
KEMPALAN: Di mata lawan politiknya dia dianggap lame duck, bebek lumpuh yang tidak berdaya. Tapi di mata pendukungnya dia dinggap sakti, karena bisa mengumpulkan banyak pendukungnya dan mengarahkan mereka sesuai dengan keinginannya.
Itulah dua gambaran berbeda terhadap Jokowi. Andi Arief dari Partai Demokrat menyebut Jokowi tengah berada pada fase bebek lumpuh dan kepemimpinannya tidak lagi efektif. Dalam kondisi itu ia ingin mengembalikan kekuatannya dengan jalan show of force, pamer kekuatan, mengumpulkan relawan yang selama ini mendukungnya.
Tapi, Nurul Arifin dari Partai Golkar punya pandangan lain. Di matanya Jokowi masih sakti. Buktinya, dia bisa mengumpulkan para pemimpin partai politik untuk membentuk sebuah koalisi besar. Koalisi ini dibentuk untuk membendung kekuatan yang dianggap mengancam keberlanjutan program Jokowi pasca-pensiun.
Nurul mengatakan popularitas dan kecintaan publik terhadap Jokowi tidak memudar hingga kini. Dia mengakui Jokowi betul-betul sakti karena bisa mengumpulkan para ketua umum partai politik yang bisa berjalan bersama-sama dengan Jokowi.
Jokowi mendapat dukungan luas dari relawan. Itulah yang membuatnya diyakini akan tetap sakti di Pilpres 2024 nanti. Meski bukan ketum partai, Jokowi akan menentukan siapa yang akan terpilih menjadi presiden kedelapan RI.
Di belakang Jokowi ada relawan yang sudah berikrar akan manut ke Jokowi terkait pilihan capres nanti. Itulah yang terjadi pada 2022 yang lalu ketika Jokowi menunjukkan kekuatannya dengan mendatangkan ribuan relawan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK).
Ikrar setia relawan ke Jokowi itu ditunjukkan dalam acara Gerakan Nusantara Bersatu, di Stadion GBK. Jokowi hadir dan memberikan arahan dalam acara ini. Salah satu arahannya terkait pilihan capres yang akan didukung di 2024. Jokowi meyakinkan relawan pendukungnya dengan menjelaskan berbagai capaian kinerja pemerintah, mulai dari pembangunan infrastruktur, pengembangan kawasan wisata, penghentian ekspor bahan mentah hingga pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.
Di depan relawan, Jokowi pun membanggakan capaian ekonomi. Kata dia, saat ini banyak negara besar mengalami kesulitan karena dampak dari pandemi, perang, dan inflasi. Beberapa negara besar bahkan kena resesi.
Beruntung, kata Jokowi, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 5,72 persen di kuartal kedua. Menurut Jokowi, berbagai kebijakan pemerintah saat ini sudah on the track. Ia pun mengajak relawan untuk menjaga agar pembangunan ini bisa berkelanjutan hingga 2045.
Jangan sampai, karena kepentingan jangka pendek atau kepentingan politik sesaat, menjadi lupa menjaga keberlanjutan pembangunan. Karena itu, Jokowi meminta relawannya agar hati-hati memilih pemimpin. Hati-hati, hati-hati. Jokowi mewanti-wanti.
Jokowi lalu memberikan sejumlah kriteria dalam memilih capres di 2024. Pertama, kata dia, pilih pemimpin yang mengerti tentang apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh rakyat. Jangan pilih yang senang duduk manis di ruangan ber-AC atau yang senang duduk di balik meja saja.
Selain itu, pilih pemimpin yang senang blusukan langsung ke lapangan. Tak kalah penting, pilih pemimpin yang memikirkan rakyatnya. Kata dia, cara mengetahui seorang pemimpin memikirkan rakyatnya itu bisa dilihat dari kerutan di wajahnya.
Usai memberikan arahan, sejumlah kelompok relawan lalu naik ke atas panggung untuk membacakan deklarasi. Inti deklarasi itu adalah menyatakan akan setia dan manut atau patuh terhadap keputusan Jokowi di tahun 2024. Kami relawan Jokowi berhimpun dalam Gerakan Nusantara Bersatu, bersama Presiden Jokowi kami berkomitmen membentuk barisan kuat, mengawal Indonesia emas 2045, Indonesia yang maju. 2024 Manut Jokowi! 2024 Manut Jokowi!, tekad relawan.
Apa yang dilakukan Jokowi di GBK adalah konsolidasi relawan. Tujuannya, agar relawan tetap manut dengan keputusan Jokowi dan tidak pecah saat memilih capres nanti. Salah satu kekuatan Jokowi hingga bisa menang dua periode tak lepas dari kesolidan para relawan. Jokowi mulai memposisikan dirinya sebagai king maker, Jokowi berharap berbagai programnya bisa dilanjutkan oleh pemimpin selanjutnya.
Hingga periode keduanya menjabat presiden, kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi masih tinggi. Lebih dari itu, kapasitas kader PDI Perjuangan itu dalam merangkul lawan-lawan politik membuatnya acap kali dianggap sakti hingga dinilai menjadi penentu arah pertempuran politik di pemilu mendatang. Lembaga Survei Indonesia (LSI) besutan Djayadi Hanan memunculkan angka 76,8% dalam survei kepuasan publik terhadap kinerja presiden.
Namun, kesaktian Jokowi kini diuji. Rentetan peristiwa menunjukkan hal itu. Mulai dari penolakan 2 kepala daerah dari PDI Perjuangan terhadap agenda Piala Dunia U-20 hingga kegaduhan KPK-Polri menyusul pencopotan Brigadir Jenderal Endar Priantoro dari Direktur Penyelidikan KPK.
Belum lagi, kontroversi juga mencuat, seiring dengan kehadiran Jokowi di tengah-tengah wacana Koalisi besar yang digalang Prabowo Subianto cs. Tak sedikit yang menilai Jokowi bermanuver dan berpotensi mengubah haluan politik, lalu berjarak dengan partai sendiri, PDI Perjuangan.
Jokowi ingin jadi ‘king maker’ dalam pusaran pilpres mendatang. Penggabungan KIB-KKIR adalah strategi barunya lantaran tak bisa lagi bertumpu pada jagoan PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo.
Megawati tentu tidak tinggal diam. Dia juga ingin menjadi king maker atau queen maker. Sampai sekarang dia masih menaruh harapan besar terhadap Puan Maharani untuk melanjutkan trah Soekarno. Tetapi, di sisi lain Mega menyadari realitas politik tidak seindah harapannya. Mega menghadapi dilema politik yang rumit.
Mega dan Jokowi beradu sakti untuk berebut menjadi king maker atau queen maker. Kalau keduanya tidak berkoalisi, bisa saja salah satu akan menjadi bebek lumpuh. ()

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi