Jika mau jujur, pendapatan sebagai pengemudi ojol ini jelas sangat pas-pasan dan belum tentu mencukupi untuk kebutuhan keluarganya, seperti yang dialami oleh Asep dan Affan itu – termasuk jutaan pengemudi ojol.
Oleh: Mochamad Toha
KEMPALAN: Namanya Asep Kurniawan dan Affan Kuniawan. Keduanya sama-sama pengemudi Ojek Online. Asep Kurniawan (48 tahun) bekerja sebagai ojol GoJek di Kota Batam. Sedangkan Affan Kurniawan (21 tahun) ojol Grap Ibukota Jakarta.
Keduanya kini telah tiada. Meninggal dunia. Asep ditemukan meninggal dunia dalam posisi terduduk di atas sepeda motornya di kawasan dekat Perumahan Palm Springs, Kota Batam, Senin (16/2/2026) pagi. Peristiwa tersebut sempat menghebohkan warga dan pengguna jalan yang melintas.
Saat ditemukan, korban masih berada di atas motor Honda Beat bernomor polisi BP 3100 UI. Kepalanya terlihat bersandar di stang sepeda motor dan tubuhnya tidak bergerak. Warga awalnya mengira korban hanya sedang beristirahat.
Video kejadian tersebut kemudian beredar luas di media sosial pada hari yang sama. Dalam rekaman yang tersebar, tampak korban dalam posisi terduduk di atas sepeda motor, sementara beberapa warga berdiri di sekitar lokasi sebelum petugas datang.
Seperti dilansir Batampos, Ardi, rekan sesama pengemudi ojol mengatakan, kabar meninggalnya Asep cepat menyebar di kalangan komunitas driver. “Kami sangat kaget. Beliau orangnya rajin narik dan jarang mengeluh. Pagi itu kami dapat kabar dari teman-teman yang ada di sekitar lokasi,” ujarnya.
Dari informasi yang dihimpun, Asep diketahui tinggal di Perumahan Bunga Raya, kawasan Botania, Batam Kota. Rekan-rekannya mengenal almarhum sebagai pribadi yang ramah dan aktif dalam komunitas.
Korban sempat dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Batam untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Setelah proses medis selesai, jenazah diserahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Kanit Reskrim Polsek Batam Kota, Iptu Bobby, membenarkan adanya kejadian tersebut. “Benar, kami menerima laporan adanya seorang pria yang ditemukan meninggal dunia di atas sepeda motor. Saat ini masih dalam penyelidikan untuk memastikan penyebab kematiannya,” ujarnya.
“Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” ungkap Iptu Bobby.
Kalau Asep meninggalnya secara wajar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya, lain halnya dengan nasib Affan yang meninggal setelah terlindas mobil taktis Brimob Polda Metro Jaya ketika terjadi demonstrasi pada Kamis, 28 Agustus 2025, di kawasan Rumah Susun Bendungan Hilir II, Jakarta Pusat.
Tujuh anggota Brimob yang ada di dalam mobil itupun diproses secara hukum.
Selama ini Affan tinggal bersama keluarganya di rumah kontrakannya di Jl. Tayu, Menteng, Jakarta Pusat. Di kontrakan itu, dia hidup dengan 7 anggota keluarga, termasuk di antaranya kedua orangtua, adik perempuan Wulantika Ramadhanti, dan kakak laki-laki Adam Al Rasyid juga pengemudi ojek daring.
Sebelum bekerja sebagai pengemudi ojol pada 2022, dia bekerja sebagai satpam di kawasan Menteng. Affan juga diketahui sudah bekerja lepas sejak 2015 setelah dia tidak melanjutkan pendidikan tingkat sekolah menengah pertama.
Dia diketahui masih menjalankan pekerjaannya sebagai pengojek daring pada hari unjuk rasa. Dari bukti pesanan yang dia terima pada hari tersebut, Affan tidak ada niat untuk terlibat langsung dalam aksi demonstrasi.
Kejar Peluang Kerja
Asep dan Affan bisa disebut sebagai “korban” janji kampanye Pilpres 2024 untuk buka 19 juta lapangan kerja. Andai peluang kerja itu ada, dapat dipastikan kedua pengemudi ojol ini – dan jutaan lainnya – bakal mengejar peluang tersebut.
Jumlah pengemudi ojol di Indonesia sering menjadi pertanyaan di masyarakat. Sejumlah lembaga menyatakan jumlah driver ojol yang berbeda-beda. Mereka terpaksa bekerja sebagai pengemudi ojol karena tak ada pilihan lainnya.
Data terbaru datang dari Government Relations Specialist Maxim Indonesia Muhammad Rafi Assagaf. Namun, dia tidak merinci apakah jumlah ini sudah mencerminkan driver ojol saja atau mencakup kurir online dan taksi online.
“Yang kita bisa tahu lebih dari 7 juta mitra yang memang menaruh harapan hidupnya sehari-hari di industri ini,” kata Rafi saat berdiskusi dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Aroem Resto & Cafe Jakarta, dilansir CNN Indonesia.
Data lainnya dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Anggoro Eko Cahyo saat masih menjabat Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan menyebut ada 2 juta driver ojol.
Pada acara Quo Vadis Ojek Online: Status, Perlindungan, dan Masa Depan ditemui di Plaza BPJAMSOSTEK, Jakarta, Anggoro menyebut baru 250 ribu driver ojol telah terlindungi BPJS Ketenagakerjaan. Dia berkata masih ada 1,75 juta orang driver ojol yang belum terlindungi asuransi.
Pada 2020, Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia menyebut jumlah driver ojol mencapi 4 juta orang. Kata Ketua Umum Garda Indonesia Igun Wicaksono, 1 juta orang di antara beroperasi di Jabodetabek.
Pendapatan Menurun
Survei dari Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menunjukkan kecenderungan penurunan pendapatan driver ojol.
Rata-rata pendapatan driver ojol prapandemi (2018-2019) Rp 304.688 per hari. Angka itu turun ke Rp 100 ribu per hari saat pandemi (2020-2021). Lalu kembali naik menjadi rata-rata Rp 174.805 per hari pascapandemi (2022-2023).
“Lebih jauh, pendapatan yang semakin turun ini pun harus diraih dengan kerja yang sangat keras. Mitra ojek daring rerata menyelesaikan 10 order per hari, menempuh jarak 42 Km per hari dan menghabiskan waktu kerja hingga 11 jam per hari,” kata IDEAS dalam dokumen survei yang dipublikasi 18 Agustus 2023.
Berdasar Survei Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), pendapatan driver ojol hampir sama dengan biaya operasional.
Sebanyak 50,1 persen responden menyatakan bahwa rata-rata pendapatan harian sebagai driver ojol Rp 50 ribu – Rp 100 ribu pada 2022. Sementara itu, 44,1 persen responden mengaku biaya operasional saat narik ojol Rp 50 ribu-Rp100 ribu per hari.
Jika mau jujur, pendapatan sebagai pengemudi ojol ini jelas sangat pas-pasan dan belum tentu mencukupi untuk kebutuhan keluarganya, seperti yang dialami oleh Asep dan Affan itu – termasuk jutaan pengemudi ojol.
Yang untung adalah para operator ojol. Mereka jelas telah menikmati keringat dari para pengemudi ojol. “Potongan untuk operator sekitar 20 persen,” ungkap seorang pengemudi online.
*) Mochamad Toha, Wartawan Senior

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi