Terhambat Foto, Syaikhona Kholil Terima Gelar Pahlawan Setelah Lima Tahun Diusulkan

waktu baca 5 menit

SURABAYA-KEMPALAN: Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar tasyakuran atas penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (15/11) malam.

Sebelumnya, di tempat yang sama Pemprov Jatim telah menggelar tasyakuran  gelar pahlawan nasional untuk KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Marsinah pada 12 November 2025 lalu.

Tiga tokoh asal Jawa Timur ini menerima anugerah gelar pahlawan nasional bersama tujuh tokoh lainnya dari Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Pahlawan di Istana Merdeka, 10 November 2025 lalu.

Yang menarik, ternyata Syaikhona Kholil Bangkalan sebenarnya sudah diusulkan sebagai pahlawan nasional sejak 2021, saat pemerintahan Presiden Jokowi. Tapi, baru sekarang terwujud di era Presiden Prabowo. Apa penyebabnya? Problemnya  ternyata foto.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa bersama Wagub Emil Elestianto Dardak dan KH Muhammad Makki Nasir foto bersama sambil menunjukkan sketsa wajah Syaikhona Muhammad Kholil saat tasyakuran di Grahadi, Sabtu (15/11).malam (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com).

Hal diungkapkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ketika memberikan sambutan pada acara tasyakuran Syaikhona Muhammad Kholil di Gedung Negara Grahadi.

“Saya pernah beberapa kali diajak diskusi oleh Pak Jokowi terkait anugerah pahlawan nasional untuk Syaikhona Muhammad Kholil, tapi belum sempat diwujudkan. Persoalannya cuma satu, Syaikhona Kholil  tidak punya foto. Padahal semua persyaratan sudah terpenuhi,” kata Khofifah.

Namun, lanjut Khofifah, Presiden Prabowo Subinto ternyata tidak terlalu memikirkan soal persyaratan foto tersebut. “Pak Presiden Probowo bilang, tidak ada foto tidak apa-apa, yang penting gelar pahlawan nasional dulu. Sketsa juga boleh,” ujarnya, menirukan ucapan Presiden Prabowo Subianto.

Khofifah baru tahu setelah KH Muhammad Makki Nasir selaku keluarga dari Syaikhona Kholil menyampaikan bahwa ulama kharismatik asal Bangkalan itu memang tidak bisa difoto.

“Itu memang salah satu kharomah dari Syakhona Muhammad Kholil, beliau tidak bisa difoto dan kalau difoto tidak pernah jadi,” kata KH Muhammad Makki Nasir.

Karena itu, sampai sekarang pihaknya tidak punya foto Syakhona Kholil dan tidak pernah ditemukan. “Yang ada sekarang ini hanya berupa sketsa wajah beliau. Bukan foto,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bangkalan M. Fauzan Jafar yang hadir mewakili Bupati Bangkalan mengucapkan terima kadih setinggi-tingginya kepada Presiden Prabowo Subianto atas pemberian gelar pahlawan nasional kepada Syakina Muhammad Kholil.

“Ini untuk perrama kalinya
Bangkalan punya pahlawan nasional. Sungguh kebanggaan yang tidak ternilai bagi kami. Pemerintah Kabupaten Bangkalan dan masyarakat Bangkalan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pengusulan Syakona M. Kholil sebagai pahlawan nasional,” kata Fauzan Jafar dengan penuh semangat.

Menurut Fauzan Jafar, Syaikhona Kholil adalah guru dan ulama besar. Kiprahnya tifak ganya duakui di kancah nadional, tetapi juga internasional. “Beliau sudah kita usulkan sejak tahun 2021 sebagai pahlawan nasional. Alhamdulillah sekarang terwujud,” ungkapnya.

Selain Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, hadir pula Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, Ketua DPRD Jatim Musyafak Rouf,  Anggota DPR RI dari Dapil XI Jatim R. Imron Amin, para OPD di lingkungan Pemprov Jatim, seluruh ormas Kabupaten Bangkalan, dan seluruh anggota organisasi kemasyarakatan.

Nama Syaikhona Kholil sendiri diusulkan sebagai pahlawan karena dinilai menjadi simpul dari pergerakan Islam Nusantara dan penguatan nasionalisme di tahun 1800-an.

Syaikhona Kholil dianggap berkontribusi dalam gerakan nasionalisme dengan aktif memberdayakan masyarakat dalam bidang agama, pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan politik.

Hal itu kemudian menjadi pemantik utama para santri membangkitkan kesadaran politik dan jejaring Islam, yang kemudian menjadi embrio lahirnya gerakan kultural untuk memerangi kolonialisme di Nusantara.

Santri-santri binaan Syaikhona Kholil hampir seluruhnya menjadi pejuang. Di antaranya adalah KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syamsuri.

Atas pemikiran Syaikhona Kholil dan restunya, ketiganya kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Dua nama pertama juga telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional

Selain itu, Syaikhona Kholil yang berasal dari Provinsi Jawa Timur dianggap sebagai pahlawan bidang perjuangan pendidikan Islam. Ia merupakan ulama karismatik yang menempuh jalur pendidikan kultural, sosial, dan agama.

Profil Syaikhona Muhammad Kholil

Syaikhona Muhammad Kholil lahir 25 Mei 1835 di Kramat Bangkalan, Jawa Timur. Namanya dikenal sebagai guru para ulama besar. Salah satunya adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Muhammad Hasyim Asy’ari.

Sang ayah adalah Kiai Haji Abdul Latif. Dia adalah anak dari Kiai Hamim yang merupakan anak Kiai Abdul Karim. Kiai Abdul Karim dilaporkan merupakan anak Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman.

Sayyid Sulaiman merupakan cucu dari Sunan Gunung Jati. Sedangkan ibunya bernama Syarifah Khodijah. Dia putri dari Kiai Abdullah bin Ali Akbar bin Sayyid Sulaiman.

Kiai Kholil menempuh pendidikan di berbagai pesantren Jawa dan Madura, kemudian melanjutkan studi ke Makkah selama bertahun-tahun. Di sana, Syaikhon Kholil memperdalam ilmfiqih, tafsir, hadis, tasawuf, dan berbagai disiplin keilmuan Islam klasik.

Di Tanah Suci, Syekh Kholil berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, dan Syekh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani.

Sepulangnya ke Tanah Air, ia mendirikan dan mengembangkan Pesantren Kademangan, Bangkalan. Pesantren ini kemudian menjadi salah satu pusat keilmuan penting di Jawa dan melahirkan banyak ulama besar, termasuk KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.
Karena perannya sebagai guru ulama-ulama besar, ia dijuluki “Syaikhona,” gelar kehormatan tertinggi dalam tradisi keulamaan Madura.

Syaikhona Kholil Bangkalan juga dikenal mempunyai banyak karomah. Selain tidak bisa difoto, ia juga mampu berada di dua tempat sekaligus untuk membantu orang lain, mengubah air laut menjadi susu atas kehendak Allah SWT di hadapan santrinya, dan berguru dalam mimpi untuk menguasai kitab-kitab agama, seperti Alfiyah Ibnu Malik

Karomah ini menjadi bukti kewalian beliau dan juga mencakup aspek intelektual, seperti menguasai kitab secara singkat. 

Bahkan, pernah ada petani timun Bangkalan yang mengeluh kebunnya dicuri. Setelah menemui Syekhona Kholil, para pencuri iti tidak bisa bergerak seperti patung.

Selain itu, Syaikhona Kholil dikabarkan bisa berjalan di atas air dan beberapa kali bertemu dengan Nabi Khidir. Wallahu’alam.

Usia Syaikhona Kholil sendiri mencapai sekitar 105 tahun. Ia wafat pada 1925 dan dimakamkan di Bangkalan. (Dwi Arifin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *