Kelimanya hadir untuk menjeniuskan tata batin, tata pikir, tata ucap, tata tulis, tata tindak, tata tradisi manusia agar dapat menangkap realitas peradaban yang lebih dalam dan strategis.
Oleh: Yudhie Haryono
KEMPALAN: Lemuria, Atlantik, Nusantara, Indonesia dan Pancasila (5 hal) kini terus tumbuh jadi narasi dan kisah sunyi. Menelaah mereka seperti menapaki jalan terjal penuh teka-teki; bagai takdir dari hati yang gelisah menuju hati yang terbakar penuh gairah berujung amarah.
Kehidupan penghuninya kalah, paria dan kosong, meski segala potensinya tampak penuh dan komplit. Mungkin yang hilang bukan kejahilan, tapi etika; pastilah yang lenyap bukan berkah, tapi moralitas; atau mungkinkah yang tak hadir yaitu bukan syukur, tapi kufur.
Bukan SDM-nya yang kurang, tapi cahaya batinnya yang belum menyala. Bukan SDA-nya yang langka, tapi gairah jeniusnya yang tak terkurikulumkan. Bukan pula uangnya yang sedikit tapi orang jujurnya yang punah.
Tentu kelima hal itu bukan tentang menjadi “lebih berada,” tapi tentang menjadi lebih sentosa – lebih tajam, lebih sadar, lebih melawan semua kezaliman. Dus, ini tentang kemerdekaan, kedaulatan, kemandiriaan, keadilan dan kesentosaan.
Karenanya kita hadir. Demi kemartabatan semesta. Ekspose kelas jenius. Tentu, ini bukan teori kosong. Bukan sekadar istilah intelektualisme yang berat dicerna.
Tetapi panduan perlawanan yang membumi, yang menuntun kita menapaki jalan sunyi penuh cinta, dari hati yang gelisah menuju hati yang terus dengan melawan: menemukan kesentosaan dan kesejatian plus mercusuar dunia.
Untuk siapa kelas ini dihadirkan? Tentu bagi semua yang mencari makna lebih dalam dari hidup yang penuh kekalahan.
Ini juga jihad bagi pencari Tuhan yang ingin mengenal-Nya lebih dekat; ini jalan bagi siapa pun yang ingin hidup dengan kejeniusan semesta.
Mengapa mengikuti proyek besar ini? Karena narasi kelimanya bukan untuk dilupakan, sebaliknya untuk dihidupkan. Karena kelimanya tak akan berubah sebelum hati dan pikiran kita, jiwa dan raga kita berubah.
Sungguh! Kita tak butuh alasan untuk membenci kelimanya. Justru kita mau pulang ke rumah jiwanya: inti sesungguhnya Indonesia. Mari membaca; merenung; menghidupi.
Ini sebuah perjalanan dan pergulatan ruhani dari dzahir ke batin; dari batin ke aksi; dari aksi ke rasa; dari rasa ke tradisi; berujung di budaya.
Apa itu lemuria, atlantik, nusantara, Indonesia dan Pancasila? Kelimanya adalah jalan sekaligus cita-cita serta metoda dalam menghadirkan pencapaian kesucian pikiran, pengalaman ucapan semesta, dan dentuman tulisan.
Mereka bukan hanya sekadar pelengkap dalam hidup, melainkan substansi yang menghidupkan, menjadikannya bukan hanya ritual kosong, tetapi jihad yang lahir dari kesadaran mendalam dan cinta kepada tanah-air-udara: sesama lingkungannya.
Kelimanya hadir untuk menjeniuskan tata batin, tata pikir, tata ucap, tata tulis, tata tindak, tata tradisi manusia agar dapat menangkap realitas peradaban yang lebih dalam dan strategis.
Dalam narasi kelimanya, manusia Indonesia tidak hanya mengenal kekalahan secara konseptual, tetapi mengetahuinya secara eksistensial – melalui keresahan, rasa takut, harapan, dan kerinduan yang terus menerus untuk bersentosa bersama.
*) Yudhie Haryono, Rektor Universitas Nusantara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi