Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 19:06 WIB
Surabaya
--°C

Selat Hormuz: Jejak Nama Tuhan di Jalur Energi Dunia

Dalam konteks ini, penamaan “Hormuz” bukan sekadar label geografis, melainkan warisan sejarah yang mencerminkan pertemuan budaya, ekonomi, dan kepercayaan.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Nama Selat Hormuz kerap muncul dalam dinamika geopolitik global, terutama terkait jalur energi dunia. Namun di balik posisinya yang strategis, nama “Hormuz” menyimpan jejak sejarah panjang yang berakar pada tradisi Persia kuno.

Di Ja

Secara etimologis, istilah ini diyakini berkaitan dengan Ahura Mazda, Tuhan tertinggi dalam Zoroastrianisme.

Sejumlah literatur klasik Islam juga pernah menyinggung kedekatan Zoroastrianisme dengan tradisi wahyu. Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi, dalam beberapa pandangannya menilai bahwa agama tersebut memiliki asal-usul samawi di luar jalur Ibrahim.

Bahkan, muncul pendapat bahwa Zarathustra – tokoh sentral dalam Zoroastrianisme – bisa diposisikan sebagai nabi, meskipun tidak termasuk dalam daftar yang diakui secara formal dalam Islam. Apakah ini sekadar spekulasi teologis, atau refleksi dari interaksi panjang antar peradaban?

Jika ditelaah lebih jauh, Zoroastrianisme memang mengandung sejumlah konsep yang terasa akrab bagi umat Islam: keyakinan pada satu Tuhan, keberadaan entitas jahat, serta narasi pertarungan antara kebaikan dan keburukan.

Ibarat 2 resep masakan yang memakai bumbu dasar serupa, perbedaannya mungkin ada pada cara meracik, bukan bahan utamanya. Makanya, tidak sedikit sejarawan yang melihat adanya kesinambungan ide, meskipun dibungkus dalam konteks budaya yang berbeda.

Kedekatan konseptual ini sering disebut sebagai salah satu faktor yang mempermudah proses Islamisasi di wilayah Persia, yang kini dikenal sebagai Iran. Setelah penaklukan Islam pada abad ke-7, masyarakat setempat relatif cepat beradaptasi dengan ajaran baru.

Bandingkan dengan Mesir, yang membutuhkan waktu lebih dari lima abad hingga mayoritas penduduknya memeluk Islam. Apakah kesamaan teologis menjadi “jalan tol” bagi perpindahan keyakinan, atau hanya salah satu dari sekian banyak faktor?

Nama “Hormuz” sendiri berasal dari Kerajaan Hormuz yang berkembang pada abad pertengahan dan menguasai jalur perdagangan penting di kawasan Teluk.

Kerajaan ini berpusat di Pulau Hormuz dan berperan sebagai simpul dari perdagangan antara India, Timur Tengah, dan Eropa. Seiring waktu, nama pulau tersebut melekat pada selat di sekitarnya, hingga dikenal luas seperti sekarang.

Dalam konteks ini, penamaan “Hormuz” bukan sekadar label geografis, melainkan warisan sejarah yang mencerminkan pertemuan budaya, ekonomi, dan kepercayaan.

Ketika Donald Trump mendorong ambisi penguasaan jalur ini, maknanya menjadi telanjang: secara simbolik, Trump sedang melawan Tuhan.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.