Selasa, 2 Juni 2026, pukul : 14:44 WIB
Surabaya
--°C

Jadi Langganan Banjir, Warga Gunung Anyar Tambak Mengadu ke DPRD

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati (kiri) saat memimpin rapat dengar pendapat dengan warga Gunung Anyar Tambak. (Foto: Andra Jatmiko/kempalan.com).

SURABAYA-KEMPALAN: Komisi C DPRD Kota Surabaya menerima pengaduan warga Kelurahan Gunung Anyar Tambak terkait persoalan banjir yang kerap melanda wilayah tersebut. Rapat dengar pendapat yang dipimpin Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati ini  digelar di Ruang Rapat Komisi B DPRD Surabaya, Rabu (25/2).

Dalam forum tersebut, Mukani selaku Ketua RT 07/RW 07 mengungkapkan, genangan air di wilayahnya bisa mencapai 70 sentimeter, bahkan lebih saat hujan deras bersamaan dengan pasang air laut.

“Permasalahan yang kami hadapi adalah genangan air. Kurang lebih 70 sentimeter saat pasang dan hujan deras. Kami berharap ada solusi agar genangan cepat surut,” ujarnya

Mukani (kiri), Ketua RT 07 RW 07Kelurahan Gunung Anyar Tambak.

Wilayah Dataran Rendah dan Minim Pompa

Ketua RT 06/RW 07 menambahkan, banjir di wilayah tersebut sudah menjadi persoalan lama karena kondisi geografis yang merupakan dataran rendah dan dikelilingi banyak saluran air alami.

BACA JUGA  Polsek Tarik Pantau Perkembangan Tanaman Jagung Guna Swasembada Pangan

Pada 2023–2024, warga bersama konsultan mitigasi bencana telah mengkaji persoalan tersebut dan merekomendasikan pembangunan rumah pompa. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut.

“Hasil kajian waktu itu harus ada pompa banjir, tapi sampai hari ini belum ada kelanjutan,” katanya.

Ketua RW 07 menyatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan petugas PU, namun diperlukan percepatan penanganan dan evaluasi teknis, termasuk peninjauan ulang SOP di Rumah Pompa Kebonagung serta penambahan petugas pompa.

Sistem Drainase Belum Jelas

Lurah Gunung Anyar Donny Ardyan membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut wilayah timur, khususnya RW 07, merupakan kawasan sangat rendah dengan sistem drainase alami yang belum terintegrasi.

“Di sana banyak saluran alami, kurang lebih lima sungai kecil menuju laut. Tidak ada bangunan pengendali banjir, sehingga saat ini penanganannya masih parsial,” ujarnya.

Donny menambahkan, adanya kawasan mangrove dan hutan lindung membuat penanganan memerlukan kehati-hatian dan kajian mendalam.

Evaluasi Sistem dan Opsi Pompa Baru

BACA JUGA  Tekan Populasi Kucing Liar, Pemkot Surabaya Sterilisasi 100 Kucing Gratis

Kepala Bidang Pematusan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya Adi Gunita menyampaikan,  pihaknya akan melakukan peninjauan ulang terhadap sistem pompa yang ada, termasuk kemungkinan reposisi bangunan sebagai solusi.

“Sampai saat ini memang belum ada penanganan menyeluruh. Kita akan review kembali untuk mengatasi genangan,” kata Adi.

Sementara itu, Kabid Infraswil Bappeda Surabaya Windo Gusman Prasetyo menjelaskan, secara sistem, aliran dari wilayah timur tidak masuk dalam kawasan sistem pengendalian Kebonagung sehingga belum terakomodasi dalam penarikan debit air.

“Nanti kita evaluasi sistem Kebonagung dan kolaborasi dengan Cipta Karya terkait batas kawasan hutan lindung. Bisa jadi opsi menggeser pompa atau membangun sistem baru, kemungkinan di dekat Perumahan Wiguna,” ujarnya.

Ia optimistis penanganan banjir di Gunung Anyar Tambak dapat direalisasikan melalui kolaborasi lintas dinas.

Komisi C DPRD Surabaya menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada langkah konkret guna mengurangi genangan yang selama ini meresahkan warga.(Andra Jatmiko)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.