JAKARTA-KEMPALAN: Pengamat sepakbola Indonesia, Mohamad Kusnaeni menegaskan bahwa tak boleh ada tendensi politik pada rencana renovasi Jakarta International Stadium.
Jakarta International Stadium (JIS) akhir-akhir ini sedang hangat menjadi sorotan sebab Stadion yang dibangun dengan anggaran triliunan rupiah ternyata masih belum berstandar FIFA.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono lah yang menyebut bahwa JIS masih belum berstandar FIFA. Pernyataan tersebut dikeluarkan Basuki setelah meninjau langsung Stadion JIS pada Selasa (4/7).
Salah satu yang menjadi sorotan pernyataan Basuki yang menyebut rumput JIS tidak sesuai standar FIFA. Pernyataan ini dinilai memiliki tendensi politik, sebab ia bukanlah pakar rumput yang mempunyai otoritas untuk melakukan penilaian.
Banyak pihak yang mencurigai bahwa renovasi JIS hanyalah akal-akalan untuk menjatuhkan Anies Baswedan, sebab Anies lah yang melanjutkan proyek JIS setelah lama mangkrak.
JIS sebenarnya sudah dicanangkan pembangunannya sejak zaman Gubernur Fauzi Bowo. Proyek kemudian maju mundur di era Gubernur Joko Widodo dan Gubernur Basuki T Purnama.
Setelah mangkrak lama, proyek itu kemudian dilanjutkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan diresmikan pada Juli 2022.
Pengamat sepakbola Indonesia, Mohamad Kusnaeni berharap bahwa rencana renovasi JIS ini tak diwarnai dengan tendensi dan kepentingan politik dari pihak tertentu.
“Bicara JIS itu kita nggak boleh punya tendensi politik, itu catatan yang pertama. Yang kedua, kalau lihat JIS itu kita harus bicara tentang olahraga keseluruhan. JIS ini sudah dibangun dengan anggaran yang cukup besar, karena itu kita harus berpikir bagaimana memaksimalkan pemanfaatannya untuk kemajuan olahraga.” kata Kusnaeni, dikutip detikSport.
“Yang ketiga, saya sebetulnya pada dasarnya memahami bahwa PSSI dan pemerintah ini ingin memaksimalkan JIS itu karena kepentingannya itu. Sudah dibangun, jadi harus bisa dimanfaatkan secara maksimal.” tambahnya.
“Nah, cuma memang narasi-narasinya itu dalam beberapa hal itu selalu dikaitkan dengan soal tanda FIFA. Itu yang menurut saya kadang kadang keliru. Karena yang berhak bicara standar FIFA itu ya FIFA. Di luar FIFA nggak bisa mengatakan rumputnya tidak standar FIFA atau stadionnya tidak standar.” imbuh pria kelahiran 1967 itu.
Selain itu, Kusnaeni juga berpendapat bahwa kekurangan JIS relatif minor sehingga hanya membutuhkan perbaikan yang tidak begitu banyak. Secara fasilitas, imbuhnya, JIS sudah sangat layak untuk menggelar event-event sepakbola.
“Kalau taman di depan rumah semakin tebal rumputnya semakin bagus. Tapi kalau stadion untuk pertandingan sepakbola kan lain. Ada standar tingginya, ada standar gelindingan bolanya, ada standar pantulannya,” tambah pria yang akrab disapa Bung Kus itu.
“Yang bisa memutuskan itu siapa? Ya itu orang FIFA, technical delegate-nya yang nanti datang memeriksa dan kemudian mengecek. Itu ada cara mengukurnya, bukan dengan sekedar lihat. ‘Oh ini rumputnya bagian ini kelihatan kuning nih, ini ada gulmanya, jadi nggak layak, nggak bisa begitu’.” tutupnya.
(*) Edwin Fatahuddin

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi