KEMPALAN : Kalau Anda dekat saya, lantas terlibat percakapan, lantas secara tidak sengaja maupun sengaja mengamati (maaf) mulut saya, maka terlihatlah gigi saya yang “masih utuh”. Tentu saja itu salah besar. Gigi saya sebetulnya tinggal 4 biji. Kok (sepertinya) masih utuh? Ya, Anda benar, saya memakai rentetan gigi palsu (gipal). Baik yang sisi atas maupun bawah.
Saya sering kuatir jika sedang bercakap-cakap dengan keras, atau saat sedang membaca puisi, tiba-tiba –maaf– salah satu rentetan gipal saya yang cuma diikatkan dengan kawat ke satu-dua gigi yang utuh, copot dan meloncat keluar.
Maklum ini gipal murahan. Konon untuk yang implan sebagaimana pernah saya baca di google, per biji “gigi” biaya pemasangan dan harga bahannya antara Rp 7,5 juta – Rp 25 juta.
Saat saya menjadi Direktur Pelaksana Festival Seni Surabaya tahun 2000 (Direktur Utama-nya Cak Kadar almarhum), pada pembukaan di Balai Pemuda yang antara lain dihadiri oleh Gubernur Imam Utomo, pidato saya dipuji habis-habisan oleh Bambang Sujiyono salah satu penggiat seni di Surabaya.
“Dungaren (tumben) pidatomu apik banget, isi dan penyampaiannya tersusun rapi. Step by step. Top pokoke,” komentar beliau.
Pada setiap akhir 2-3 alinea selalu disambut dengan tepuk tangan. Ini pidato tanpa teks. Improvisasi. Tentu saja tepuk tangan terpanjang terdengar saat saya mengakhiri pidato. Intinya irama pidato saya waktu itu tidak kesusu, tidak tergesa-gesa.
Lantas BS (panggilan Bambang Sujiyono) saya beri tahu rahasianya.
“Gipalku ada sedikit rusak, yang tidak pas kaitannya. Kalau saya ngomong agak keras, saya kuatir mencelat, lompat dari mulut, Mas.”
Kesimpulan saya waktu itu, pidato yang enak didengar itu, ya yang tidak menggebu-gebu.
BS lantas tertawa terpingkal setelah mendengar penjelasan saya. (Al Fatihah untuk BS dan Cak Kadar. Semoga damai di sisi Sang Khaliq…).
Sebulan lalu, salah satu dari 4 gigi saya, berlubang dalam. Posisi ada di sisi bawah. Sudah lama sih sakitnya, tapi tidak begitu saya rasakan. Tapi saat sebulan lalu itu, sakitnya bukan main. Sakit sesakit-sakitnya. Mungkin karena itulah Dahlan Iskan dalam salah satu tulisannya di Jawa Pos sekitar 30 tahun lalu menyatakan: “Saya lebih baik sakit hati daripada sakit gigi”.
Ya, mungkin karena saking sakitnya.
Di situ diceritakan, sakit gigi DiS itu dibawa ke dokter gigi di Jalan Sedap Malam, Surabaya, yang kata DiS ini mungkin dokter gigi yang taripnya paling mahal se-Indonesia. Dan bayarnya bisa pakai cek. Bayangkan itu sekitar 30 tahun lalu.
Lantas dia tulis pengalaman itu bahwa tidak setuju dengan syair lagu “lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati”. Saya lupa siapa nama penyanyi lagu itu. Mungkin Meggy Z. Atau mungkin Yopie Latul.
“Saya lebih baik sakit hati daripada sakit gigi…,” tulis Dahlan Iskan yang pengalaman berobat ke dokter gigi di Jalan Sedap Malam tersebut, diturunkannya di halaman 1 bawah kanan.
Tapi buat saya, sakit paling gak enak itu ya sakit vertigo, ngatang-ngatang gak bisa apa-apa. Bumi terasa berputar.
Kalau sakit gigi masih bisa jalan ke kamar tamu, dapur, atau ke toilet. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi