Minggu, 24 Mei 2026, pukul : 01:19 WIB
Surabaya
--°C

Ali Ahmad Baktsir: Sang Sastrawan Surabaya yang Abadi di Prangko Yaman

Berkat langkah cerdas dan penuh cinta tanah air ini, rakyat dan tokoh-tokoh di negara-negara Arab menjadi sangat paham akan sejarah, identitas, dan tujuan perjuangan bangsa Indonesia.

Oleh: Hamid Nabhan

KEMPALAN: Di tengah sejarah kesusastraan dan diplomasi Indonesia, terdapat satu nama yang mungkin belum terlalu banyak dikenal secara luas, tapi jejaknya terukir indah hingga ke negeri seberang, Republik Yaman.

Beliau adalah Ali Ahmad Baktsir, seorang sastrawan, penyair, dan tokoh budaya kelahiran Surabaya, yang kisah hidupnya menjadi bukti nyata betapa luasnya pengaruh budaya Indonesia di mata dunia Arab.

Yang membuat kisah ini semakin istimewa, wajah dan namanya tercetak resmi dalam sebuah prangko peringatan yang diterbitkan pemerintah Yaman, sebuah penghormatan langka yang jarang sekali diterima oleh tokoh asal Indonesia.

Ali Ahmad Baktsir lahir pada tahun 1910 di kawasan Ampel, Surabaya, sebuah daerah yang sejak lama dikenal sebagai pusat peradaban Islam dan pertemuan budaya antara Nusantara dan dunia Arab.

Sejak muda, ia telah menunjukkan bakat besar dalam bidang sastra, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab. Pendidikan dan pemahamannya yang mendalam akan kedua budaya tersebut menjadikannya jembatan penghubung yang sangat berharga.

Ia tidak hanya menciptakan karya-karya sastra yang indah, tetapi ia juga aktif berperan dalam mempererat persahabatan dan pemahaman antara masyarakat Indonesia dengan negara-negara Arab, khususnya Mesir dan Yaman.

Peran terbesar dan paling bersejarah yang pernah dilakukannya adalah dalam jalur diplomasi kemerdekaan. Ali Ahmad Baktsir adalah tokoh kunci yang sangat berjasa menjadi perantara utama dalam pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Mesir.

Berkat perjuangan, pendekatan, dan pengaruhnya yang besar di kalangan pemimpin dan tokoh masyarakat Mesir, negara tersebut menjadi salah satu negara pertama yang berani mengakui kedaulatan Indonesia.

BACA JUGA  Keputusan Devisa Prabowo, Terkecuali Amerika

Jasa ini sangat krusial, karena pengakuan dari negara besar seperti Mesir telah membuka pintu bagi negara-negara Arab dan negara dunia lainnya untuk turut mengakui kemerdekaan Republik Indonesia di mata dunia.

Lebih dari itu, dedikasi Ali Ahmad Baktsier terhadap tanah air sangat luar biasa. Ia yang menerjemahkan lagu kebangsaan Indonesia Raya ke dalam bahasa Arab.

Terjemahan ini bukan sekadar pengalihan bahasa, melainkan digubah menjadi syair yang sangat indah dan menyentuh hati, sehingga dikenal luas dan sering dikumandangkan di seluruh wilayah Timur Tengah.

Berkat langkah cerdas dan penuh cinta tanah air ini, rakyat dan tokoh-tokoh di negara-negara Arab menjadi sangat paham akan sejarah, identitas, dan tujuan perjuangan bangsa Indonesia.

Hal ini memicu gelombang dukungan besar dari masyarakat Timur Tengah yang sepenuh hati siap membantu dan mendukung perjuangan rakyat Indonesia saat melawan agresi Belanda yang ingin menjajah kembali.

Atas jasa-jasanya yang begitu besar, nyata, dan strategis bagi perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia di kancah internasional, Presiden RI, Ir. Soekarno, telah menganugerahkan penghargaan tertinggi berupa Bintang Jasa kepada Ali Ahmad Baktsir.

Penghargaan ini diberikan langsung oleh Bung Karno sebagai tanda hormat negara atas peran besarnya dalam mengangkat nama bangsa dan menggalang dukungan sahabat dari dunia internasional.

Hubungan antara sang Proklamator dan sang Pujangga ini menjadi simbol indah bagaimana budaya dan politik berjalan beriringan demi kemerdekaan.

Sepanjang hidupnya, Ali Ahmad Baktsir menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di Timur Tengah, terutama di Mesir, tempat ia mengabdi, berkarya, dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1969.

Namanya dikenal luas sebagai penyair besar yang mampu merangkai kata-kata indah sarat makna, mengangkat tema persaudaraan, kemerdekaan, dan juga kemanusiaan.

BACA JUGA  Keruntuhan Rupiah secara Simultan Meruntuhkan Ekonomi Rakyat Indonesia

Ketenaran dan jasanya ternyata tidak hanya dikenang di Indonesia atau Mesir, tapi sangat melekat di hati masyarakat Republik Yaman.

Sebuah bukti nyata dan luar biasa dari penghormatan tersebut terlihat jelas pada prangko resmi yang diterbitkan khusus oleh pemerintah Yaman pada tahun 2010. Prangko ini diterbitkan dalam rangka memeringati 100 tahun kelahiran Ali Ahmad Baktsir.

Di atas prangko itu tercetak jelas potret dirinya, nama lengkapnya, serta rentang tahun hidup, yaitu 1910–2010. Tertulis pula keterangan dalam bahasa Arab yang artinya: “Tokoh budaya, sastrawan, dan penyair besar Ali Ahmad Baktsir”, lengkap dengan lambang pena sebagai simbol keabadian karya-karyanya.

Fakta bahwa seorang anak bangsa yang telah lahir dan besar di kawasan Ampel, Surabaya, bisa diabadikan wajahnya dalam prangko resmi negara lain untuk memeringati seabad kelahirannya, adalah sesuatu yang sangat langka dan membanggakan.

Prangko bukan sekadar perangko pos, melainkan dokumen sejarah negara yang biasanya hanya menampilkan tokoh-tokoh terbesar yang dianggap berjasa bagi peradaban umat manusia.

Ali Ahmad Baktsir telah tiada, namun warisannya tetap hidup abadi. Ia adalah contoh nyata bahwa budaya dan sastra tidak mengenal batas negara.

Dari Surabaya ia dilahirkan, di Mesir ia berjuang menyebarkan nama Indonesia, namun namanya diabadikan selamanya di Yaman.

Kisah hidupnya mengajarkan kita bahwa seorang pemikir dan seniman bisa menjadi duta bangsa yang paling efektif, membawa nama harum Indonesia ke penjuru dunia, dan juga dikenang selamanya sebagai pejuang kemerdekaan lewat pena dan karya.

*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan

 Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.