O…ADA

waktu baca 3 menit
Suasana jalan Alas Balongpanggang di Kabupaten Bojonegoro (*)

KEMPALAN: Beliau salah satu Gubernur Jawa Timur yang energik. Kegiatannya banyak dilakukan untuk berkeliling ke banyak kabupaten/kota di provinsi yang luasnya 47.963 kilometer persegi ini.

Seingat saya beliau menjabat gubernur selama dua periode, tetapi berhenti pada periode ke-2 tahun ke-2 atau ke-3 karena sakit atau mendapat jabatan yang lebih berprogres di Jakarta.

Sebelumnya pernah menjadi orang nomor 1 di Provinsi Sulawesi Utara.

Pak Suhartono Kepala Humas Pemda Tingkat I Jawa Timur jika mengajak wartawan untuk mengikuti kunjungan Pak Gubernur, menggilir mereka. Artinya, tidak semua wartawan yang ngepos di Humas Pemda Tingkat I yang jumlahnya kurang lebih 35 orang itu, diajak semua. Rata-rata 10 orang, kecuali untuk satu media yang nanti akan saya sebut pada bagian akhir tulisan ini.

Kepada para wartawan yang jatuh giliran tidak diajak, medianya akan dikirimi siaran pers plus foto-foto kegiatan hasil kunjungan Pak Gub –demikian wartawan yang ngepos di Humas Pemda Tingkat I Jawa Timur menyebut beliau– di wilayah Tingkat II, ke alamat redaksi atau kantor perwakilan yang ada di Surabaya oleh karyawan Bagian Humas.

Pada awal tahun 1980-an, dalam suatu kunjungan kerja Pak Gub ke Kabupaten Nganjuk, saya dan sejumlah wartawan jatuh giliran diajak.

Salah satu rangkaian acara itu antara lain ada di sebuah desa yang letaknya berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Selesai acara di desa tersebut, Pak Gubernur dikelilingi wartawan, diwawancara — untuk melengkapi berita seremonial di desa tadi.

Di sela-sela wartawan mewawancarai pejabat nomor 1 Jawa Timur ini, Pak Kepala Humas mengatakan sesuatu dengan pelan dalam posisi wajahnya mendekat ke wajah Pak Gubernur.

Lantas Pak Gubernur menoleh dengan pelan ke kiri, arah barat. Sekira 100 meter tampak seorang wanita berusia sekitar 50 tahun turun dari perbukitan di mana di bagian punggung wanita tersebut bertengger tumpukan ikatan daun jati. Mungkin saking beratnya, posisi tubuh wanita tersebut melengkung ke depan.

Pelan-pelan Pak Gubernur berjalan menyongsong Ibu Berdaun Jati itu, di – kinthili para wartawan. Kemudian setelah dekat, Pak Gubernur menyapanya dalam bahasa Jawa halus. Rupanya Pak Gub akan mewawancarai ibu tersebut.

Sebelum memulai mewawancarai, wajah Pak Gubernur menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti mencari sesuatu. Setelah itu berkata sangat pelan (persisnya bergumam) : ” O…ada”. Lantas dimulailah dialog dengan Ibu Berdaun Jati itu.

Kenapa beliau mengatakan “O…ada”? Karena mata beliau sudah berhasil menangkap sosok reporter dan kameramen TVRI Surabaya. Jelasnya, reporter dan kameramen TVRI Stasiun Surabaya ada di dekat Pak Gubernur, berbaur dengan wartawan lainnya yang mengikuti kunjungan kerja ini.

Muaranya: jangan harap acara yang dihadiri Pak Gub bisa dimulai tanpa kehadiran reporter dan kameramen TVRI. Lebih-lebih –siapa tahu– ada sesuatu yang dimungkinkan jadi trending, sebagaimana Ibu Berdaun Jati lantaran memiliki news value tinggi. Memang tidak semua situasi seperti gambaran di atas: ada keistimewaan untuk TVRI. Namun, acapkali begitu.

Tahun-tahun itu TVRI mendominasi tunggal pemberitaan audio visual. Siarannya diperkirakan ditonton oleh ratusan ribu pemirsa. Apalagi jika berita yang dihasilkan reporter dan kameramen TVRI Stasiun Surabaya, naik derajat kualitasnya sehingga masuk ke TVRI Nasional, tidak saja disiarkan secara regional. Maka, dimungkinkan jutaan penonton akan menyaksikan siaran berita itu kendati hanya beberapa detik.

Sekian waktu kemudian –dalam konteks lain– televisi swasta mulai mengudara pada tahun 1989 (RCTI) dan 1990 (SCTV).

Setelah hadirnya dua televisi swasta tersebut yang lantas disusul oleh televisi swasta lainnya, TVRI lantas memasuki era “sandyakala“.Pemirsa mulai lebih banyak beralih dengan menonton siaran berita dan hiburan televisi swasta.

Nah, pada tahun 1970-1980-an itu, media cetak lain dan RRI bergantian diajak Humas Pemda Tingkat I Jawa Timur, tapi tidak untuk TVRI. Media ini akan ikut terus, zonder giliran.

Amang Mawardi, penulis, tinggal di Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *