Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 20:15 WIB
Surabaya
--°C

Buku Discover Disaster Karya Lely Yuana Diluncurkan, Bukan Sekadar Arsip Kebencanaan

Lely Yuana dengan buku karyanya yang berjudul Discover Disaster: The Chief Series Khofifah Indar Parawansa.

SURABAYA-KEMPALAN:  Buku berjudul Discover Disaster: The Chief Series Khofifah Indar Parawansa karya jurnalis Lely Yuana resmi diluncurkan di Pala Ballroom Surabaya Suite Hotel, Senin (25/8) malam. Buku ini menandai upaya dokumentatif sekaligus reflektif terhadap dinamika penanggulangan bencana di Jawa Timur selama periode 2019–2024.

Dengan tebal 176 halaman, buku ini menyajikan catatan lapangan, kronologi bencana, hingga strategi pemulihan yang ditempuh pemerintah provinsi. Tidak sekadar mendokumentasikan, karya ini juga menghadirkan perspektif jurnalisme positif yang berupaya membangun optimisme masyarakat ketika menghadapi musibah.

“Bencana itu pasti berlalu. Narasi yang membangun semangat masyarakat menjadi penting, agar mereka tidak terjebak dalam rasa putus asa,” kata Khoirul Anwar, Chief Executive Officer TIMES Indonesia Network (TIN), dalam sambutannya.

Kilas Balik Lima Tahun Bencana

Isu kebencanaan di Jawa Timur bukanlah hal asing. Dengan karakter geografis yang kompleks, provinsi ini kerap dijadikan rujukan nasional sebagai “etalase bencana”. Dari kebakaran hutan dan lahan, pandemi Covid-19, banjir bandang, hingga letusan gunung berapi, seluruhnya tercatat dalam buku ini dengan pendekatan kronologis.

Selain menyoroti strategi mitigasi, penulis juga menggambarkan kerja sama lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, aparat penanggulangan bencana, akademisi, relawan, dan media. Pendekatan pentahelix tersebut menjadi kunci dalam memperkuat ketangguhan masyarakat.

“Buku ini penting, bukan hanya sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai referensi praktis. Bagi kami di BPBD, pengalaman Jawa Timur dapat menjadi acuan berharga untuk memperkuat respons cepat dan koordinasi,” kata Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto.

Figur Kepemimpinan dalam Krisis
Yang menarik, dalam buku ini Lely Yuana tidak hanya menyajikan data dan dokumentasi lapangan. Ia juga menekankan peran kepemimpinan dalam setiap momen krisis. Sosok Gubernur Khofifah Indar Parawansa hadir sebagai figur yang menenangkan sekaligus memberi arahan cepat.

“Ketika Covid-19 melanda, keputusan-keputusan strategis yang diambil pada saat genting menjadi penentu. Begitu pula saat penyakit mulut dan kuku menyerang hewan ternak, langkah mitigasi dilakukan secara terstruktur,” tulis Lely dalam pengantarnya.

Bagi Khoirul Anwar, catatan tersebut sejalan dengan konsep jurnalisme solusi. Media tidak hanya berfungsi menyampaikan fakta, tetapi juga menghadirkan narasi konstruktif. “Kalimat yang baik, konstruktif, dan membangkitkan optimisme adalah bagian dari ikhtiar membantu masyarakat keluar dari keterpurukan,” ujarnya.

Bukan Sekadar Arsip Peristiwa
Discover Disaster bukan sekadar arsip peristiwa. Buku ini memuat refleksi tentang makna kebersamaan menghadapi krisis. Dalam setiap bab, pembaca akan menemukan bagaimana masyarakat tidak hanya menjadi korban, melainkan juga aktor penting dalam proses pemulihan.

Kekuatan gotong royong dan solidaritas sipil ditampilkan sebagai pelengkap kebijakan pemerintah. Kehadiran akademisi yang memberi basis data, peran media dalam menyebarkan informasi, hingga dedikasi relawan di garis depan, menjadi mosaik penanggulangan bencana yang khas di Jawa Timur.

“Buku ini lahir dari keinginan agar masyarakat belajar, bahwa setiap bencana membawa pelajaran penting. Dan pelajaran itu bukan hanya untuk mereka yang mengalaminya, tetapi juga untuk generasi berikutnya,” jelas Lely Yuana.

Referensi Lintas Daerah
Peluncuran buku ini dihadiri kalangan jurnalis, akademisi, relawan kebencanaan, hingga pejabat daerah. Kehadiran mereka diharapkan memperkaya literasi kebencanaan di Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya catatan publik yang bisa menjadi referensi lintas daerah.

Dalam konteks yang lebih luas, Discover Disaster mengingatkan bahwa bencana tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan. Kecepatan pengambilan keputusan, koordinasi yang solid, serta narasi optimisme menjadi tiga pilar penting yang ditonjolkan.
“Semoga buku ini dapat menjadi inspirasi nasional. Karena pada akhirnya, bencana adalah tentang bagaimana kita bersatu, bertahan, dan bangkit kembali,” pungkas Gatot. (Dwi Arifin)

Pantau Distribusi Beras Medium SPHP di Pasar Soponyono, Ini Komentar Khofifah

Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat memantau distribusi dan penjulan beras medium SPHP di Pasar Soponyono, Senin (28/8). (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com).

SURABAYA-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memantau distribusi dan penjualan beras medium program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Pasar Soponyono, Kecamatan Rungkut, Surabaya, Senin (25/8).

Khofifah menyebut kebutuhan beras medium SPHP di masyarakat sangat tinggi, namun suplai beras tersebut tidak datang tiap hari di Pasar Soponyono.

“Mereka bilang lebih banyak membeli medium. Berarti SPHP itu memang kebutuhan yang sangat tinggi,” kata Khofifah kepada awak media.

Menurut Khofifah, ketersediaan beras medium SPHP di Pasar Soponyono pada Agustus ini tidak merata di semua toko.  Hanya penjual yang terdaftar dalam program SPHP lancar mendapat suplai beras.

“Tidak semua sama, yang bisa mengisi aplikasi mereka bisa lebih lancar. Tapi yang kebutuhannya tidak sebesar seperti yang
dibutuhkan pada saat dia harus mengisi aplikasi Itu yang memang masih ada masalah,” jelasnya.

“Kan tidak boleh mereka merangkap distributor. Jadi ada toko yang sekali dia bisa mengakses sampai 2 ton. Tapi ada yang kebutuhan hariannya hanya 20 pack, 20 pack kali 5 kilogram,” tegasnya.

Kendati demikian, harga beras medium SPHP di Pasar Soponyono masih dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp63.000 per lima kilogram. Artinya, ini menandakan bahwa stok beras masih mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Tidak, tidak di atas HET. Jadi yang tadi itu Rp63.000 (per lima kilogram),” terang gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.

Namun, Khofifah menyebut kondisi ini masih bisa berpotensi menimbulkan kelangkaan apabila distribusi beras medium SPHP tidak merata di sejumlah pasar.
Untuk itu Khofifah berharap kepada Bulog supaya terus mendistribusikan beras medium SPHP lebih lancar untuk menjangkau seluruh pasar dan menjaga stok di masyarakat.

“Yang tentu kita berharap bahwa Bulog bersama Bapanas Badan Pangan Nasional bisa terus mendistribusikan dengan lebih lancar lagi, lebih merata lagi, lebih menjangkau lagi kira-kira gitu,” pungkasnya..(Dwi Arifin)

Ojol Jatim Tolak Demo, Nyatakan Dukungan untuk Khofifah

Ojol Jatim menyatakan dukungannya kepada Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan menolak untuk demo.

SURABAYA-KEMPALAN: Di tengah maraknya aksi demonstrasi yang digelar oleh segelintir kelompok dengan berbagai tuntutan politik, justru mayoritas masyarakat Jawa Timur memilih sikap berbeda. Alih-alih ikut turun ke jalan, mereka menyuarakan gerakan “Jatim Fokus Kerja” sebagai bentuk dukungan terhadap Gubernur Khofifah Indar Parawansa.

Dukungan ini muncul secara organik dari berbagai kalangan. Salah satunya komunitas ojek online (ojol). Mereka menilai, stabilitas daerah jauh lebih penting ketimbang aksi-aksi jalanan yang dinilai tidak produktif.

Rochmad, salah satu koordinator komunitas ojol di Surabaya, menegaskan bahwa banyak aspirasi dalam demonstrasi justru tidak realistis. “Tuntutan seperti penurunan pajak itu tidak masuk akal. Itu kewenangan negara, bukan bisa seenaknya diturunkan hanya karena desakan massa. Yang ada justru mengacaukan sistem,” ujarnya, Minggu (24/8).

Menurutnya, masyarakat kecil seperti pengemudi ojol lebih memilih bekerja keras dan mencari rezeki halal ketimbang larut dalam agenda politik yang sarat kepentingan.

“Kami sudah kenyang lihat demo yang ujung-ujungnya hanya jadi panggung segelintir orang. Yang jelas-jelas bermanfaat itu ya bekerja,” tambahnya.

Dukungan warga tidak datang tanpa alasan. Sejumlah capaian yang diraih Gubernur Khofifah dinilai memberi dampak langsung, mulai dari penguatan ekonomi daerah, pembangunan infrastruktur hingga kerja sama strategis dengan pemerintah pusat.

Fahrudin, tokoh masyarakat yang juga ikut dalam deklarasi “Jatim Fokus Kerja”, menyebut gerakan ini bukan sekadar simbol. “Ini bentuk kedewasaan masyarakat Jawa Timur. Kita ingin daerah ini stabil, ekonomi jalan, pembangunan berlanjut. Jangan sampai terpecah hanya karena agenda politik jangka pendek,” tegasnya.

Nada serupa disampaikan Rohmatin, salah satu pengemudi ojol perempuan. Ia menilai tuntutan demo tidak memiliki manfaat nyata bagi rakyat kecil.

“Kalau soal pajak, itu ada aturannya. Gubernur jelas tidak bisa asal bikin kebijakan. Jadi jangan dipaksa untuk kepentingan pribadi segelintir orang,” katanya.

Rohmatin menegaskan dirinya dan rekan-rekannya akan tetap memilih jalan kerja keras. “Kami gak akan ikut-ikut demo. Gak penting demo, yang penting kerja halal, bisa bawa pulang rezeki untuk keluarga. Itu jauh lebih nyata,” ucapnya dalam logat Jawa Timuran.

Gerakan “Jatim Fokus Kerja” kini berkembang sebagai bentuk perlawanan diam-diam terhadap politisasi isu di jalanan. Dukungan ini sekaligus menjadi pesan bahwa masyarakat Jawa Timur lebih peduli pada kesinambungan pembangunan ketimbang larut dalam kegaduhan politik.

“Selama kepemimpinan Khofifah berjalan sesuai aturan, masyarakat akan terus mendukung. Yang penting daerah ini aman, tenteram, dan rakyat bisa bekerja,” tutup Rochmad. (Dwi Arifin)

Mengenalkan Wayang pada Anak, Menumbuhkan Cinta Seni Tradisi‎

KEMPALAN: Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Seni Budaya Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Komunitas ASRI menggelar workshop dan pementasan wayang di Punden Sentono, Kedamean, Minggu (24/8/2025). Acara ini menyasar anak-anak usia 4–10 tahun untuk menumbuhkan kembali apresiasi terhadap seni wayang kulit, warisan budaya yang kini kian jarang disaksikan generasi muda.

‎Kegiatan dibuka dengan workshop membuat wayang dari limbah kardus dan plastik. Selain melatih kreativitas, aktivitas ini juga menjadi sarana edukasi lingkungan. “Dengan seni, pesan pengelolaan limbah lebih mudah diterima anak-anak, sambil mengenal budaya tradisi,” kata Ketua Tim PkM Unesa, Wening Hesti Nawa Ruci.

‎Puncak acara adalah pementasan wayang oleh dalang Ki Joe dari Komunitas ASRI. Wayang buatan anak-anak turut dimainkan dengan iringan musik sederhana yang menggantikan gamelan. “Banyak anak belum pernah menonton wayang langsung. Kegiatan ini bisa jadi awal kebangkitan seni tradisi lokal,” ujar Ketua Komunitas ASRI, Nafisah Fajar.

‎Pemilihan lokasi di Punden Sentono juga sarat makna. Punden dalam budaya Jawa adalah tempat suci yang terkait dengan leluhur atau cikal bakal desa. Menjadikannya sebagai ruang pertunjukan memberi anak-anak pemahaman baru, bahwa punden bukan sekadar tempat angker melainkan bagian penting dari budaya yang perlu dihormati.

‎Lebih dari sekadar kegiatan seni, program ini menyatukan dua warisan penting yakni wayang sebagai mahakarya budaya bangsa dan punden sebagai simbol akar spiritual masyarakat Jawa.

‎Keduanya menjadi media untuk menanamkan rasa cinta budaya, kebersamaan dan penghormatan pada leluhur. Sekaligus memperkuat jati diri nasional di tengah derasnya arus modernisasi.

Rokimdakas
‎24 Agustus 2025

Ini Cara Warga Jepang Ikut Rayakan HUT RI ke 80 dengan Bermain Sepakbola 

SURABAYA -KEMPALAN: Komunitas warga Jepang yang ada di Jawa Timur khususnya di Surabaya dan sekitarnya punya cara tersendiri dalam ikut mensukseskan dan meramaikan perayaan momen spesial HUT RI ke 80 dengan bermain sepakbola.  Para warga negara Jepang yang ada di Indonesia khususnya di Surabaya dan sekitarnya dan dari berbagai status keahlian mulai dari akademisi , pengusaha hingga pekerja biasa ini sengaja mengajak salah satu klub sepak bola Bintang Putra Sidoarjo untuk bermain sepakbola. 

Mereka sengaja mengambil momen spesial  HUT RI ke 80 ini karena Sepakbola adalah sebagai alat  untuk menjalin persaudaraan baik antar negara maupun sesama masyarakat. 

Momen spesial ini di gelar pada Minggu 24 Agustus di lapangan sepakbola sekolah internasional Surabaya Intercultural School di kawasan elite Citra Land, Surabaya

.

Jun Hirata salah satu pemain sekaligus koordinator warga Jepang di Surabaya mengatakan laga ujicoba dengan klub atau pemain lokal di Jawa Timur ini adalah salah satu bentuk penghormatan kepada masyarakat Indonesia yang tengah merayakan HUT RI ke 80. Jadi tidak ada salahnya jika kita (warga Jepang) yang ada disini ikut merayakan dengan cara berbeda. Apalagi sepakbola di gemari masyarkat di dunia termasuk Jepang dan Indonesia.

” Ya dengan cara begini Saya dan kawan kawan menghormati bangsa Indonesia yang tengah merayakan HUT yang ke 80. Selain bisa menjaga kebugaran tubuh, juga bisa untuk menjalin persaudaraan antar sesama,” ucap Jun Hirata di sela-sela pertandingan ujicoba.(24/08).

Lebih lanjut pria yang sudah 25 tahun mencari nafkah di Indonesia ini mengatakan, kegiatan semacam ini bukan pertama kali mereka lakukan, bahkan hampir setiap tahun mereka ikut menikmati dan ikut perayaan dengan cara yang berbeda pula. Tapi untuk tahun 2025 ini serasa spesial karena  Indonesia tengah gencar-gencarnya membangun sepakbola modern agar bisa bersaing dengan negara-negara di dunia.

” Ia melihat sepakbola di Indonesia khususnya di Surabaya sudah cukup bagus. Jadi ia mengambil momentum tersebut untuk terus bisa menjalin silaturahmi antar sesama ummat manusia di dunia,” terang Jun Hirata 

Sementara itu pihak Bintang Putra Sidoarjo juga mengaku bangga dan terkejut dengan adanya undangan khusus dari komunitas warga Jepang yang mengajak bermain sepakbola. 

” Saya sempat gak percaya kalau ada warga Jepang yang ada di Surabaya dan sekitarnya punya komunitas olahraga sepakbola. Apalagi waktu pertama kali ia dihubungi dari salah seorang warga Jepang yang posisinya ada  Jepang untuk di ajak bermain sepakbola,”  ujar Ibnu Hambal pembinaan klub Bintang Putra Sidoarjo.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Bagus Prasetia Lelana Pimpin DPW PKS Jatim, Targetkan 12 Kursi di Pileg 2029

Ketua DPW PKS Jatim Bagus Prasetia Lelana (kiri). (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com).

SURABAYA-KEMPALAN: Bagus Prasetia Lelana resmi ditetapkan sebagai Ketua DPW PKS Jawa Timur (Jatim) periode 2025–2030 menggantikan Irwan Setiawan. Pengukuhan Bagus Prasetia dilakukan dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VI PKS Jawa Timur di Dyandra Convention Hall, Surabaya, Minggu (24/8).

Pergantian kepemimpinan ini ditegaskan melalui prosesi pelantikan, pengucapan sumpah jabatan, serta penandatanganan ikrar jabatan yang dipimpin langsung oleh Presiden PKS H Almuzzammil Yusuf.

Dalam Muswil VI ini, juga diumumkan susunan baru kepengurusan Dewan Pimpinan Tingkat Wilayah (DPTW) PKS Jawa Timur yang terdiri dari Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW), Dewan Syariah Wilayah (DSW), dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW).

Ketua DPW PKS Jawa Timur periode 2025–2030 Bagus Prasetia Lelana menargetkan perolehan sebanyak 12 kursi di DPRD Jawa Timur pada Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2029 mendatang. Pada Pileg) 2024 lalu, PKS berhasil meraih 5 kursi dari 120 kursi DPRD Jawa Timur.

“Target perolehan kursi PKS secara nasional sebesar dua digit. Target tersebut juga berlaku untuk perolehan kursi di DPRD Jawa Timur, yakni dua digit. Kalau di DPRD Jawa Timur ada 120 kursi dan target kita naik 10 persen, maka target kita 12 kursi,” ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, politikus asal Tulungagung ini sudah menyiapkan sejumlah strategi. Antara lain, memaksimalkan peran dan fungsi kader dalam menggalang suara dan dukungan pemilih. Kemudian memperkuat struktur pemenangan partai.

“Jawa Timur memiliki 38 kabupaten dan kota. Dan ini terbanyak se-Indonesia. Dan struktur partai yang ada di 38 kabupaten/kota ini terus kita perkuat,” jelas Bagus Prasetia.

Strategi berikutnya, lanjut Bagus, adalah mengoptimalkan keberadaan kader PKS yang saat ini duduk di kursi DPRD Jawa Timur. “Di Muswil VI PKS ini semuanya hadir dan sudah berkomitmen untuk mewujudkan target perolehan kursi di Pemilu 2029. Kita ingin bersama-sama menuju target yang sudah ditetapkan,” jelasnya.

Sementara itu Sekretaris  DPW PKS Jatim periode 2025–2030 Muhammad Syadid menyampaikan bahwa tren perolehan suara PKS dari pemilu ke pemilu memang signifikan naik.  Dan target PKS di 2029  adalah masuk menjadi partai 5 besar di Jawa Timur.

“Insya Allah, dengan mesin kekuatan yang disebutkan oleh Ketua DPW PKS Jatim, ada kader, ada struktur, ada anggota dewan, maka ini akan menjadi bagian yang akan kita wujudkan dan kita upayakan,” ucapnya, optimistis.

Menurut Muhammad Syadid, pada Pileg 2019, perolehan kursi PKS di DPRD Jawa Timur 4 kursi. Kemudian di 2024 naik menjadi 5 kursi. Pada Pileg 2024, perolehan suara PKS Jawa Timur untuk kursi DPR RI naik hampir 300 ribu suara. Jika pada Pileg 2019 untuk DPR RI, PKS merebut 858.316 suara, maka di Pileg 2024 untuk DPR RI meraih 1.129.997 suara.

Sedang suara DPRD kabupaten/kota se-Jawa Timur, naik menjadi 1.426.834 suara pada Pileg 2024 dari sebelumnya 1.363.197 suara.

“Sementara untuk suara DPRD provinsi dari 995.390 suara di Pileg 2019, naik menjadi 1.307.657 suara di Pileg 2024,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Khofifah Serahkan Bansos dan Santunan Duka 17 Korban Campak di Sumenep

SUMENEP-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan bantuan santunan dukacita kepada 17 perwakilan keluarga Kejadian Luar Biasa (KLB) yang meninggal dunia akibat penyakit campak di Kabupaten Sumenep, Sabtu (23/8). Masing-masing keluarga menerima bantuan dukacita berupa uang senilai Rp 10.000.000

“Kami  menyampaikan  dukacita mendalam bapak /ibu yang putra putrinya dipanggil Allah karena campak. Ada yang usia 10 bulan – 2 tahun. Mari bersama kita hafiahkan surah alfatihah,” kata Khofifah.

Pada kesempatan tersebut Khofifah juga menyalurkan bantuan sosial (bansos) dan zakat produktif untuk masyarakat ekonomi rentan di Kabupaten Sumenep senilai Rp 24 miliar. Bantuan tersebut diserahkan di Pendopo Kabupaten Sumenep.

“Alhamdulillah bansos dan zakat produktif terus kita salurkan. Kabupaten Sumenep ini menjadi titik yang ke 28. Semoga dapat menjadi penguatan sosial ekonomi masyarakat Sumenep,” ujarnya.

Berbagai bansos yang disalurkan Khofifah, antara lain bantuan ASPD kepada 106 orang penerima berupa uang Rp 3.600.000 / tahun, Alat Bantu Mobilitas Lansia dan Penyandang Disabilitas sebanyak 14 unit senilai Rp. 57.901.000,  dan bansos PKH Plus kepada 2.628 keluarga penerima berupa uang Rp. 2.000.000 / tahun.

Kemudian penyerahan Bantuan Kemiskinan Ekstrem kepada 9.262 orang oenerima berupa uang Rp. 1.500.000 / tahun, BLT buruh pabrik rokok kepada 56 orang penerima berupa uang Rp 1.325.900 / tahun dan Sembako, serta bantuan KIP PUTRI JAWARA kepada 70 penerima berupa uang Rp. 3.000.000 dan sembako.

Juga penyerahan Bantuan Program Pemberdayaan BUM Desa kepada (4 penerima) dan Program Jatim Puspa kepada (4 penerima). Desa Ambunten Timur Kec. Ambunten menerima senilai Rp.100.000.000, Desa Ketawang larangan Kec. Ganding senilai Rp.100.000.000, Desa Gapura Tengah Kec. Gapura senilai Rp.100.000.000, Desa Gayam Kec. Gayam senilai Rp.100.000.000, Desa Pragaan Laok Kec. Pragaan senilai Rp. 154.250.000, Desa Nambakor Kec. Saronggi senilai Rp. 146.375.000, Desa Dungkek Kec. Dungkek senilai Rp. 104.500.000, dan Desa Bragung Kec. Guluk Guluk senilai Rp.83.500.000.

Juga penyerahan Bantuan Operasional Pendamping PKH Plus berupa uang Rp. 900.000 /triwulan dan Sembako, penyerahan tali asih bagi Tagana berupa uang Rp. 750.000 /triwulan dan sembako, serta penyerahan tali asih kepada TKSK berupa uang Rp. 1.500.000 / triwulan dan Sembako.

Termasuk penyerahan Bantuan Permakanan LKSA kepada Sdr. Musfid, S.Pdi (LKSA Ar Rawiyah) berupa uang Rp. 273.750.000, dan zakat produktif kepada pedagang ultra mikro 50 orang penerima berupa uang Rp 500.000.

Khofifah menyampaikan, penyaluran bantuan sosial itu merupakan bentuk akuntabilitas publik dalam penyaluran bantuan yang keseluruhannya dikelola Pemprov Jatim.

“Tolong bansos yang diterima  dipergunakan sebaik mungkin sesuai kebutuhan. Jangan dipergunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi judi online,” tandasnya.

“PPATK mengatakan kira-kira ada 9 ribu lebih penerima manfaat di Jatim yang terkonfirmasi bansosnya diindikasikan untuk judol. Dan total nilainya Rp 53 miliar. Jadi saya pesan bansos jangan dipakai judi online. Manfaatkan bansos sesuai pemenuhan kebutuhan,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kabupaten Sumenep KH. Imam Hasyim menyampaikan terima kasih atas atensi gubernur dalam peningkatan ekonomi di Kabupaten Sumenep.

Menurutnya, Pemkab Sumenep melakukan berbagai program sosial dengan memberdayakan pelaku UMKM untuk menurunkan angka kemiskinan. Selain itu, memperluas akses pendidikan dan kesehatan yang berkualitas.

“Cara tersebut untuk memutus rantai kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja melalui investasi sehingga program kemiskinan ekstrem menurun dan masyarakat sejahtera serta berkeadilan,” katanya. (Dwi Arifin)

Mengapa Jogjakarta Mendominasi ARTSUBS 2025

KEMPALAN : Boleh jadi benar wacana yang beredar bahwa orbit seni rupa Indonesia saat ini berkutat di empat wilayah : Jogjakarta, Bandung, Bali, dan Jakarta.

Surabaya sebagai kota terbesar nomor 2 di Tanah Air dengan jumlah penduduk 3.010.000 jiwa, nyaris masuk ke Empat Besar. Dan semoga nanti tak ada lagi sebutan itu, melainkan sudah terkonversi menjadi “entitas” baru : Lima Besar.

Apalagi jika mengingat maraknya event pameran seni rupa (baca : lukisan) yang dalam 10 tahun terakhir terselenggara di banyak spot di Surabaya : Galeri DKS, Galeri Prabangkara, House of Sampoerna, Orasis Art Gallery, Galeri Merah Putih, Gedung Khrisna Mustajab “situs” Akademi Seni Rupa Surabaya, Galeri Rakuti, Art Lounge, di beberapa hotel, serta sejumlah lokasi lainnya.

Dan yang tak kalah penting adalah kehadiran Pasar Seni Lukis Indonesia yang dirintis dan digerakkan secara rutin oleh M. Anis dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini.

Selain itu silakan dicatat “pengaruh” kota Sidoarjo dan Batu, dimana pada akhirnya mengindikasikan bahwa Surabaya, Sidoarjo, Batu : tiada hari tanpa opening pameran lukisan. Belum lagi eksistensi “Komunitas Pasuruan” yang dimotori pelukis Wahyu Nugroho.


Kenapa ditulis perkara Empat Besar yang nantinya –mudah-mudahan– menjadi Lima Besar ?

Hal ini setelah mengamati “peta alokasi” peserta ARTSUBS 2025 yang saat ini event-nya tengah berlangsung di Kompleks Balai Pemuda, Surabaya — 2 Agustus – 7 September 2025.

Event akbar yang mengambil tema Material Ways ini diikuti 141 perupa.

Berdasarkan urutan banyaknya jumlah peserta : Jogjakarta 66, Bandung 21, Bali 12, dan Jakarta 7.

Berapa dari Surabaya? Ada 6 peserta. Disusul : Malang 3 dan Sidoarjo 2.

Sementara masing-masing 1 (satu) peserta berasal dari : Tuban, Malang/Jogjakarta, Tulung Agung, Kediri, Banyuwangi, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Cirebon, Cianjur, Surakarta, Klaten, Gunung Kidul, Padang, Jember/Pasuruan, Bali/Kanada, Jakarta/Kuala Lumpur.

Sedangkan peserta dari luar negeri : Australia 3, Singapura 1, Amerika Serikat 1, Jerman 1, Belanda/Jerman 1.

Tentu indikasi berkaitan “peta alokasi” ini butuh penelitian lebih dalam untuk memastikan perkara Empat Besar itu. Ini sekadar hipotesa. Lebih-lebih jika hendak “mendalilkan” bahwa Surabaya nantinya akan masuk ke “entitas” baru : Lima Besar.

Yang jelas Jogjakarta mutlak “meraih kemenangan” sebagai peserta terbanyak pada ARTSUBS 2025, mencatat disparitas mencolok dibanding peserta dari Bandung, Bali, dan Jakarta.

Kenapa Jogjakarta bisa demikian? Mungkin disebabkan kehadiran perguruan tinggi seni rupa tertua di Indonesia, yaitu ASRI pada 15 Januari 1950, diresmikan oleh Menteri PP dan K: S. Mangunsarkoro, di Bangsal Kepatihan.

Ditambah
pengaruh dua kraton, boleh jadi memberikan vibes bagi tumbuh suburnya seni budaya di kota ini.

Upaya kritikus seni rupa di Jogjakarta yaitu Kusnadi (pada awal-awal), Suwarno Wisetrotomo, Dwi Maryanto, Wahyudin, Hendro Wiyanto, Mikke Susanto, Sanjaya Kuss Indarto untuk mengontrol dan mengawal para perupa, tak boleh diabaikan.

Belum lagi kalau bicara soal pengaruh seniman-seniman besar Indonesia yang tumbuh dan berkembang di Jogjakarta, seperti :

Affandi, Hendra Gunawan, Trubus, Widayat, Djoko Pekik, Bagong Kussudiardjo, Amri Yahya, Tino Sidin, Nasjah Djamin, Heri Dono, Lucia Hartini, Entang Wiharso, Nasirun, Ivan Sagito, dan lain-lain.

Rendra, Kirdjomulyo, Mohammad Diponegoro, Pedro Sudjono, Azwar AN, Butet Kertarajasa, Didik Nini Towok, dan masih beberapa lagi.

Juga :

Romo Mangun, Ashadi Siregar, Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Agustinus, Ragil Suwarno Pragolapati, Sindhunata, juga masih ada lainnya.

Geronimo, Ebiet G. Ade, Djaduk Ferianto, KLA Project, Sheila on 7, Soimah Pancawati, dan masih sekian sosok lagi.

Hal di atas menunjukkan betapa Jogjakarta menyimpan potensi luar biasa, dimana seniman di Jogjakarta secara adesif saling mengikat kuat. Secara langsung maupun tidak langsung, saling pengaruh mempengaruhi dalam ranah memacu kreativitas.

Ada lagi pengaruh besar bagi potensi seniman-seniman Jogjakarta, yakni hadirnya karya seni arsitektur bercitra seni agung, yakni dua candi besar — yang masuk wilayah Jogjakarta: Candi Prambanan. Dan yang dekat dengan kota yang pernah jadi Ibukota RI itu : Candi Borobudur.

Oleh sebab itu tidak mengherankan jika pada tahun 1950-an hingga 1970-an Jogjakarta melekat dengan sebutan Kota Pelajar, kini “terkonversi” menjadi : Kota Budaya.


Dengan kehadiran ARTSUBS di Surabaya yang dikuratori Asmudjo J. Irianto dan Nirwan Dewanto serta digerakkan oleh Rambat dan kawan-kawan untuk yang kedua kali (tahun lalu berlangsung di Pos Bloc), tentu saja harapan banyak warga pecinta seni di kota ini : mudah-mudahan bisa berlangsung langgeng.

Di sisi lain, mau tidak mau, hal ini akan memicu para seniman Jawa Timur untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas. Sebab, ada pembanding yang InsyaAllah tak bisa dipandang enteng.

Pernyataan Kehinde Wiley perupa kulit hitam Amerika Serikat yang karya-karyanya mentransformasikan elemen klasik dengan kontemporer, menarik jika dihubungkan dengan alinea di atas : seni adalah tentang mengubah apa yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dan mewakilinya sedemikian rupa sehingga memberi kita harapan.

Amang Mawardi.

Unesa Libatkan Unsur Akademisi, Alumni, Praktisi Hingga TNI dalam Kegiatan PKKMB 2025

MAGETAN -KEMPALAN : Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam melaksanakan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) melibatkan seluruh unsur mulai dari akademisi, Alumni, Praktisi hingga TNI guna Membentuk Mahasiswa yang Berkarakter, Kritis, dan Tangguh sebagai Pemimpin Muda yang Sportif dan Berdaya Saing Menuju Indonesia Emas 2045.

Di kampus 5 Magetan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) mendatangkan pemateri dari unsur TNI. Di era globalisasi saat ini, perjuangan prajurit TNI tak lagi hanya dilakukan dengan mengangkat senjata. Mereka juga aktif berperan dalam menanamkan dan menumbuhkembangkan semangat bela negara, khususnya di kalangan generasi muda.

Saperti yang dilakukan Pasiintel Korem 081/DSJ, Mayor Cpl Eko Sudarto, saat kemarin (21/8), tampil sebagai narasumber dalam kegiatan di Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 5 Magetan. Ia menyebut, keterlibatannya itu merupakan panggilan tugas sebagai seorang prajurit.

Baginya, menanamkan semangat bela negara merupakan tanggung jawab moral sekaligus bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.

“Semangat bela negara adalah fondasi utama yang wajib dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia. Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk terus menumbuhkembangkannya,” ujar Eko dalam keterangannya, Sabtu (23/8/2025).

Pamen TNI AD itu menegaskan, bahwa tantangan yang dihadapi bangsa saat ini sangat berbeda dari masa lalu. Ancaman bukan lagi datang dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui ancaman ideologi, perpecahan sosial, dan lunturnya nilai-nilai kebangsaan. Oleh karena itu, menurutnya, penting bagi mahasiswa untuk menyadari perannya sebagai agen perubahan.

Dalam konteks modern saat ini, kata Eko, bela negara dapat dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana yang biasa dilakukan sehari-hari. Mulai belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga toleransi, hingga menggunakan media sosial secara bijak. Menurutnya, semua itu adalah wujud kecintaan kita terhadap bangsa ini.

Kepada mahasiswa, ia berharap untuk tidak apatis terhadap isu-isu kebangsaan. Sebaliknya, mereka harus menjadi generasi yang peduli dan berkomitmen menjaga keutuhan serta persatuan bangsa.

Eko pun mengungkapkan, menjaga Indonesia hari ini, bukan hanya soal mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayah, tetapi juga merawat semangat bela negara dan jiwa nasionalisme itu terus tumbuh dalam diri generasi mudanya.

Melalui kegiatan seperti ini, TNI tidak hanya hadir sebagai penjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi juga sebagai pelopor dalam merawat karakter bangsa. Sebuah peran yang kian penting di era ketika identitas nasional mudah tergerus oleh arus global.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.