Selasa, 2 Juni 2026, pukul : 14:58 WIB
Surabaya
--°C

Bambang Haryo Sebut Indonesia Berpeluang Kembali Jadi Raksasa Gula Dunia

SIDOARJO – Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) meyakini Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali menjadi salah satu negara penghasil gula terbesar di dunia. Keyakinan tersebut didasarkan pada sejarah kejayaan industri gula nasional serta besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.

BHS mengatakan, Indonesia pernah menorehkan prestasi besar dalam sektor pergulaan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Saat itu, industri gula berkembang pesat dan menjadi salah satu sumber utama pemasukan devisa negara.

“Indonesia pernah menjadi eksportir gula nomor dua terbesar di dunia setelah Kuba dengan rata-rata ekspor mencapai tiga juta ton setiap tahun. Ini merupakan capaian luar biasa yang perlu menjadi inspirasi bagi generasi saat ini,” ujarnya.

BACA JUGA  Filosofi Tawon AKP Setiawan: Warisan Kondusifitas Kompi 4 Bataliyon A Pelopor Menuju Den Gegana

Ia menambahkan, Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu daerah yang menjadi pusat perkembangan industri gula pada masa tersebut. Tercatat sekitar 15 pabrik gula berdiri dan beroperasi di wilayah itu, menjadikan Sidoarjo sebagai salah satu sentra produksi gula terbesar di Jawa Timur.

Menurut BHS, kondisi alam Indonesia yang subur seharusnya menjadi modal utama untuk mengembangkan kembali sektor pergulaan nasional. Bahkan, ia menilai potensi lahan pertanian Indonesia lebih baik dibandingkan sejumlah negara yang saat ini mendominasi produksi gula di kawasan Asia Tenggara.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk menyusun langkah strategis guna memperkuat industri gula dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut mencakup peningkatan kualitas bibit tebu, optimalisasi lahan, modernisasi pabrik gula, serta penguatan peran petani dalam rantai produksi.

BACA JUGA  Bambang Haryo Sebut Layanan Haji 2026 Alami Lompatan Kualitas, Jemaah Merasa Seperti di Hotel Berbintang

Selain mengejar peningkatan produksi, BHS juga menilai pentingnya menjaga keterjangkauan harga gula bagi masyarakat. Menurutnya, harga gula yang terlalu tinggi akan berdampak langsung terhadap kebutuhan rumah tangga dan sektor usaha kecil.

“Indonesia harus mampu mencapai swasembada gula dan memastikan harga gula tetap sesuai dengan kemampuan daya beli masyarakat. Dengan begitu, manfaatnya dapat dirasakan secara luas,” katanya.

BHS berharap kebijakan yang berorientasi pada penguatan produksi dalam negeri dapat menjadi jalan untuk mengembalikan kejayaan industri gula nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor di masa mendatang.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.