Kebanggaan Yang Hampir Hilang

waktu baca 2 menit

KEMPALAN: Persebaya adalah harapan, hiburan, dan kebanggaan. Bukan saja bagi warga Surabaya, tapi hampir semua warga Jatim, terutama yang di perantauan.

Harapan, hiburan, dan kebanggaan tersebut selama sepuluh tahun terakhir nyaris hilang karena klub kebanggaan arek-arek Surabaya itu justru dimusuhi oleh pemerintah kotanya sendiri.

Seperti diketahui, saat terjadi dualisme Persebaya pada tahun 2012, Pemkot Surabaya tidak lagi mengucurkan dana APBD. Bahkan untuk pembinaan klub internal Persebaya maupun klub-klub yang dibina oleh Askot Surabaya.

Sehingga, sejak saat itu sampai sekarang pembinaan usia dini baik yang dilakukan oleh Askot maupun kompetisi internal Persebaya bukan hanya dilakukan dengan anggaran dari kantong-kantong pribadi, tapi juga tidak dapat dilakukan di lapangan-lapangan di Surabaya, karena mahalnya biaya sewa lapangan. Padahal mayoritas lapangan milik Pemkot Surabaya. Akibatnya, latihan dan pertandingan untuk pembinaan usia dini hampir semuanya dilakukan di wilayah Sidoarjo.

Jadi sangat ironis. Dalam usianya yang ke-97 tahun hari ini, Persebaya yang dulunya dibidani oleh Radjiman Nasution, Wali Kota Pertama Surabaya dan puluhan tahun jadi ikon Surabaya, justru merana dan diabaikan oleh Wali Kota Surabaya saat ini.

Beberapa waktu yang lalu Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berjanji mau mengembalikan mes dan lapangan Persebaya untuk pembinaan usia dini Persebaya. Tapi jujur seratus persen saya tidak percaya janji tersebut.  Apalagi janji itu disampaikan menjelang  Pilwali Surabaya.

Karena sebenarnya tanpa janji seperti itu, sebenarnya pembinaan usia dini adalah  kewajiban pemerintah. Sehingga,  jika Pemkot Surabaya memberi kemudahan penggunaan fasilitas lapangan, itu sudah bagus. Apalagi bila dibarengi dengan pembiayaan untuk pembinaan usia dini yang dilakukan oleh Askot dan kompetisi internal Persebaya.

Pembinaan usia dini yang sukses pasti akan berakibat pada prestasi Persebaya. Ini sebagaimana yang dialami Persebaya pada masa-masa yang lalu. Karena klub tersebut bisa mendapatkan materi pemain yang bagus dengan harga  murah dari hasil pembinaan. Sedang dana lainnya dapat digunakan untuk membeli pemain berkualitas, baik pemain asing maupun pemain lokal yang memang bagus.

Selamat Ulang Tahun Persebaya yang ke-97. Semoga engkau tetap menjadi harapan, hiburan, dan kebanggaan sebagaimana masa-masa emasmu dahulu. (*)

*Saleh Mukadar, penulis adalah mantan manajer Persebaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *