Rabu, 1 April 2026, pukul : 13:13 WIB
Surabaya
--°C

Penyair yang Puisinya Dilagukan

KEMPALAN: Ada dua tipe penyair yang (sebagian) puisi-puisinya dimusikalisasi, atau puisinya berfungsi sebagai lirik yang kemudian dikonversi menjadi lagu.

Kesatu, penyair yang puisinya dilagukannya sendiri. Contoh : Ebiet G. Ade.

Kedua, penyair yang puisinya dilagukan oleh seniman lain. Contoh : puisi-puisi Taufik Ismail yang dibawakan Trio Bimbo.

Selain Ebiet dan Bimbo ada proyek musikalisasi oleh Kantata Takwa yang dimotori Setyawan Jodi berkolaborasi dengan Rendra, Iwan Fals, Jockie Surjoprajogo, Sawung Jabo, dibantu Totok Tewel — puisi-puisi Rendra digubah menjadi lagu antara lain ‘Paman Doblang’.

Chrisye juga membuat musikalisasi puisi Taufik Ismail dalwm lagu ‘Ketika Mulut Terkunci’.


Puisi yang bagus akan menghasilkan lagu yang bagus.

Jujur, pernyataan di atas masih sebatas hipotesa. Butuh penelitian lebih dalam.

Namun, setidaknya, yang dilakukan Ebiet G. Ade membuktikan hal itu.

Demikian juga dengan puisi-puisi Taufik Ismail yang dilagukan oleh Trio Bimbo. Saya rasa tak ada yang meragukan.

Termasuk yang dilakulan Kantata Takwa dan Chrisye.


Dalam buku kumpulan puisi Bicaralah yang Baik Baik karya penyair M. Rohanudin, terdapat tiga puisi yang kemudian dimusikalisasi. Salah satu di antaranya adalah puisi berjudul ‘Kau yang Teduh’ (halaman 70 ) yang dibawakan penyanyi Andi Rizka Mallarangeng.

Agaknya Rohan sadar manakala puisi untuk dilagukan tidak memerlukan kalimat-kalimat panjang, atau bait-bait yang banyak sebagaimana sebagian besar puisi-puisinya yang ada di buku ini. Yang penting pesan yang disampaikan lewat lirik tersebut cukup mengena, begitu kira-kira.

Apa sih kriteria lirik yang baik?

Mungkin bisa dinilai dari beberapa aspek, tergantung pada genre, tujuan, dan seberapa besar dampaknya pada pendengar.

Mungkin ini beberapa karakteristik dari lirik lagu yang dianggap baik:

Yang bisa membangkitkan emosi, atau resonansi dengan pendengar.

Yang menceritakan kisah atau pengalaman empiris. Juga yang mengilustrasikan refleksi masyarakat sehari-hari, baik yang sentimentil maupun yang gagah berani menghadapi kehidupan.

Yang menyisipkan metafora atau imajinasi kuat dengan penggunaan bahasa ungkap kreatif.

Selain itu : Lirik yang menarik biasanya manifestasi dari ungkapan emosi psikologis; Lirik yang menarik umumnya bisa menjadikan pendengar merasa terhubung dengan lagu.

Namun, penilaian tentang lirik lagu yang “baik”, bisa subjektif — tergantung pada selera dan preferensi pendengar. Juga segmentasi.


Sebelum kita menelaah syair atau lirik ‘Kau yang Teduh’, baiknya kita muat lengkap.

KAU YANG TEDUH

Kau yang teduh
Ajari aku mencari waktu
yang tepat memanggil namamu
Walau tak percaya
Waktu itu akan kuraih
karena kau betapa
lebih dari semua diriku

Kau yang teduh
Ajari aku mampu menceritakan tentang dirimu
karena aku tak sanggup membacamu
Walau kutahu kau takkan mungkin melakukannya
karena kau dan aku berbeda

Kau yang teduh
Ajari aku merebut dirimu
Dan pada saatnya kau akan menjadi diriku yang sesungguhnya

Kau yang teduh
Ajari aku
Merebut dirimu dan pada saatnya
Kau akan menjadi diriku yang sesungguhnya

Puisi ini tampaknya mengekspresikan kerinduan dan keinginan untuk lebih dekat dengan seseorang atau sesuatu yang disebut “Kau yang Teduh”.

Di samping itu, puisi ini memiliki tema tentang hubungan yang diharapkan bisa lebih intens dan pemahaman terhadap ‘kau’ yang misterius serta sesuatu yang berbeda tapi didambakan oleh ‘aku’.

Agaknya Rohan sebagai manifestasi ‘aku’ ingin belajar mencari waktu yang tepat untuk hadir pada sesuatu yang disebut : ‘kau’.

Selain itu, puisi ini menekankan perbedaan antara ‘kau’ dan ‘aku’, menunjukkan adanya jarak atau “kabut” yang menghalangi ‘aku’. Seperti ada gap.

Di sisi lain, Rohan ingin merebut ‘dirimu’ (kau), untuk kemudian ‘kau’ bisa menjadi bagian dari dirinya.

Puisi ‘Kau yang Teduh’ atmosfernya reflektif, mengeksplorasi dinamika hubungan antara dua personal atau boleh jadi dua entitas yang berbeda.

Kalau kita telaah lebih jauh lagi, pada mulanya Rohan menggambarkan posisinya dengan ‘kau’ seperti tak dapat disentuh, sebagaimana bunyi baris-baris kalimat ini :

Kau yang teduh
Ajari aku mampu menceritakan tentang dirimu
karena aku tak sanggup membacamu

Namun dibalik sikapnya yang rendah hati nyaris “skeptis”, nyatanya berubah menjadi optimisme bahwa sesuatu yang menjadi dambaan itu harus “direbut”, mesti diperjuangkan, sebagaimana bait ke-3 yang direpetisi oleh bait ke-4 :

Kau yang teduh
Ajari aku
Merebut dirimu dan pada saatnya
Kau akan menjadi diriku yang sesungguhnya

Repetisi bait ini menunjukkan betapa Rohan begitu gigih mendambakan pencapaian tujuan perjuangannya. Karena itu saya menganggap bahwa puisi atau lirik ‘Kau yang Teduh’ bukan dimensi tunggal melainkan dimensi majemuk yang konotatif.

Penikmat lirik ini boleh-boleh saja beranggapan bahwa ini adalah gambaran seseorang yang sedang menaruh harapan kepada dambaan hatinya.

Namun, bisa juga orang beranggapan bahwa ini adalah upaya untuk mencapai cita-cita bukan sekadar perkara (katakanlah) asmara, melainkan sesuatu yang lebih kompleks dan agung daripada itu : keadilan sosial misalnya.


Dari beberapa kriteria tentang puisi yang bagus itu yang bagaimana, ‘Kau yang Teduh’ hampir mencakup semuanya, terutama pada poin : yang menyisipkan metafora atau imajinasi kuat dengan penggunaan bahasa ungkap kreatif.

Boleh jadi hal di atas segaris dengan ungkapan Jalaluddin Rumi penyair asal Irak bahwa konsep “lagu yang baik” lebih terkait ekspresi spiritual daripada aspek musikal biasa. Dan itu sesuatu yang universal. Oleh sebab itulah puisi atau lirik ‘Kau yang Teduh’ saya pahami sebagai dimensi majemuk yang konotatif. (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.