Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 22:29 WIB
Surabaya
--°C

Pengemis Bertopi Rimba

KEMPALAN : Kejadian ini sudah lama, sekitar 10 tahun lalu.

Hari terakhir mudik, kami diantar oleh keponakan menggunakan mobilnya ke stasiun kereta api.

Sebelum lanjut ke Stasiun Tugu, Jogja, mampir di toko oleh-oleh Endang Jaya di kawasan Magelang selatan. Ya, jarak Magelang – Jogja lumayan jauh : 42 kilometer.

Sambil menunggu istri berbelanja di dalam toko itu, saya berdiri di trotoar depan toko tersebut, cuci mata mengawasi suasana kaki lima.

Saya lihat sekilas seorang ibu berkebaya putih menjual pisang dan pepaya. Tidak banyak jumlahnya. Dan buah-buah itu cukup masak, siap dimakan. Mengesankan hasil kebun sendiri.

Saya lihat juga seorang penjual jajanan tradisional seperti gethuk, klepon, srawut dan lain-lain, yang diletakkan di bufet aluminium dan dilengkapi kaca tembus pandang. Rapi dan bersih.

Di depan penjual penganan tradisional itu, duduk bersila di hamparan selembar koran seorang laki-laki pengemis sekira 60-an tahun.

Ia mengenakan baju lengan pendek berbahan jeans yang model jahitannya menampakkan benang besar. Bercelana pendek warna coklat. Dan bertopi kain warna doreng agak buram mirip topi koboi. Mungkin ini yang disebut topi rimba. Juga berkacamata jarak jauh.

Mesti sudah lumayan tua, masih tampak gagah. Bahkan ganteng. Mirip aktor Piet Pagau suami artis Rita Zahara. Tentu saja Pagau lebih berkarakter.

Seandainya dia berjalan di keramaian dan ketemu dengan saya, rasanya sulit untuk mengatakan kalau orang ini pengemis. Tapi kerena sudah duduk di trotoar dan di depannya teronggok rantang bekas yang sudah ada selembar-dua lembar rupiah dan sekian uang logam, itulah penjelasan profesinya.

Situasi ini sedikit membuat saya gamang. Diberi nggak ya… Akhirnya saya ulurkan selembar Rp 2.000. Diterimanya dengan ucapan terima kasih, lantas uang itu diletakkan di rantang rombeng tersebut.

Setelah itu beberapa orang memberinya uang receh.

Pagi itu lalu lalang di trotoar makin ramai meski tidak bisa dibilang uyel-uyelan, berdesakan.

Dari arah utara ada yang menarik perhatian saya. Seorang wanita tua berkebaya dan berkain sederhana tapi bersih, berjalan pelan dengan posisi tubuh bongkok. Bahkan – maaf – lehernya tengeng ke kiri. Seperti melihat ke arah kiri terus. Permanen. Kasihan pengemis tua ini, batin saya. Saya perkirakan lebih tua dari “Piet Pagau” itu.

Ibu tua ini terus berjalan pelan ke arah selatan. Ada keinginan saya kejar untuk saya beri uang. Tapi ibu ini terus berjalan ke arah selatan, terus… terus…terus… nyelip dan tertutup kerumunan.

Saya pun asyik kembali dengan mengamati lalu lalang sekitar. Saya perhatikan seorang pemuda memesan es sinom kepada penjual minuman dengan gerobaknya dorongnya di dekat saya. Wuih…segere, rek, saya membatin.

Tiba-tiba di depan pengemis berwajah mirip Piet Pagau itu telah berdiri ibu bongkok yang tadi ingin saya kejar itu.

Rupanya ibu ini berjalan balik arah, dan berhenti sejenak. Lantas ibu tadi menjatuhkan beberapa uang logam ke dalam rantang pengemis “perlente” tersebut. Terdengar gemerincing nyaris nyaring.

Saya pun terkesima. Lantas tuer-tuer, merenung. Benar-benar surealistis.

Ya, ternyata persepsi itu kesimpulannya adalah sesuatu yang terkadang seringkali belum final. Setidaknya persepsi saya yang salah terhadap ibu bongkok tadi.

Mohon maaf lahir batin nggih, Bu. Ngapunten, ngapunten… (Begitu saya membatin). (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.