Kabupaten Aceh Tamiang Mirip Kota Zombi
Akibat banjir bandang Sumatra, Kabupaten Aceh Tamiang rusak parah. (Foto : Google).KEMPALAN: Banjir bandang Sumatra mengakibatkan ribuan korban jiwa melayang dan rumah-rumah serta sawah dan tegalan rusak parah.
Salah satu yang terparah adalah Kabupaten Aceh Tamiang yang dampak kerusakan diperlihatkan oleh VT (video Tik Tok) dari akun ‘Safren90’ yang disuka oleh 92 ribu penonton dan dikomentari 1.380 orang serta dibagikan oleh 5,2 ribu netizen.
Kota ini digambarkan oleh akun tersebut sebagai mirip kota Zombi.
Kabupaten ini luasnya 1.956 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk 310.480 jiwa.
Dari komentar-komentar yang muncul, saya jadi lebih tahu betapa mengerikan kerusakan bencana itu.
Misalnya begini:
‘@Ervie SiLvaray’ berkomentar: “Jadi Kota Zombi sekarang Aceh Tamiang ðŸ˜.”
Lantas dijawab oleh pemilik akun, ‘@Safren90’ : “Iya Kak, dalam mobil masih ada mayat-mayatnya, Kak. Apalagi di bawah lumpur tu Kak ðŸ˜ðŸ˜”
Akun ‘@✨’ : “Gak kebayang mereka nanti memulai kehidupannya, gimana setelah kejadian ini, sedih banget ya Allah🥺.”
Akun ‘@Capricorn’ menulis : “Plis stop tanam sawit…
mulailah menanam pohon-pohon (heterogen)
seperti sediakala.”
‘@toktelor’ berkomentar’ : “Dan masih belum ditetapkan sebagai bencana nasional, karena takut
kebongkar dalangnya.”
‘@Jasmine’ : ‘Udah kaya tsunami ya, serem banget🥺.”
‘@Safren90’ menjawab : “Lebih, Kak. Ini banjir lumpur, tsunami air seret ke laut. Kakak tahu, mayat-mayat di bawah lumpur sama di dalam mobil-mobil tuh, masih ada sampek sekarang, belum diambil, nggak ada bantuan ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.”
‘@Panggil Eca aja’ menulis : “HANYA SUNGAI BISA BUAT SEHANCUR INI LOH, APALAGI KALAU LAUTAN😔
Jawab ‘@Safren90’ : “Lautan lebih serem Kak, tapi nggak ninggalin lumpur. Ini lumpurnya serumah, Kak. Mayatnya banyak di-bawah2 ituuu…ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.”
___
Melihat VT yang diunggah oleh akun di atas, saya jadi ingat salah satu “Catatan Pinggir” Goenawan Mohamad, yang salah satu alinea mengutip ucapan Mahatma Gandhi : “Bumi cukup untuk semua orang, tapi tak cukup buat satu orang serakah.”
(Amang Mawardi).





