yang kokoh.  Sementara Malaysia mengklaim wilayah tersebut berdasarkan peta nasional yang diterbitkan pada 1979, sebuah narasi yang berbeda. Kedua negara harus bekerja sama untuk menemukan solusi yang adil dan damai, demi kepentingan bersama dan stabilitas regional.

‎TNI tidak gentar dengan ancaman yang datang dari Malaysia. Patroli udara yang dilakukan secara intensif menunjukkan kehadiran Indonesia di wilayah perbatasan.

‎Indonesia telah membangun mercusuar di Karang Unarang, Ambalat. Langkah ini menunjukkan ketegasan Indonesia dalam mempertahankan klaimnya atas
‎Blok Ambalat.

‎Pelajaran dari Sengketa Ligitan dan Sipadan betapa pentingnya Kecepatan dan Ketegasan dalam Menjaga Kedaulatan.  Akhirnya Mahkamah Internasional (MI) memutuskan bahwa Ligitan dan Sipadan milik Malaysia pada tahun 2002. Salah satu faktor kunci yang mempengaruhi keputusan MI adalah kecepatan Malaysia dalam membangun mercusuar di Ligitan dan Sipadan.

Politik Radio Siaran Malysia

Malaysia tidak main-main dalam upayanya mengancam kedaulatan Indonesia.

‎Mereka menggunakan siasat diplomasi politik radio siaran sebagai alat gempur infiltrasi negaranya.

‎Siaran radio dalam bahasa Indonesia dengan gelombang pendek (short wave) menjadi salah satu strategi mereka.

‎Memutar lagu Indonesia, musik dangdut sampai ke irama keroncong. Karakter siarannya juga  berlogat bahasa Indonesia, tidak dengan style Malaysia.

‎Meskipun terlihat sederhana, siaran radio ini dapat menjadi ancaman serius bagi kedaulatan negara.

‎China menjadi panutan Malaysia dalam hal ini. China Radio International (CRI) telah memasang jala-jala udara dengan lebih dari 60 bahasa siaran luar negeri yang mencakar ke seluruh negara di dunia.

‎Dengan kekuatan ratusan kilo watt, China dapat mengglorifikasi siaran mereka ke seantero dunia.

‎Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana dengan Radio Republik Indonesia (RRI)? Apakah kita hanya akan menjadi penonton, sementara negara lain berlomba-lomba memperluas pengaruhnya?

Keterbatasan VOI dalam Diplomasi Siaran Internasional

‎Sejak pemerintah menarik 42 hektar tanah di Cimanggis, Siaran Luar Negeri Voice Of Indonesia (VOI) RRI mengalami lumpuh  signifikan dalam diplomasi siaran internasional.

‎VOI kini hanya bersiaran di dua gelombang Short Wave yang tidak populer di ranah gelombang pendek.

‎Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya infrastruktur yang tidak berfungsi optimal, seperti antene yang berdiri tegak tanpa pemancar di frekuensi 95750 KHz
‎sehingga tidak dapat mengudara.

‎Keterbatasan ini mempengaruhi kemampuan VOI dalam menjangkau dan mempengaruhi opini publik internasional, serta mengurangi efektivitas diplomasi siaran Indonesia dalam konteks global.

‎Jangan hanya sekadar hadir tanpa energi dan perjuangan. RRI lahir dari darah perjuangan. Jika negara tidak hadir , maka representasi kehadiran negara adalah RRI. (*)


ESAI
‎M.Rohanudin
‎Direktur Utama RRI 2016 – 2021
‎Dewan Pengawas RRI 2021 – 2026.

Pemkot Surabaya-KONI Gelar Kejuaraan Multi Event, Diikuti 6 Cabor

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat membuka Kejuaraan Multi Event Piala Wali Kota 2025 di Halaman Balai Kota, Jumat (22/8) malam. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com).

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Surabaya menyelenggarakan Kejuaraan Multi Event Piala Wali Kota 2025. Kejuaraan Multi Event Piala Wali Kota Surabaya ini diselenggarakan pada 23 Agustus – 27 September 2025 di Kota Surabaya.

Kejuaraan ini dibuka oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi secara simbolis di halaman Balai Kota, Jumat (22/8) malam.
Pembukaan  dihadiri Ketua KONI Surabaya Hoslih Abdullah dan Ketua Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Surabaya Rini Indriyani.

Selain itu, hadir juga enam ketua cabang olahraga (cabor) yang ikut dalam kejuaraan tersebut, yakni cabor bulu tangkis, basket, esport, voli, panjat tebing, dan panahan.

Wali Kota Eri Cahyadi menyalakan obor sebagai tanda dimulainya Kejuaraan Multi Event Piala Wali Kota Surabaya 2025.

“Alhamdulillah, pada tahun 2027 nanti Surabaya ini akan menjadi tuan rumah untuk Porprov. Kalau kemarin kita mendapatkan 198 (medali) emas, Ketua Koni menargetkan Kota Surabaya meraih 250 di 2027,” kata Eri Cahyadi dengan antusias.

Dalam kesempatan ini, Eri turut menyemangati para atlet yang hadir di pembukaan Kejuaraan Multi Event Piala Wali Kota 2025. Dirinya yakin, di bawah kepemimpinan Ketua KONI Hoslih Abdullah, Kota Surabaya dapat memborong 250 medali emas pada saat Porprov 2027 mendatang.

“Karena saya yakin, Porprov ini adalah tempat atlet-atlet Surabaya berprestasi dan mengeluarkan bakatnya,” ujarnya.

Wali Kota Surabaya yang akrab disapa Cak Eri Cahyadi itu juga menyampaikan, Kejuaraan Multi Event Piala Wali Kota akan digelar setiap tahun. Menurut Cak Eri, diselenggarakannya kegiatan ini bukan sekadar untuk mengasah keterampilan, akan tetapi juga untuk meningkatkan bakat minat olahraga anak muda Kota Surabaya. 

Pembukaan Kejuaraan Multi Event Piala Wali Kota Surabaya 2025.

“Setiap tahun akan kita adakan ini, sehingga apa? Porprov yang diselenggarakan setiap dua tahun tapi (Surabaya) setiap tahun ada kegiatan cabang-cabang olahraga ini. Sementara ada enam cabor, insya Allah di tahun depan setiap cabor akan kita adakan,” sebut Cak Eri. 

Cak Eri berharap, diselenggarakannya kegiatan ini atlet-atlet berbakat Kota Surabaya tidak hanya diam ketika menunggu kegiatan Porprov Jatim, akan tetapi juga akan terus berlatih. Dengan begitu, lanjut Cak Eri, atlet-atlet Kota Surabaya akan semakin terasah bakatnya. Selain itu, juga sebagai pendukung Surabaya sebagai kota olahraga atau sport tourism. 

Cak Eri menambahkan, adanya kegiatan ini Pemkot Surabaya akan menyiapkan fasilitas untuk tempat latihan berbagai cabor ke depannya.

“Insya Allah di tahun ini dan 2026 nanti, semua cabor memiliki tempat untuk latihan. Walaupun kami belum bisa menyiapkan, kami akan menyewa tempat itu untuk digunakan cabor-cabor, karena memang ini harus dikuatkan sebagai pendukung Surabaya kota olahraga dan sport tourism,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Eduardo Perez : Tak Ingin Kecewakan Bonek, Bali United Tak Ciut Nyali 

SURABAYA -KEMPALAN: Arek-arek green force Persebaya Surabaya berjanji tak ingin kecewakan pendukung setianya saat menjamu Bali United di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya pada Sabtu ( 23/8) malam. 

Modal kuat kini di miliki Bruno Moreira dkk usai sukses uji nyali di kandang Persita Tangerang dengan kemenangan 0-1. Mental tanding para pemain Persebaya sedikit terangkat Meski belum sepenuhnya memuaskan semua pihak termasuk para Bonekmania.

Kini, Bruno Moreira dkk kembali menghadapi tantangan jauh lebih sulit ketimbang tim promosi PSIM Yogyakarta. Bali United yang akan di hadapi pada Sabtu malam (23/08) bukanlah tim sembarangan. Selain materi pemain yang bagus, Bali United selalu bernyali tinggi kala berhadapan dengan Persebaya Surabaya. Bahkan Bali United selalu bisa mengatasi angkernya kandang Persebaya Stadion Gelora Bung Tomo.

Head  coach Persebaya Eduardo Perez pun tak menampik kalau tim Bali United adalah tim besar dan kuat. Meski demikian pelatih asal Spanyol itu tak ciut nyalinya. Bahkan Perez berujar tidak akan mengecewakan Bonekmania lagi.

” Saya tak memikirkan rekor pertemuan dengan Bali United. Kami fokus mempersiapkan diri secara kolektifitas demi memenuhi janji. Ucap Eduardo Perez di sesi konferensi pers sebelum official traning di stadion Gelora Bung Tomo Surabaya.

sembilan pemain asing yang di impor dari CONCACAF, CONMEBOL, AFC dan UEFA seperti, Dejan Tumbas ( Serbia), Paulo Domingos Gali Da Costa Freitas (Timor Leste) Bruno Moreira, Leo Lelis(Brazil) Fransisco Rivera(Mexico), Risto Mitrevski, Dime Dimov (Makedonia Utara), Milos Raikovic, Mihailo Perovic(Montenegro) plus pemain lokal kualitas nasional Ernando Ari Sutaryadi, Rahmat Irianto, Tony Firmansyah, Ichlas Baihaqi dan Malik Risaldi menjadi garansi Eduardo Perez untuk memuaskan pendukung fanatik mereka yang akan memadati Stadion Gelora Bung Tomo (GBT)Surabaya.

Sang arsitek asal Spanyol ini optimistis dengan komposisi tim yang sangat ideal plus persiapan matang usai melakoni laga tandang di Tangerang, Bruno Moreira dkk bisa mengatasi Bali United.

Eduardo Perez  secara tekun mengotak-atik komposisi tim agar gaya permainan Bruno Moreira tidak hanya sekedar bermain cantik tapi juga sebagai tim yang produktif dalam urusan mencetak gol.

“Saya percaya dengan apa yang saya lakukan selama persiapan. Seluruh pemain siap di tampilkan sepanjang kompetisi,” ucapnya singkat saat pre macth press conference (22/8) di ruang media stadion Gelora Bung Tomo Surabaya.

Di singgung calon lawannya yakni ,Bali United, Perez tak serta-merta memandang Bali United sebagai penghambat bagi timnya untuk.meraih kemenangan.  Tapi Perez lebih melihat karena tim asal Pulau Dewata Bali ini punya semangat tinggi dengan materi yang hampir sama.

Sementara itu tim tamu Bali United datang ke kandang Persebaya tak ciut nyali. Bali United punya modal besar untuk menyulitkan Bruno Moreira dkk memerkan kekuatan berlebih. 

Ricky Fajrin, dan Irfan Jaya yang pernah bermain untuk Persebaya tentu sedikit banyak mengetahui kelebihan dan kekurangan Persebaya. Dan ini yang akan di manfaatkan Bali United untuk beraksi memenuhi janji meraih kemenangan (Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Hadapi KLB Campak, Gubernur Khofifah Kirim 9.825 Vaksin ke Sumenep

SURABAYA-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa gerak cepat menghadapi peningkatan penyebaran penyakit campak yang terjadi di Kabupaten Sumenep.

Pasalnya, berdasarkan data per 21 Agustus 2025 – 17 Agustus 2025, kasus suspek campak telah mencapai 2035 kasus  dan 17 meninggal. Kasus campak ini tersebar di 26  kecamatan. Penyebaran campak di Sumenep ini bahkan juga sudah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Terkait hal ini, Gubernur Khofifah telah mengirimkan 9.825 botol vaksin MR atau Measles and Rubella dari Kementerian Kesehatan ke Dinas Kesehatan Sumenep.

“KLB Campak yang terjadi di Sumenep menjadi perhatian kita bersama. Kami sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumenep dan Dinas Kesehatan Jatim serta dengan Kemenkes,” tegas Khofifah, Jumat (22/8).

“Dari koordinasi itu alhamdulillah kita sudah kirimkan vaksin MR untuk campak sebanyak 9.825 botol ke Sumenep sebagai Outbreak Response Imunization atau ORI,” katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memberikan on the job training (OJT) pembuatan kajian epidemiologi KLB PD3I ke seluruh puskesmas di Kab. Sumenep sebagai upaya penanggulangan.

Selain itu, pemprov menggelar pertemuan koordinasi lintas batas Madura Raya dan Surabaya Raya dengan output berupa dokumen kesepakatan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).

“Jadi penting juga melibatkan Surabaya Raya untuk mencegah campak ini  agar tidak menyebar ke daerah lain. Dan bersamaan dengan pengamanan ini kita juga langsung bergerak cepat memasifkan imunisasi terutama anak-anak,” kata Khofifah.

Bersinergi dengan Kementerian Kesehatan RI, Pemprov Jatim juga melakukan rapat koordinasi terbatas bersama Komite Ahli Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (Komli PD3I) Indonesia, WHO, dan Dinkes Sumenep untuk membahas KLB campak serta rekomendasi penaggulangannya.

“Secepatnya akan kami lakukan Outbreak Response Imunization atau ORI. Berdasarkan kajian epidemiologi sampai dengan 14 Agustus 2025 lalu, maka ORI campak akan dilakukan di 26  wilayah puskesmas di Sumenep untuk mencegah transmisinya,” ungkapnya.

Sasaran ORI sendiri merupakan anak-anak berusia 9 bulan hingga 6 tahun. Tindakan ini akan dilaksanakan serentak mulai tanggal 25 Agustus sampai 14 September mendatang.

Khofifah memastikan, ORI dilakukan dengan pemberian 1 dosis MR tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. Setelah ORI selesai, barulah akan dilakukan imunisasi kejar pada anak-anak yang belum lengkap imunisasi campak sesuai usia untuk peningkatan kekebalan.

Demi kesuksesan ORI, Khofifah telah melakukan koordinasi dengan mitra potensial terkait pendampingan dan kunjungan kepada sasaran yang menolak imunisasi. Tak hanya itu, dilakukan pula surveilans aktif RS (SARS) dan Hospital Rreord Review (HRR) di RSUD Dr. H. Moh. Anwar, RSI Garam Kalianget, serta RSU Sumekar.

“Saya juga meminta kepada masyarakat untuk aktif mendorong awareness terkait gejala, komplikasi, dan pencegahan campak dengan imunisasi. Intinya target pelaksanaan ORI ini minimal 95 persen agar anak-anak terlindungi dan nantinya membentuk herd immunity,” pungkasnya.

Sebagai informasi, campak merupakan penyakit yang disebabkan virus campak yang menular malalui percikan ludah saat batuk atau bersin. Penyakit campak memiliki penularan tinggi dengan laju reproduksi (R0) 17-18, yang artinya satu kasus campak positif akan menularkan ke 17-18 orang sekitarnya.

Karenanya,p Khofifah meminta masyarakat untuk ikut serta mewaspadai campak dan mengambil langkah-langkah preventif. Yakni menerapkan Pola atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan protokol kesehatan, serta imunisasi campak rubela sesuai usia.

“Kalau sekiranya memang sudah ada gejala campak, bisa dilakukan isolasi mandiri bagi kasus ringan selama 7 hari. Kalau sudah berat, harus segera dibawa ke rumah sakit. Kemudian jauhkan pasien dari orang-orang yang sekiranya punya kekebalan tubuh lemah. Jangan lupa mengonsumsi vitamin A,” pesannya.

“Insya Allah malam ini juga saya akan ke Sumenep untuk cek langsung. Mudah-mudahan upaya kita dimudahkan, dan masyarakat Jawa Timur senantiasa diberi kesehatan. Amin,” harapnya.  (Dwi Arifin)

Pemkot Surabaya Bakal Tertibkan “Supeltas” atau “Polisi Cepek”

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya segera melakukan penertiban sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas) atau “Polisi Cepek” di Kota Pahlawan. Tujuan penertiban ini adalah untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pengendara di seluruh ruas jalan Kota Pahlawan. 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pemkot melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya akan segera menertibkan supeltas. Penertiban supeltas merupakan bagian dari rencana penertiban penertiban parkir liar di Kota Surabaya. 

“Ini memang sudah kita mulai sebenarnya dengan Dishub untuk memetakan (supeltas) yang ada di titik-titik itu. Karena saya juga merasakan, waktu mau belok (putar balik) malah tambah macet,” kata Wali Kota Eri Cahyadi, Jumat (22/8).

Wali Kota Eri menyampaikan, dalam waktu dekat ia meminta Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dishub Trio Wahyu Bowo untuk memanggil seluruh supeltas yang ada di Kota Surabaya. Dirinya ingin, seluruh supeltas itu untuk didata, dan akan diberi intervensi pekerjaan yang lebih layak. 

“Kalau itu (supeltas) orang Surabaya, kasih pekerjaan yang layak. Kan kami punya Padat Karya, jadi kita akan tarik ke situ, kita sosialisasi itu dan sekarang sudah mulai berjalan,” ujarnya.

Tidak hanya mengganggu kelancaran lalu lintas, Wali Kota Surabaya yang akrab disapa Cak Eri Cahyadi itu juga khawatir dengan warganya yang setiap harinya bekerja sebagai supeltas. Menurutnya, penghasilan sebagai supeltas tidak mencukupi bila digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

“Kadang saya juga miris, kenapa wargaku ada yang seperti itu, lalu hidupnya bagaimana? Pendapatannya berapa? Disamping itu, juga mengganggu orang lain, kadang ada (yang meminta uang) kemudian orang itu tidak terima, lalu tambah macet,” sebut Cak Eri. 

Dia menegaskan, saat ini bersama Dishub Surabaya segera melakukan sosialisasi. Selain itu, ia berharap, ada peran serta masyarakat untuk menyampaikan kepada pemkot jika masih menemui supeltas atau parkir liar di Surabaya. 

Dirinya menambahkan, fenomena supeltas dan parkir liar masih menjadi konsen utama pemkot dalam melakukan penataan Kota Surabaya yang lebih baik ke depannya. “Karena memang kami konsentrasinya ke sana (supeltas dan parkir liar),” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.