Ongkos Sleep Padi Jadi Faktor Naiknya Harga Beras

waktu baca 2 menit

Sidorjo – Anggota DPR-RI terpilih dengan suara terbanyak di Dapil Surabaya-Sidoarjo periode 2024-2029 Bambang Haryo Soekartono kembali turun ke Pasar larangan, Kecamatan Candi Sidoarjo.

Dalam kunjungan itu anggota Dewan Pakar Partai Gerindra ini, menyerap langsung sejumlah keluhan konsumen dan pedagang Pasar larangan mengenai kenaikan harga beras jelang bulan suci ramadhan. Ia menenggarai, kenaikan itu dipicu tingginya harga giling padi dan besaran ongkos produksi pertanian.

“Ini tadi saya lihat beras masih terbilang mahal untuk kualitas premium masih di Rp 15 hingga 16 ribu. Padahal dari petani harga gabah ini Rp 8 ribu per kg dan mereka mendapat keuntungan sekitar Rp. 2 ribu an dan itu cukup,” kata pemilik sapaan akrab BHS, Kamis (7/3).

Menurutnya, petani masih mengambil keuntungan di batas wajar dalam penjualan gabah hingga tingkat tengkulak atau penggilingan. Dari kalkulasinya besaran ongkos di penggilingan menjadi faktor naiknya harga beras.

Lebih lanjut, anggota DPR-RI periode 2014-2019 ini, mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan petani. Utamanya, subsidi pupuk, pengairan serta jaminan kegagalan panen. Mengingat, sektor pertanian sebagai penyumbang ekonomi runtutan.

Alumni ITS Surabaya ini menyarankan pemerintah kabupaten Sidoarjo untuk turut mengatasi kenaikan harga beras dengan berbagai upaya secara hulu ke hilir. Melalui pemanfaatan lahan persawahan seluas 14 ribu hektar lebih dengan masa panen 2 kali dalam setahun mampu menjadikan Sidoarjo berkecukupan secara cadangan pangan mandiri.

“Dengan memproduksi beras harga murah memanfaatkan lahan sendiri yang dikelola oleh badan usaha daerah saya yakin bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Sidoarjo. Kalau bisa 3 kali panen Sidoarjo dapat menjadi pemasok beras untuk daerah lain,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *