Senin, 20 April 2026, pukul : 17:20 WIB
Surabaya
--°C

PWU Jatim Fokus Optimalisasi Aset 2026, Targetkan Dongkrak Keuntungan

Direktur Utama PT PWU Jatim Erlangga Satriagung. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com)

SURABAYA-KEMPALAN: PT Panca Wira Usaha Jawa Timur (PWU Jatim) menargetkan peningkatan kinerja pada 2026 dengan memfokuskan program optimalisasi aset dan efisiensi operasional.

Direktur Utama PWU Jatim Erlangga Satriagung mengungkapkan, optimalisasi aset menjadi tantangan utama karena banyak aset perusahaan yang saat ini dikuasai pihak ketiga tanpa kejelasan status.

“Permasalahan optimalisasi aset ini cukup kompleks. Banyak yang dikuasai pihak ketiga dan sebagian tidak jelas alasannya,” ujar Erlangga di Surabaya, Senin (16/3).

Ia menyebut, dari total 112 titik aset yang dimiliki PWU Jatim, sebagian belum memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan perusahaan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, PWU Jatim mengubah skema perhitungan sewa aset. Jika sebelumnya menggunakan acuan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), kini beralih ke pendekatan cost and benefit.

Menurut Erlangga, metode lama membuat harga sewa terlalu tinggi sehingga tidak diminati pasar, terlebih di tengah tekanan ekonomi. “Kalau pakai rumus lama, 1–3 persen dikali NJOP, harganya jadi mahal sekali. Akibatnya aset tidak laku disewa,” jelasnya.

Melalui pendekatan baru ini, penentuan harga sewa didasarkan pada biaya riil pengelolaan aset, seperti biaya perawatan, listrik, dan sertifikasi, sehingga lebih kompetitif.

Efisiensi Jadi Kunci

Selain optimalisasi aset, PWU Jatim juga menerapkan langkah efisiensi di berbagai lini operasional.

Erlangga mencontohkan pengurangan kegiatan yang tidak esensial, termasuk meniadakan agenda buka puasa bersama yang sebelumnya rutin digelar.
“Sekarang eranya efisiensi. Banyak hal kita tekan agar perusahaan lebih sehat,” ujarnya.

Dia menyebut, PWU Jatim memiliki aset yang tersebar di berbagai daerah, baik berupa tanah maupun bangunan. Di antaranya di Surabaya, Pasuruan, Pandaan, Sidoarjo, Madiun, hingga Malang.

Beberapa aset memiliki luas signifikan, seperti di Pandaan mencapai 5 hektare dan di Kota Madiun sekitar 1,4 hektare.

Dampak Gejolak Global

Erlangga juga menyoroti potensi dampak konflik geopolitik global terhadap kinerja perusahaan, khususnya terkait fluktuasi nilai tukar dan harga minyak dunia.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada anak usaha yang bergantung pada bahan baku impor.
“Kalau dolar naik atau rupiah melemah, sementara kontrak sudah berjalan, itu bisa menimbulkan kerugian,” jelasnya.

Beberapa anak perusahaan PWU Jatim yang terdampak antara lain PT Loka Refraktories Wira Jatim dan PT Karet Ngagel Surabaya Wira Jatim.

Sebagai langkah mitigasi, PWU Jatim mulai mendorong penggunaan bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan impor.
“Kita dorong mencari substitusi lokal agar lebih tahan terhadap gejolak global,” pungkas Erlangga. (Dwi Arifin)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.