
SURABAYA-KEMPALAN: Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Jawa Timur dan seluruh pengisi acara rangkaian Upacara HUT ke-80 Kemerdekaan RI Tahun 2025 secara resmi telah dibubarkan, Minggu (17/8) malam. Namun ada kenangan yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh mereka yang terlibat.
Setidaknya oleh dua anggota Paskibraka Jatim, Muhammad Andrian Saputra dan Trisnia Isni Susilowati. Kedua mengaku bangga bisa terpilih menjadi anggota Paskibraka Jatim. Apalagi keduanya berasal dari keluarga sederhana.
Muhammad Andrian Saputra, misalnya. Siswa SMKN 1 Purwosari, Kab. Pasuruan ini merupakan putra dari seorang kuli bangunan dan asisten rumah tangga. Kendati demikian ia tidak berkecil hati atau membuatnya menyerah untuk terus meraih cita-cita.
“Meskipun saya berasal dari keluarga sederhana, namun kesederhanaan itu tidak mematahkan semangat saya untuk menjadi Paskibraka,” aku Andrian ketika ditemui di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

Ia pun menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak menyerah untuk menggapai cita-cita.” Saya tidak peduli dari keluarga apapun, siapapun bisa jadi apapun,” ujar Andrian yang mengaku tidak menyangka bisa terpilih sebagai anggota Paskibraka Jatim.
Pasalnya, selain seleksinya sangat ketat, awalnya ia punya badan kecil dan mempunyai tinggi kurang ideal. Waktu mau masuk SMK tingginya hanya 160 cm.
“Tapi, berkat latihan keras dan suplemen yang saya minum, sekarang tinggi saya mencapai 178,5 cm,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara kelahiran 7 Februari 2008 ini.
Begitu juga dengan Trisnia Isni Susilowati. Anggota Paskibraka siswa SMAN 1 Pasirian, Kabupaten Lumajang ini mengatakan, meskipun orang tuanya penjual cilok tak sedikitpun menyurutkan langkah kakinya untuk mengikuti seleksi Paskibraka Jatim hingga akhirnya lolos.
Karena itu, Trisnia mengaku bangga akhirnya bisa terpilih setelah melalui seleksi yang sangat ketat dan susah. Ia pun berharap suatu saat nanti dirinya mampu meraih cita-cita dan bisa membahagiakan orang tuanya.
“Di rumah itu hanya ada sepeda motor Supra. Karena setiap hari saya seleksi harus berangkat jam 5 pagi, jadi Mama selalu mengantar saya seleksi di Kabupaten yang memakan waktu sekitar satu jam dari rumah saya,” katanya.
“Insya Allah kalau cita-cita tercapai, saya ingin membelikan orang tua HP dan memberikan semua fasilitas yang orang tua butuhkan dan inginkan,” pungkas Trisnia yang mengaku lahir di Lumajang, 13 Juli 2008. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi