KEMPALAN: Sumi Dasco Ahmad menjadi the rising star dalam lanskap politik Indonesia di era Presiden Prabowo Subianto. Beberapa manuver politik yang dilakukan Dasco menunjukkan bahwa dia adalah ‘’the main man’’, orang yang sangat penting bagi Prabowo.
Dulu di era Jokowi ‘’the main man’’ ialah Luhut Binsar Panjaitan atau LBP. Sangat powerful dan sangat dipercaya oleh Jokowi. LBP diberi belasan jabatan. Menteri serba bisa. Apa saja bisa dijabat oleh LPB, kecuali menjadi ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia).
Tiap masa ada orangnya, dan tiap orang ada masanya. Sekarang era LBP sudah mulai pudar. Ia masih mencoba bertahan, tapi perannya semakin mengecil. Dalam beberapa kesempatan LBP masih terlihat sebagai orangnya Jokowi ketimbang orangnya Prabowo.
Zaman sudah berubah. Setelah Lord Luhut memudar kini muncul Dasco sebagai pengganti. Sama dengan LBP yang dijuluki ‘’The Lord’’, Dasco dijuluki sebagai ‘’Don Dasco’’. Julukan ini tidak sepopuler The Lord, tapi julukan Don Dasco cukup banyak dikenal di lingkungan elite politik.
Julukan ini bisa menjadi complimentary, sanjungan dan penghormatan, bisa juga menjadi prejorative atau merendahkan. Sebutan Don dikaitkan dengan kepala keluarga mafioso Italia.
Tapi tidak selalu negatif. Pelatih Real Madrid Carlo Ancelotti dari Italia dijuluki sebagai Don Carlo atau Don Carletto. Julukan ini positif dan komplementari karena Ancelotti berhasil memenangkan lima tropi Liga Champions untuk klub sepak bola Real Madrid, Spanyol. Atas kehebatan ini Ancelotti disejajarkan sebagai kepala keluarga mafia sepak bola yang sangat powerful dan berpengaruh.
Dalam dunia mafia julukan Don diberikan kepada kepala keluarga mafia tertinggi. Don Corleono adalah julukan bagi Godfather mafia Sisilia yang sangat berkuasa dan ditakuti. Di Amerika, Al Capone adalah godfather jaringan mafia yang tidak tersentuh hukum, seperti digambarkan dalam film ‘’The Untouchables’’ yang dibintangi oleh Kevin Kostner.
Para Don itu menjadi godfather yang mempunyai jaringan anak buah yang bekerja klandestine, di bawah tanah. Para Don itu tidak suka publikasi dan jarang tampil di depan publik. Kendati demikian, kekuasaannya besar dan tidak terbatas.
Don Dasco punya jaringan yang luas dan kuat. Di lingkungan elite politik sekarang muncul istilah ‘’Kabinda’’ dan ‘’Adidas’’ untuk menggambarkan jaringan Don Dasco. Kabinda adalah akronim dari ‘’Kader Binaan Dasco’’, dan Adidas akronim dari ‘’Anak Didik Dasco’’.
Kabinda terdengar lebih seram karena seperti berasosiasi dengan BIN (Badan Intelijen Negara). Sedang Adidas terdengar lebih segar karena berasosiasi dengan merek sepatu.
Don Dasco memegang peran penting dalam banyak peristiwa politik strategis. Pertemuan politik Prabowo Subianto dengan Megawati Soekarnoputri pekan ini adalah hasil kerja Don Dasco.
Don Dasco menjadi mastermind di balik bergabungnya Prabowo Subianto dengan Jokowi pasca pilpres 2019. Peretamuan ikonik di MRT antara Prabowo dan Jokowi menjadi prestasi cemerlang Don Dasco dan menandai perubahan drastis strategi politik Prabowo menuju kekuasaan.
Don Dasco menjadi operator politik Prabowo yang paling efisien dan efektif. Ia menjadi ketua harian Partai Gerindra dan mempunyai gelar profesor di belakang namanya. Sempurna sudah sosoknya sebagai seorang Don.
Mungkin gambarannya fisiknya tidak match dengan sosok Godfather seperti Don Carleote atau Al Capone. Don Dasco lebih mirip dengan Napoleon Bonaparte yang kecil dan imut, tapi jago dalam mengerahkan pasukan di peperangan.
Momen pertemuan KRL antara Jokowi dengan Prabowo menandai kemenangan faksi Don Dasco di Partai Gerindra. Strategi oposisi yang diterapkan oleh Prabowo melawan Jokowi berubah 180 derajat menjadi straregi kooperasi.
Dalam tempo lima tahun Prabowo bisa membuktikan diri sebagai sekutu terpercaya Jokowi dan kemudian menjadi ‘’the heir’’, pewaris politik Jokowi. Strategi pragmatis ala Don Dasco terbukti ampuh membawa Prabowo ke tampuk kekuasaan yang diimpikan.
Kemunculan Don Dasco berhasilkan menyisihkan faksi Fadli Zon dari ring satu Prabowo. Sejak 2019 Fadli Zon digrounded dan dipaksa untuk tutup mulut. Fadli Zon yang semula vokal terhadap Jokowi mendadak senyap.
Selama lima tahun masa pemerintahan Jokowi Fadli Zon dikenal sebagai pengritik utama. Bersama Fahri Hamzah di DPR RI Fadli Zon dikenal sebagai ‘’ganda putra’’ yang setiap saat selalu mengkritik tajam Jokowi.
Duet maut Fadli Zon-Fahri Hamzah tidak segan menyebut Jokowi sebagai plonga-plongo yang identik dengan sebutan bodoh. Duet maut juga menjuluki Jokowi sebagai Prabu Kantong Bolong.
Fadli Zon menjadi orang dekat Prabowo sejak Prabowo masih tentara muda yang berambisi menjadi presiden. Fadli meyakinkan Prabowo bahwa untuk menjadi presiden dia harus berbaik-baik dengan kalangan Islam garis keras. Maka Fadli membawa Prabowo untuk dekat dengan kalangan Islam politik.
Tapi strategi ini dianggap gagal tiga kali dalam pilpres. Maka Prabowo meninggalkan Fadli Zon dan merangkul Don Dasco. Peran Fadli Zon semakin suram sehingga hanya diberi hadiah hiburan sebagai menteri kebudayaan.
Don Dasco bisa menjadi ‘’The Untouchables’’ yang tak tersentuh. Namanya dikaitkan dengan mafia judi Kamboja. Tapi Don Dasco bergeming.
Ia tidak menjadi menteri. Dia ‘’hanya’’ menjadi wakil ketua DPR RI plus Ketua Harian Partai Gerindra. Tapi, semua tahu, Don Dasco lah yang sekarang memegang kuasa.
(*) Dhimam Abror Djuraid

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi