KEMPALAN: Mungkin sekitar 6-7 tahun lalu saya mengenal sosok ini. Persisnya saat beliau memesan buku ke-5 saya “Dalam Lintasan Seni” yang dipengantari Dahlan Iskan — buku tentang perjalanan seni ke Australia, Malaysia, Singapura dan Thailand: selang-seling, jedah waktu, dalam kurun sekira 15 tahun.
Adapun penulisan buku yang terdiri tujuh Bab dengan 57 judul dalam gaya jurnalistik itu, saya tuntaskan empat tahun. Tentu proses penulisannya tidak setiap hari. Biasanya dua hari sekali. Atau seminggu dua kali. Kadang seminggu sekali. Pernah juga berturut-turut selama dua minggu.
Mula-mula beliau memesan 1 eks “Dalam Lintasan Seni”. Lebih kurang seminggu kemudian beliau mengirim pesan ke messenger: “Saya beli lagi 10 eks, Pak”.
Sejak saat itu setiap karya saya terbit, beliau selalu membeli. Polanya seperti di atas: mula-mula beli 1-2 eks. Seminggu kemudian pesan lagi 5 -10 eks. Pernah juga untuk pesanan ke-2 cuma ambil 1-2 eks.
Karena polanya seperti itu, saya mencoba menyimpulkan bahwa manakala pesanan yang kedua cuma 1-2 eks, saya anggap buku saya kurang menarik.
Namun, jika pesan lagi di atas 5 eks, saya anggap buku saya oke punya, seperti karya saya ke-15: “Memoar Wartawan Biasa Biasa DI SENJA WAKTU AKU TULIS BUKU” yang terbit Juli tahun ini.
Mula-mula beliau beli 2 eks. Sepuluh hari kemudian pesan ke messenger: “Pak Amang saya beli lagi 7 eks. Masih ada kan bukunya?”.
Saya jawab: “Tinggal 2 eks, Mbak. Saya harus cetak lagi. Biasanya 5 hari selesai. Bisa nunggu?”. Oke. Deal!
Untuk menulis nama terang sosok ini, saya nggak enak. Menyangkut etika. Kecuali kalau saya sudah dapat izin. Tapi baiklah, dengan memberanikan diri, saya tulis saja inisialnya: LFA.
Mbak LFA ini alumnus Fakultas Sastra Inggris Universitas Indonesia, tinggal di Jakarta, pernah menjadi wartawati majalah wanita: ramah, cerdas, teliti — sebagaimana yang tertulis dan tersirat dari postingan-postingannya di fesbuk, juga dari catatan chatting-an kami.
Beliau ternyata tidak saja membeli buku-buku karya saya, juga karya teman-teman penulis lain, terutama yang berkutat di seputar jurnalistik dan seni.
Beberapa kali saya menerima buku gratisan dari sejumlah teman penulis yang lantas saya review di status fesbuk saya.
Ternyata beliau tertarik untuk membeli dengan pola seperti biasanya: beli 1-2 eks, kemudian disusul beli lagi di atas 5 eks — termasuk yang berjudul “Balada Sepatu Gosong” buku memoar (mantan) wartawan senior Jawa Pos sobat saya: Koesnan Soekandar.
Salah satu judul artikel di buku itu antara lain mengisahkan saat Mas Koesnan yang saat itu bergaji pas-pasan, dapat tugas meliput pertokoan terbakar di Surabaya.
Di lokasi toko sepatu yang tinggal puing-puing, 2-3 orang terlihat mengorek-ngorek sisa-sisa kebakaran. Instink Mas Koesnan mendorong dirinya untuk ikutan, apalagi beberapa hari sebelumnya salah satu anaknya sambat sepatunya jebol.
Setelah korak-korek pilah-pilih, nemulah sepatu yang sesuai ukuran dan mode ABG kecil. Maka di kemaslah sepasang sepatu gosong itu untuk dibawa pulang.
Nah, pembelian susulan buku “Balada Sepatu Gosong” ini cukup banyak: 10 eks. Belinya lewat saya. Lumayan saya dapat fee dari Mas Koesnan.
Tapi, dari narasi cerita saya di atas, bukan soal pembelian buku itu yang menohok — meski itu juga penting buat saya. Sebab dari penjualan buku-buku saya, tentu ada terkumpul sedikit modal yang akhirnya untuk buku-buku saya berikut, yang terbit secara indie label ini bisa beranak buku baru.
Nah, lantas apa itu?
Sebulan kemudian, Mas Koesnan japri saya: Mas Amang, ternyata buku saya ada di Perpustakaan Nasional Australia di Canberra. Tentu untuk urusan ini bukan perkara sulit bagi Mas Koesnan. Insyaallah, beliau punya jaringan kuat.
Lantas Mas Koesnan menyertakan lampiran satu halaman yang isinya judul bukunya disertai jumlah eksemplar-nya bersama sejumlah judul buku penulis lain. Alhamdulillah, saya ikut senang.
Lantas saya mencoba menyimpulkan bahwa Mbak LFA yang cantik (sebagaimana saya pernah lihat fotonya di fesbuk) yang beretnik salah satu suku di Sumatera ini: adakah sebagai perwakilan Perpustakaan Nasional negeri tetangga kita itu?
Kalau misalnya iya, tentu saya ikut senang: siapa tahu buku-buku karya saya juga tersimpan di situ. Kalau misalnya tidak, ya gak apa. Tugas saya cuma menulis. Ya, alhamdulillah kalau misalnya ada yang meminati, lebih-lebih jika bisa memberi inspirasi.
*Amang Mawardi* youtuber dan penulis sejumlah buku.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi