Segera Terbit Buku “Biografi Puisi – Jiwa Tampak Rohan”.
KEMPALAN : Jurnalis senior Amang Mawardi, 72 tahun, segera meluncurkan buku ke-18 karyanya, berjudul : “Biografi Puisi – Jiwa Tampak Rohan”.
Buku ini berisi tinjauan atas 24 puisi dan 3 lirik lagu yang terhimpun dalam buku kumpulan puisi “Bicaralah yang Baik Baik” karya M. Rohanudin, praktisi penyiaran yang juga dikenal sebagai penyair.
Amang Mawardi selain dikenal sebagai jurnalis senior, juga aktif di dunia sastra. Suami dari seorang istri, ayah dari tiga orang anak, dan kakek dari 3 orang cucu ini, juga telah menulis dua kumpulan puisi tunggal.
Semua tinjauan Amang Mawardi yang ada di buku puisi setebal 144 halaman ini, sebelumnya pernah dimuat di portal berita kempalan.com.
Menurut Amang, rata-rata puisi yang ada di buku kumpulan puisi “Bicaralah yang Baik Baik” memiliki gaya ungkap ekspresionisme — bermuatan patriotik, kritik sosial, dan sorotan terhadap lingkungan hidup.
Namun demikian, beberapa puisi lainnya menuansakan sudut-sudut reliji dan spiritual yang sarat kontemplasi.
“Biografi Puisi – Jiwa Tampak Rohan” ini diberi pengantar oleh akademisi dan budayawan Prof. Dr. Soetanto Soephiady.
Isi pengantarnya, antara lain begini :
Salah satu aspek kreativitas yang menyangkut kepenulisan, oleh Jacob Brownoski matematikawan, biolog, dan penulis Inggris kelahiran Polandia dinyatakan bahwa karya sastra apapun bentuknya harus bersifat personal.
Hal di atas terkait erat dengan gagasan tentang keunikan individu, nilai-nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab moral dalam konteks sains dan masyarakat.
Dalam hal tersebut, personal juga diartikan sebagai upaya kreatif individual berlatar belakang nilai-nilai humanisme. Jadi, kreativitas personal erat kaitannya dengan intelektualitas tinggi. Salah satu contoh, gaya tulisan Amang Mawardi telah menunjukkan jati dirinya yang tidak dimiliki oleh penulis lain. Kemelekatan jadi diri, salah satu ciri intelektual.
Dalam strategi kebudayaan, apa yang telah dibahas oleh Amang Mawardi di buku ini
merupakan jalinan antara kreativitas dengan konsep strategi kebudayaan.
Meskipun menuansakan tulisan seorang jurnalis, Amang Mawardi berpegang pada konsep estetika, yakni cabang ilmu filsafat yang membahas tentang keindahan, seni, dan rasa, serta apresiasi manusia terhadapnya. (adi).









