JAKARTA-KEMPALAN: Erick Thohir menegaskan bahwa PSSI tak boleh merugi saat menggelar event besar seperti laga Indonesia vs Argentina. Erick justru berharap bahwa laga ini akan menjadi titik awal perubahan bisnis sepakbola di Tanah Air.
PSSI akhirnya mengumumkan daftar harga untuk tiket laga FIFA Matchday antara Timnas Indonesia melawan Argentina. Harga tiket dibagi menjadi empat kelas dengan yang termurah seharga Rp 600 ribu hingga yang termahal Rp 4,25 juta.
Harga ini tentu terbilang cukup mahal jika dibanding dengan harga tiket pertandingan Timnas Indonesia yang pada umumnya berkisar antara Rp 90 ribu hingga Rp 400 ribu, jika mengacu pada laga FIFA Matchday Timnas Indonesia melawan Curacao.
Terkait harga yang mahal ini, Ketum PSSI Erick Thohir menyatakan itu dilakukan karena dia tak mau PSSI merugi dari pertandingan persahabatan ini.
Pria berusia 52 tahun itu meyakini bahwa PSSI bisa mendapatkan profit dari laga uji coba ini, dan menjadi titik awal bisnis sepakbola Indonesia.
“Saya ingin mendidik PSSI, jangan menjadi PSSI yang rugi-an, baik itu di segi prestasi atau usaha (bisnis). Karena kita harus membiasakan PSSI punya strategi planning yang tepat,” kata Erick Thohir.
“Jadi tentu mengadakan pertandingan FIFA Matchday itu ya harus kita yakini bisa membawa hasil untuk prestasi timnas. tetapi juga untuk keuangan PSSI yang lebih baik.” tambahnya.
Selain itu, Erick juga berpendapat bahwa harga yang dipasang PSSI sudah sangat terjangkau jika melihat status Argentina sebagai juara Piala Dunia 2022.
“Nah kami optimistis dengan pemasukan tiket, yang saya rasa sangat affordable Rp 600 ribu, ini kan (kelas) mayoritas Rp 600 ribu jangan salah. Lalu ditambah dengan pemasukan dari media, sponsor, saya rasa target kita bisa ada profit. Ya itu yang kami targetkan begitu.” tambah Erick Thohir.
“Supaya apa? Jangan sampai kita dibiasakan tidak bisa membawa pertandingan besar lagi. Kenapa? Rugi. Kalau rugi ya kapok, tahun depan kapan lagi kita bawa? Akhirnya hanya mimpi. Sedangkan PSSI yang baru kami sepakati, kalau bisa setahun sekali kami bawa pertandingan besar yang kelas dunia. Kita juga dituntut untuk profesional.” tutup pria yang juga menjabat sebagai Menteri BUMN itu.
(*) Edwin Fatahuddin

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi