Namun sebaliknya, apabila Iran kalah, Selat Hormuz akan tetap menjadi jalur laut terbuka. Negara Republik Islam pasca Revolusi Islam 1979 mungkin akan berakhir, diganti konsep kenegaraan lain.
Oleh: Arip Musthopa
KEMPALAN: Ketika menonton film miniseri The Rise of Empire: Ottoman, yang berkisah tentang proses penaklukan Konstantinopel oleh Al Fatih atau Raja Mehmed II; ada satu bagian yang tidak bisa saya lupakan dan menjadi penanda penting dari film tersebut.
Pada saat Al Fatih mulai ragu antara apakah akan berhasil atau tidak menaklukkan Konstantinopel meski telah mengepungnya selama lebih dari 1 bulan (butuh 53-57 hari untuk menaklukkan Konstantinopel), terjadi gerhana bulan merah (blood moon).
Ibu tiri Al Fatih bernama Mara Brankovic atau Mara Hatun bergegas menemui putranya di medan perang dan memintanya untuk tidak mundur menarik pasukan yang mulai kelelahan.
Mara memberitahu Al Fatih bahwa gerhana bulan merah diyakini oleh orang Turkiye kuno sebagai petanda alam akan adanya peralihan kekuasaan. Mara berhasil meyakinkan Al Fatih bahwa ini adalah momentum yang tepat dan kemenangan ada di depan mata.
Informasi Mara Hatun tersebut seperti suntikan moral dan menambah keyakinan Al Fatih beserta pasukannya untuk terus berjuang menaklukkan Konstantinopel.
Hasilnya adalah sejarah yang kita kenal saat ini, di mana Konstantinopel yang kokoh di bawah panji Romawi Timur selama lebih dari seribu tahun akhirnya berhasil ditaklukkan. Penaklukan yang kemudian dikenal bukan saja penaklukan sebuah kota, melainkan awal mula penulisan ulang tatanan geopolitik global.
Amerika Serikat-Israel memulai serangan terhadap Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Tanggal 3 Maret 2026 terjadi gerhana bulan merah yang bisa dilihat di Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, sebagian Amerika dan kawasan Pacific.
Seketika itu juga penulis teringat film miniseri tersebut: apakah perang AS-Israel vs Iran akan mengakhiri suatu era yang panjang dan dimulainya era baru? Apalagi di antara dua peristiwa bersejarah yang terpaut jarak waktu ratusan tahun itu ada kemiripan geografis: Iran di pinggir Selat Hormuz, dan Konstantinopel di pinggir Selat Bosphorus.
Perang AS-Israel vs Iran belum menunjukkan tanda-tanda bagaimana, apakah akan berakhir, pasca jalan buntu negosiasi damai di Islamabad. Namun langkah Iran menutup Selat Hormuz yang berarti menutup jalur distribusi 20% sumber energi global, menjadikan perang tersebut juga memiliki dampak global secara langsung yang lebih kuat dari dugaan awal.
Perlawanan Iran yang gigih dan mampu menunjukkan teknologi persenjataan yang canggih menjadikan akhir peperangan menjadi lebih sulit untuk ditebak. Kapan perang akan berakhir? Kekuatan mana yang akan menang?
Akankah perang tersebut hanya melibatkan tiga negara itu saja atau bereskalasi melibatkan negara-negara di kawasan Teluk atau justru malah negara lain di luar kawasan Teluk yang menjadi sekutu AS-Israel atau Iran (bermakna terjadi Perang Dunia III)?
Meski belum bisa dipastikan kekuatan mana yang akan menang dan kapan perang akan berakhir, tapi hampir dapat dipastikan, tatanan global (bukan hanya Teluk) nampaknya akan berbeda dari kondisi sebelum perang.
Apabila Iran menang dan terus memberlakukan tarif bagi kapal yang lewat Selat Hormuz, maka rezim jalur laut terbuka di Selat Hormuz akan berakhir dan ini bisa menimbulkan multiplier effect pada tata kelola selat-selat lainnya seperti Selat Malaka, dan sebagainya.
Iran akan menjadi negara berkekuatan nuklir. Wibawa AS akan meredup, NATO kemungkinan akan bubar atau paling tidak, nilai strategisnya akan jauh berkurang. Tatanan dunia multipolar benar-benar akan terjadi.
Negara Israel akan berada di ujung tanduk. Negara yang dibentuk sebagai output genosida NAZI Jerman dan Perang Dunia II kehilangan kekuatan proteksionisnya, kecuali ia berubah haluan.
Namun sebaliknya, apabila Iran kalah, Selat Hormuz akan tetap menjadi jalur laut terbuka. Negara Republik Islam pasca Revolusi Islam 1979 mungkin akan berakhir, diganti konsep kenegaraan lain.
Kemudian Israel akan semakin kuat secara geopolitik di kawasan Teluk dan bakal menjadi satu-satunya negara berkekuatan nuklir di kawasan; dan AS sendiri akan semakin kokoh sebagai negara adikuasa. Semakin mutlak leluasa mengendalikan perdagangan minyak di seluruh dunia, termasuk seutuhnya dari Timur Tengah.
Namun itu semua baru sebagian kecil kemungkinan tatanan global baru yang akan terbentuk pasca perang. Bisa saja hal yang lebih mendasar dan jauh dari yang kita bayangkan saat ini mungkin saja akan terjadi.
Wallahu a’lam bishshawab.
*) Arip Musthopa, Co-founder Satu Republik Institute

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi