KEMPALAN: Komunitas muslim Indonesia di Amsterdam memiliki masjid dan fasilitas madrasah, sejak 2005. Selama Ramadhan tahun ini Masjid Euro Muslim ini menyelenggarakan banyak kegiatan yang diikuti oleh warga muslim, termasuk anak-anak milenial.
Gedung itu dibeli dengan uang sumbangan dari anggota dan donatur. Selain menyediakan tempat shalat, gedung juga menjadi tempat kegiatan pendidikan keagamaan anak dan remaja setiap Minggu, istigotsah setiap Sabtu pertama setiap bulan, serta acara diskusi dan temu budaya.
Sudah banyak tokoh Indonesia yang berkunjung ke gedung ini dan berdialog dengan masyarakat Indonesia di Belanda..
Berikut ini wawancara Abdul Aziz Bayaqub jurnalis Kempalan.com di Amsterdam dengan salah satu penanggung jawab masjid Indonesia di Amsterdam, Meneer Sofyan Saleh Al alamudi warga negara Belanda.
Sofyan adalah anak dari Saleh Al amudi, warga keturunan Arab Jl. KHM. Mansyur Surabaya yang lahir, tumbuh besar dan lulus kuliah di Belanda. Dia telah menikah dengan warga negara Indonesia yang juga telah menetap lama di Belanda.
Saat wawancara ini Sofyan didampingi pengurus takmir harian masjid Euro Muslim di Amsterdam, Belanda, Meneer Faisal Rizky, orang Belanda muallaf.
Kempalan: Assalaamu alaikum, Bapak-Bapak sekalian. Semoga semua amal ibadah kita diterima Allah SWT selama bulan Romadhon ini, Insya Allah, aaaamiin. Mohon informasinya mengenai sejarah didirikannya masjid Euro Muslim Indonesia di Amsterdam ini?
Meneer Sofyan: Alhamdulillah, awal keberadaan masjid ini mulai pada sekitar tahun 1970 atau 1980-an lalu. Pada waktu itu kami masih mengontrak. Kemudian, alhamdulillah di tahun 2005 kita mampu membelinya dengan dana sumbangan dari masyarakat muslim hingga saat ini.
Kempalan: Bagaimana kegiatan masjid ini setelah dibeli oleh masyarakat Indonesia disini?
Faisal Rizky: Setelah kita memiliki masjid ini, kemudian kita mulai mempunyai imam tetap untuk sholat lima waktu. Kebetulan, imam masjid tersebut lulusan Sekolah Tinggi Ali bin Abi Thalib ( STAI ) Surabaya bernama Ustadz Agus. Lalu, masjid ini juga berfungsi sebagai taman pendidikan agama Islam bagi anak – anak Indonesia yang lahir dan tinggal serta bersekolah atau kuliah di Amsterdam khsusnya dan di Belanda pada umumnya.
Dan juga sebagai sarana pernikahan dan tempat beramah tamah antar warga lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengobati rasa rindu akan kampung halaman, teman atau keluarga yang ada di Indonesia. Masjid ini juga menerima bimbingan orang non muslim yang ingin masuk Islam. Intinya, masjid ini terbuka untuk pendidikan agama bagi bapak-bapak, ibu – ibu, anak – anak, orang non Indonesia dari negara manapun serta bagi non muslim yang ingin belajar agama maupun yang ingin masuk Islam. Pendidikan agama Islam untuk anak selalu diadakan pada hari Minggu, tausiah khusus untuk remaja juga ada. Tentunya tausiah pada umumnya juga diadakan . Masjid ini juga mengadakan lomba Tilawatil Qur’an untuk anak anak.
Kempalan: Sudah berapa lama Anda menjadi seorang muslim, serta bisakah anda ceritakan sedikit tentang keluarga anda?
Faisal Rizky: Saya masuk Islam tahun 2000, Istri saya orang Medan, anak saya satu laki – laki berumur 22 tahun sekarang.
Kempalan: Bagaimana ceritanya dulu Anda memilih Islam sebagai agama Anda?
Faisal Rizky: Ketika saya berlibur ke Istanbul Turki, kita berkunjung ke masjid Hagya Sofia. Di dalam masjid saya merasakan suasana yang tenteram, damai, lain daripada biasanya. Tahun 1999 saya berlibur ke pulau Sumatera, Indonesia. Disana saya berjumpa dengan seorang wanita muslim Medan, Sumatera, Indonesia, jatuh cinta. Lalu menikah dengan wanita tersebut. Saya rasa ini juga merupakan salah satu cara Allah memberi hidayah untuk membuat saya menjadi seorang muslim. Di Belanda sekarang, jumlah orang Belanda yang sudah masuk Islam kurang lebih 15.000 orang. Setiap tahun rata – rata 600 orang pria maupun wanita masuk Islam.
Kempalan: Anda mendapat data tersebut darimana?
Faisal Rizky: Saya baca dokumen tersebut dari sebuah surat kabar online lokal. Dahulu orang Belanda banyak yang taat pada agama kristen mereka. Sekarang, mohon maaf, banyak orang Belanda yang tidak beragama (ateis). Pada hari Ahad, banyak mereka yang kosong, tidak dihadiri jamaat Kristen. Di lain pihak orang Islam makin bertambah. Orang Islam mempunyai banyak anak, cinta anak. Orang Belanda sangat cinta anak – anak, namun banyak yang lebih suka memelihara anjing ataupun kucing serta tidak suka punya anak banyak.
Kempalan: Kami mendengar kabar, bahwa di Belanda banyak gereja yang sepi, dan tutup. Benarkah demikian?
Faisal Rizky: Ya benar sekali kabar itu. Anak – anak muda Belanda mulai malas serta tidak percaya dengan ajaran dari gereja.
Kempalan: Mengenai gedung, nampaknya beli gedung di Belanda, gampang dan murah sekali. Berapa minimal harga beli gedung di Belanda, khususnya di kota Amsterdam?
Faisal Risky: Di negara Belanda tidak ada yang murah dan tidak ada yang gampang. Bila ada niat dan usaha untuk membeli suatu gedung, Insya Allah akan ada jalannya. Di Euro Muslim, salah satu kegiatannya adalah menjual makanan di lingkunganl masjid dan keuntungannya meskipun kecil di sedekahkan untuk masjid.
Kempalan: Berapa harga masjid ini sewakru dibeli dan di tahun berapa?
Faisal Rizky : Masjid ini dibeli pada tahun 2005 lalu dengan harga 600 ribu Euro. Kini seperti Anda saksikan sendiri, masjid ini sudah mulai tidak mampu menampung jamaah yang datang dari hari ke hari, terutama di bulan Ramadhan hingga Idul Fitri. Kami dengan senang hati akan menerima sumbangan amal sodaqoh dari manapun juga, terutama dari saudara kami di Indonesia. (abdul aziz bayaqub/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi