Tindakan nyata (seperti veto PBB yang dilakukan Moskow dan Beijing pada 7 April 2026 untuk memblokir resolusi keamanan Selat Hormuz yang menyudutkan Iran) lebih penting daripada sekadar retorika keagamaan.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Selama ini semua Negara Teluk menggantungkan pertahanan udara dan keamanan wilayah mereka pada payung militer Amerika Serikat.
AS dan Israel (CIA dan Mossad) selama ini mampu menyihir semua Negara Teluk gelap mata melihat Iran (negara Syiah) sebagai suatu ancaman eksistensial bagi stabilitas kawasan dan rezim Sunni mereka, sehingga menciptakan “aliansi de facto” dengan Israel untuk memusuhi Iran.
Ini terlihat saat serangan Iran April 2024 dan Februari 2026, meski tidak semua mengumumkan normalisasi resmi, mereka berbagi intelijen, membuka ruang udara, dan berkoordinasi pertahanan udara dengan AS dan Israel.
Realitas di lapangan, terutama Arab Saudi seolah-olah mengecam serangan Israel ke Gaza dan menyatakan dukungan untuk Palestina agar tak memicu kemarahan rakyat mereka. Secara privat dan strategis, mereka munafik membagikan data intelijen ke AS & Israel dalam serangan ke Iran.
Mengizinkan penggunaan ruang udara dan pangkalan mereka untuk pertahanan Israel. Mengecam Iran lebih keras daripada mengecam Israel dalam pernyataan resmi bersama.
Selama ini negara Teluk Arabia adalah sekutu strategis utama AS, dan meskipun tidak semua mengakui Israel secara resmi, mereka telah membentuk aliansi keamanan de facto dengan “Zionis” demi menghadapi ancaman bersama dari Iran.
Pertanyaannya Sedungu dan setolol ini di internal sesama negara Islam begitu lama menjadi mainan CIA dan Mossad.
Munculnya kritik tajam dari China (Beijing) dan Rusia (Moskow) terhadap negara-negara Islam yang “Takut pada Tirani Barat”, secara terbuka setidaknya menyindir kepemimpinan negara-negara Muslim (terutama Arab) dianggap lebih takut pada sanksi atau tekanan AS daripada membela prinsip kedaulatan dan sesama negara Muslim
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov secara spesifik menyindir, sejumlah pemimpin Arab tampak “lebih takut Trump daripada Allah” (more afraid of Trump than of God). Pernyataan pedas ini dilontarkan Lavrov pada akhir Maret 2026 di Moskow
Mereka menyoroti ironi bahwa negara-negara yang mengaku religius dan solid secara ideologi justru diam dan pasif, ketika negara Islam Iran harus berperang sendirian melawan Amerika dan Israel. Siapa yang membela dan melindungi Iran dengan kekuatan senjatanya.
Fakta lain bicara lebih nyata China dan Rusia-lah menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi Iran dari sanksi atau resolusi negara Iblis yang selama ini dianggap sebagai dewa pelindung negara Islam.
Tindakan nyata (seperti veto PBB yang dilakukan Moskow dan Beijing pada 7 April 2026 untuk memblokir resolusi keamanan Selat Hormuz yang menyudutkan Iran) lebih penting daripada sekadar retorika keagamaan.
Poros kerja sama strategis antara Rusia, China dan Iran, sekaligus mengekspos perpecahan antara negara yang Islam yang menjadi jongosnya AS dan Israel.
Dengan kekuatan senjata Iran, China dan Rusia lebih penting dari sekedar retorika khotbah moralnya dengan jubah jubah gombalnya.
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi