SURABAYA –KEMPALAN : Lebih dari sekadar rutinitas berbagi kudapan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengubah wajah gerbang Kampus 2 Lidah Wetan menjadi oase spiritual yang menyentuh hati. Di bawah langit senja Ramadhan 1447 H, Unesa tidak hanya membagikan 2.500 paket takjil gratis setiap hari, tetapi juga menghadirkan harmoni antara pelayanan tulus birokrat kampus dengan syiar religi yang estetis.
Pemandangan yang paling menggetarkan hati terlihat ketika jajaran pimpinan, para dosen, hingga staf Unesa menanggalkan jubah akademis mereka sejenak. Dengan senyum ramah, mereka berdiri di garis depan, membagikan langsung paket makanan kepada warga dan mahasiswa. Gestur “melayani” ini menjadi simbol kerendahan hati institusi pendidikan dalam memuliakan sesama di bulan suci.
Bukan Sekadar Takjil, Tapi Nutrisi Rohani

Sebelum waktu berbuka tiba, suasana tidak dibiarkan sepi. Unesa mengemas penantian ngabuburit dengan balutan tausiah religi yang unik melalui media seni. Penampilan dari Swara Anggita Choir serta Pantomime Education Center (PEC) memberikan warna tersendiri; sebuah dakwah visual dan nada yang menyejukkan jiwa sebelum masyarakat membatalkan puasa.
Wakil Rektor Bidang Hukum, Ketatalaksanaan, Keuangan, Sumber Daya, dan Usaha Unesa, Prof. Bachtiar Syaiful Bachri, menegaskan bahwa esensi kegiatan ini adalah tentang keberkahan dan kedekatan emosional.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Unesa dalam menyambut dan memuliakan datangnya Bulan Suci Ramadhan. Kami ingin kebahagiaan ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Ini bukan hanya soal memberi makan, tapi soal mengakrabkan hati antara kampus dan warga,” tutur Prof. Bachtiar dengan hangat.
Oase bagi Mahasiswa Perantau

Program yang berlangsung mulai 21 Februari hingga 14 Maret 2025 ini menyediakan 2.000 paket utama ditambah 500 porsi cadangan untuk mengantisipasi antusiasme yang membludak. Bagi para mahasiswa perantauan, seperti Indi Wilda Sita Ramadani, kehadiran Unesa di sore hari bak oase di tengah padang pasir.
“Sebagai perantau, ini sangat menyentuh. Bukan cuma menghemat uang bulanan, tapi rasanya seperti punya keluarga besar yang peduli pada kami di saat jauh dari orang tua,” ungkap Indi penuh syukur.
Hal senada dirasakan Rucita, seorang warga lokal yang terpukau dengan manajemen acara yang tertib dan santun. Kehadiran aparat kepolisian di gerbang Kampus 2 memastikan syiar berbagi ini tetap berjalan aman dan khidmat.
Melalui 2.500 paket takjil, tausiah seni, dan tangan-tangan para dosen yang melayani langsung, Unesa membuktikan bahwa kampus bukan sekadar menara gading. Di bulan Ramadhan ini, Unesa adalah rumah bagi semua—tempat di mana kepedulian sosial bertemu dengan nilai-nilai religius yang mendalam.(Ambari Taufiq/ M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi