RIYADH-KEMPALAN: Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis baru hari ini setelah Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dilaporkan mulai menarik armada pesawat tanker strategis mereka dari Pangkalan Udara Pangeran Sultan (PSAB), Arab Saudi.
Langkah drastis ini diambil menyusul penilaian dari intelijen yang menunjukkan melemahnya sistem pertahanan udara Amerika di kawasan tersebut di hadapan ancaman rudal balistik dan drone Iran.
Eksodus Aset Vital: Pesawat tanker KC-135 Stratotanker dan KC-46 Pegasus, yang merupakan “napas” bagi jet tempur AS di udara, telah terlihat meninggalkan PSAB menuju pangkalan yang lebih aman di Eropa dan wilayah Barat.
Risiko Kehancuran: Pejabat militer yang takmau disebutkan namanya menyatakan bahwa pangkalan tetap di Arab Saudi kini berada dalam “risiko tinggi” karena sistem pertahanan Patriot dan THAAD kewalahan menghadapi taktik saturation attack (serangan jenuh) musuh.
Dampak Operasional: Tanpa kehadiran tanker di PSAB, jangkauan operasional jet tempur F-15 dan F-35 di Teluk akan terpangkas drastis, membatasi kemampuan Amerika untuk membalas serangan dalam waktu cepat.
Evakuasi ini bukan sekadar pemindahan rutin, melainkan pengakuan tersirat bahwa pangkalan udara Amerika di Teluk kini rentan. Dengan menyebarkan aset-aset berharga ini (strategi Agile Combat Employment), Pentagon berupaya menyelamatkan armada udaranya sebelum serangan besar berikutnya terjadi. Namun, langkah ini sekaligus meninggalkan celah besar dalam payung keamanan Arab Saudi.
Kehilangan tanker adalah mimpi buruk logistik. Tanpa mereka, jet tempur as hanya bisa bertahan di sekitar landasan pacu. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi