Selasa, 28 April 2026, pukul : 06:46 WIB
Surabaya
--°C

Sosok Itu Dipanggil : Titin

KEMPALAN : Suatu waktu di sekitar akhir dekade 1980-an, Log Zhelebour kala itu tidak saja menggelar Festival Musik Rock se-Indonesia, juga mengadakan lomba penulisan kritik musik rock yang diikuti oleh banyak jurnalis se-Indonesia dan masyarakat umum.

Kalau tidak salah, ide lomba penulisan kritik musik rock ini dikemukakan oleh wartawan muda Cahyo Sudarso (almarhum) kepada Log Zhelebour. Lantas disambut antusias oleh Log. Saya lupa saat itu Cahyo masih wartawan Harian Memorandum atau sudah hijrah ke Jawa Pos.

Nah, pada saat ketua dewan juri Bens Leo (almarhum) membacakan nama-nama pemenang secara count down
–dimulai dari juara harapan III– saya yang meliput acara itu, ikut harap-harap cemas, meski tidak ikut lomba penulisan kritik ini.

O ya, pengumuman pemenang lomba karya tulis tersebut dibacakan Bens di atas panggung festival rock pada jeda acara. Saya lupa, mungkin dibacakan sesaat sebelum dewan juri festival rock itu rapat penentuan juara-juara grup musik rock — sebab menunggu Bens Leo selesai membacakan para pemenang lomba penulisan kritik musik tersebut. Sebab, Bens Leo wartawan hiburan beken juga juri lomba festival musik rock se-Indonesia versi Log Zhelebour.

Beberapa pemenang tidak hadir pada malam itu, di antaranya Beni Setia (almarhum; sastrawan, penulis — Caruban) dan Bambang Iss (wartawan Suara Merdeka — Semarang).

Pada saat Bens membacakan nama juara I, saya surprised. Ternyata yang disebut Bens adalah nama seorang wanita. Dan sepertinya saya pernah mendengar nama ini, meski perasaan saya mengatakan tidak pernah bertatap-muka dengannya.

Dan yang bikin saya kaget lagi, saat naik ke panggung untuk menerima hadiah uang sebesar Rp. 600.000 dan piagam, sosok muda yang saya taksir usianya belum 25 tahun, mengenakan jilbab. Saat itu jilbab masih minoritas, berbeda dengan sekarang yang sudah dikenakan mayoritas para wanita.

Sejak itu saya beberapa kali ketemu dengan Noer Soetantini (Sang Juara tersebut) di medan liputan jurnalistik.

Sebelum saya bertemu lagi dengan sosok bergelar Amd (ahli madya) dari Fakultas Kedokteran Gigi Unair ini — sesudah acara penyerahan hadiah untuk wartawati tersebut, saya baca semua naskah pemenang lomba penulisan kritik musik rock di kantor manajemen Log Zhelebour Enterprises, di Jl. Papandayan, Surabaya.

Pantas Titin (panggilan Noer Soetantini) menang. Selain faktor tuturan kalimatnya yang mengalir jernih, juga effort Titin yang tinggi pada riset dan studi kepustakaan.

Sedangkan para pemenang lainnya yang sebagian besar adalah wartawan hiburan : kuat pada pengalaman empiris, namun kurang pada riset dan studi kepustakaan.

Tulisan Titin berimbang, pengalaman empiris dan riset/studi kepustakaan saling mengisi. Saat itu Titin adalah jurnalis Harian Memorandum.


Lebih kurang 2-3 tahun setelah momen kemenangan Titin di atas, kami dipertemukan dalam satu “bendera” yang sama.

Saat saya diajak Pak Yamin Akhmad menangani koran Bhirawa (edisi khusus) yang terbit seminggu sekali, Titin juga ikut bergabung. Pak Yamin sebagai pelaksana harian/general manager, saya didapuk redaktur pelaksana, sedangkan Titin redaktur merangkap reporter. Ada lagi beberapa personel pindahan dari Harian Suara Indonesia.

Dua tahun saya membantu Yamin Akhmad yang akhirnya kami berpisah karena saya ditarik Pak Dahlan ke markas besar Jawa Pos Group di Jl. Karah Agung 45, Surabaya, menjadi pelaksana harian/general manager Tabloid Jawa Anyar.

Dalam kaitan Titin, ada dua memori khusus yang saya ingat saat saya redpel Bhirawa edisi khusus hasil kerja sama Pemkot Surabaya dengan Dahlan Iskan ini.

Pengertian ‘khusus’ disini karena berita-berita yang ditampilkan melulu seputar kebersihan kota dan lingkungan hidup. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang upaya kota Surabaya meraih Adipura.

Suatu hari Pak Dahlan naik ke lantai atas di kantor kami di Jl. Kembang Jepun 166, Surabaya.

Salah satu layar PC (personal computer) kami menyala. Persisnya di mejanya Titin. Di layar PC yang saat itu masih model cembung, tertulis reportase Titin yang rupanya belum diselesaikan (mungkin ditinggal Titin ke toilet, atau Titin pesan makan siang di emperan lantai bawah kantor kami itu).

Saya lihat Dahlan Iskan sambil berdiri membaca tulisan Titin. Lantas dia tanya: “Tulisan siapa ini?”.

Saya jawab : “Titin, Pak!”

“Siapa itu Titin?”

“Pindahan dari Memorandum,” sahut saya.

“Tulisan ini cukup bagus!”, kata Dahlan. “Di masa depan akan lebih bagus seiring dengan banyaknya jam terbang”.

Itu tadi memori pertama. Sedangkan memori kedua, begini :

Titin itu istiqomah. Serius. Tulisan-tulisannya senantiasa in deep reporting. Deskriptif. Detil. Tapi tidak bertele-tele.

Oleh sebab itu dia –kalau tidak salah– satu-satunya jurnalis yang diajak Dinas Kebersihan Pemkot Surabaya meliput penempatan puluhan transmigran yang umumnya mantan pasukan kuning (petugas kebersihan non-PNS), ke Irian Jaya.


Sejak saya menempati pos di Karah Agung, saya beberapa kali ketemu Titin, yang lantas makin jarang.

Setelah dari Bhirawa (Edisi Khusus), Titin bergabung dengan Tabloid Peduli Metropolis (didirikan Yayasan Peduli Surabaya) yang pemimpin umumnya Arifin Perdana (almarhum). Di tabloid itu Titin adalah redaktur pelaksana.

Setelah itu kami makin jarang bertemu. Kabar selentingan menginformasi, Titin bergabung dengan Suara Surabaya Group, menjadi pelaksana harian media digital di grup media itu.

Meski jarang ketemu, kami masih berkomunikasi melalui medsos. Dari postingan-postingannya di Facebook, saya ketahui Titin seringkali meraih juara lomba penulisan tingkat regional maupun nasional.

Dan dari berita-berita yang diposting di medsos itu, sudah lebih dari 30 kejuaraan karya tulis yang diraihnya, salah satunya menjadi Juara I lomba karya tulis tingkat nasional yang diadakan Telkom.


Tanggal 14 Desember lalu, saya diundang (Ustaz) Ferry Is Mirza Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Jatim untuk hadir di salah satu spot kuliner di Sidoarjo. Selain saya, hadir pula di situ wartawan senior Toto Sonata dan Arifin BH.

Sebelum pamit, kami berpose, lantas hasilnya saya unggah di grup WA ‘Wartawan Senior’.

Tak lama kemudian ada yang merespon, “Dimana ini, Pak Amang?”.

Setelah saya perhatikan, di atas kalimat tanya tersebut tertera nama Noer Soetantini.

‘Lho, Titin ada di sini. Saya tak menyangka kalau Titin juga member grup WA ‘Wartawan Senior’ — saya membatin. Lantas saya jawab apa adanya.

Beberapa saat kemudian, otak pengasong saya memberi perintah untuk tindakan lebih lanjut. Tentu saya tidak mengeksekusi saat itu juga. Rasanya kurang etis.

Baru besoknya poster promosi buku baru saya (buku ke-17) ‘Seperti Obrolan Warung Kopi’, saya kirimkan ke nomor WA Titin. Langsung direspon : “Saya ambil 2 ekslempar ya, Pak Amang. Tapi duitnya nanti pas kita ketemu offline. Tolong pilihkan tempat kuliner. Terserah Pak Amang dimana. Dan tolong, Pak Toto diajak.”

Saya agak kaget, kok ngajak makan siang. Mungkin lantaran sudah sekitar 20 tahun tidak jumpa darat.

Tadinya saya usul ketemu di Rumah Makan ‘Lauk Pauk’ Jl. Raya Nginden. Saya pilih lokasi itu karena berada di tengah-tengah di antara rumah Titin dan rumah saya. Sementara itu rumah Titin dan Pak Toto berdekatan.

Ternyata ‘Lauk Pauk’ Nginden sudah tutup permanen, sebagaimana keterangan yang saya baca di Google.

Lantas saya ajukan RM Pecel Bu Kus, Jl. Barata Jaya XX. Titin setuju, hanya dia minta jamnya diundur ke 12.30 dari jadwal sebelumnya yang 10.00. Tanggalnya sama : 17 Desember 2024.

Dari percakapan siang itu, saya nilai Titin lebih bijak, “menep”, dan terlihat bernas kalimat-kalimatnya. Sesekali dia tersenyum menyelipkan cerita tentang kelucuan cucunya.

Saya berusaha tidak menyinggung tentang point-point dia berhasil meraih lebih dari 30-an kejuaraan menulis, sebagaimana kesepakatan sebelumnya, bersamaan saat saya menawarkan buku baru saya tersebut 3 hari sebelumnya. Saat itu Titin menjawab: “Gak usah lah, Pak. Kepanjangan. Lebih baik kita nanti ngobrolin personal branding jurnalis”.

Sebagaimana “kredo” saya bahwa setiap ada pertemuan, saya mesti bawa pulang bahan yang saya anggap penting untuk kemudian saya olah jadi tulisan.

Kesimpulan saya, kalau Titin sekarang makmur, karena kerja keras yang dilakukan semasa muda. Bertahun-tahun. Buahnya dipetik sekarang.

Saat dia mendirikan media online, iklan pun tidak sulit dicari. Institusi dan corporate banyak membantunya dengan pasang iklan display maupun pariwara. Para nara sumber sudah “dibinanya” sejak lama.

Kata Titin, personal branding jurnalis basisnya
cuma dua, yaitu kepercayaan dan kualitas diri. Mungkin yang dimaksud ‘kepercayaan’ disini antara lain senantiasa setia pada komitmen.

“O ya, Pak Amang, Pak Toto, silakan pilih menu apa untuk dibawa pulang,” Titin dengan santun menawari kami.

Saya tetiba ingat ucapan begini : Kalau Anda ditraktir seseorang, jangan pilih hidangan yang paling mahal.

Tentu saya tidak menolak. Maka saya pilih yang standar saja: nasi pecel dengan lauk masing-masing sepotong empal ditambah tahu dan tempe bacem.

Di restoran ini juga menyediakan sop buntut, rawon iga, garang asem, nasi campur, nasi bali, dan beberapa lagi.

Sekitar 1,5 jam kami ngobrol.

Sebelum pamit, Titin mengeluarkan uang Rp 160.000 untuk pembelian 2 eks buku saya ‘Seperti Obrolan Warung Kopi’.

Lantas dia pun mengeluarkan “sesuatu” dari dalam tasnya.

“Pak Toto, Pak Amang, ini titip untuk Ibu, ya…”.

Saya kaget, ternyata ada 2 “plot twist” pada pertemuan siang itu. “Plot twist” pertama, ditawari makanan untuk dikotak dan dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

“Plot twist” penutup, berupa “sesuatu” yang meskipun ditutup rapat, saya tahu betul apa isinya.

O ya, usia kami dengan Titin selisih sekitar 20 tahun. Saya (71) dan Pak Toto Sonata (72). (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.