Senin, 18 Mei 2026, pukul : 06:27 WIB
Surabaya
--°C

Alarm Sektor Keuangan, BI Sudah Jadi Mesin Utama Utang Luar Negeri

Mengapa ini menjadi alarm? Karena di tengah kenaikan utang luar negeri sektor publik, tetapi cadangan devisa turun cukup besar.

Oleh: Anthony Budiawan

KEMPALAN: Menurut catatan Bank Indonesia (BI) utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 meningkat menjadi 437,9 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar 7.444,3 triliun rupiah dengan asumsi kurs 17.000 per dollar AS. Dengan jumlah tersebut, maka rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,8 persen.

Posisi ULN Februari 2026 tersebut naik jika dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya yang sebesar 434,9 miliar dollar AS. Secara tahunan, ULN Februari 2026 tumbuh 2,5 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan ngan depertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 1,7 persen (yoy).

Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (15/4/2026) menyebut, peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar 215,9 miliar dollar AS, atau tumbuh sebesar 5,5 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,6 persen (yoy). Perkembangan itu terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang.

Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,3 persen, jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,6 persen); transportasi dan pergudangan (8,5 persen).

“Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98 persen dari total ULN pemerintah,” jelas Anton.

Sementara peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh bank sentral, sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.

Di sisi lain, posisi ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar 193,7 miliar dollar AS, atau secara tahunan tercatat turun 0,7 persen (yoy).

Perkembangan ULN swasta dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing turun 2,8 persen (yoy) dan 0,2 persen (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3 persen terhadap total ULN swasta.

“ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0 persen terhadap total ULN swasta,” katanya.

Adapun secara keseluruhan, ULN Indonesia didominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 84,9 persen dari total ULN.

Timbulkan Kerentanan

Saya mengkhawatirkan adanya risiko besar ke depannya jika pemerintah tidak kunjung mengendalikan peningkatan ULN.

Karena, data terkini mencerminkan kondisi eksternal (utang luar negeri) cukup memprihatinkan dan menimbulkan kerentanan pada keuangan Indonesia.

Ini menjadi alarm ke depan. Fundamental semakin rapuh. BI (Bank Indonesia) sudah menjadi mesin utama utang luar negeri.

Mengapa ini menjadi alarm? Karena di tengah kenaikan utang luar negeri sektor publik, tetapi cadangan devisa turun cukup besar.

Cadangan devisa kita papar dia turun  2,7 miliar dolar AS, dari 154,6 miliar menjadi 151,9 miliar dolar AS.

*) Anthony Budiawan, Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.