Jumat, 24 April 2026, pukul : 11:17 WIB
Surabaya
--°C

Bambang Haryo Sebut Info Krisis di Amerika Serikat Bisa Menjerumuskan Presiden Jokowi

Jakarta – Pengamat Kebijakan Publik, Bambang Haryo Soekartono menilai pernyataan pejabat publik dalam kekhawatiran krisis di Amerika Serikat terlalu berlebihan dan cenderung bisa menjerumuskan Presiden Jokowi dan seluruh pelaku usaha dan rakyat Indonesia.

Kekhawatiran itu terjadi, setelah tiga Bank di Amerika yakni Sillicon Valley Bank (SVB), Signature Bank dan Silvergate Bank mengalami kebangkrutan yang mengakibatkan krisis di Amerika. Faktanya, kondisi ekonomi di Amerika saat ini tidak dalam keadaan krisis, melainkan secara keseluruhannya stabil.

Seharusnya, kata Bambang Haryo, pejabat publik dapat memberikan informasi dan pernyataan yang membangun optimisme daripada pelaku usaha dan masyarakat Indonesia, bukan yang menjerumuskan, sehingga ekonomi Indonesia dapat kembali menggeliat.

Menurut Anggota DPR-RI periode 2014-2019 ini, berdasarkan data, Silicon Valley Bank (SVB) adalah Bank yg mempunyai urutan 16 terbesar di Amerika, Signature Bank adalah bank yang mempunyai urutan ke-29 dan Silvergate Bank mempunyai urutan ke-113. Sehingga kebangkrutan ke-3 bank di Amerika tersebut pengaruhnya sangat kecil dan relatif tidak ada bagi perekonomian di Amerika karena dari data tahun 2022 jumlah keseluruhan bank di Amerika ada sebanyak 4.844 bank yang sebagian besar justru mengalami peningkatan pendapatan di tahun 2022 dibanding tahun 2019 sebelum covid.

Sebagai contoh bank terbesar nomor 1 di Amerika yaitu JP Morgan Chase & Co mempunyai pendapatan tahunan (Annual Revenue) di tahun 2022 sebesar 154,792 Milyar USD yang naik signifikan dari tahun 2019 sebelum covid sebesar 142,515 Milyar USD. Sedangkan Bank pada urutan nomor 2 terbesar di Amerika yaitu Bank of America jumlah pendapatan tahunan (Annual Revenue) juga mengalami kenaikan sebesar 115,053 Milyar USD di tahun 2022 dibanding pendapatan tahunan 2019 sebesar 113,589 Milyar USD.

Kata pemilik sapaan akrab BHS, bahkan pertumbuhan ekonomi di Amerika pun juga mengalami kenaikan signifikan di tahun 2022 sebesar 2,7 % dari tahun 2019 yang hanya sebesar 2,2%. Apalagi beberapa negara Asean bahkan Eropa pun juga mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan misalnya Vietnam di 2022 sebesar 8,02% naik cukup tinggi dibanding 2019 sebelum covid sebesar 7,02%, Malaysia juga mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di tahun 2022 sebesar 8,7% dari tahun 2019 yang hanya sebesar 4,41%, bahkan pertumbuhan ekonomi Malaysia di tahun 2022 merupakan yang tertinggi selama kurun waktu 22 tahun semenjak tahun 2000.

Filiphina pertumbuhan ekonominya naik pesat di tahun 2022 sebesar 7,6% dari tahun 2019 sebesar 6,12% bahkan negara Eropa seperti Inggris mengalami pertumbuhan ekonomi luar biasa tinggi sebesar 4,1% di tahun 2022 dari tahun 2019 yang hanya sebesar 1,6%.

Saya sangat mengharapkan kekhawatiran pejabat publik dan berita-berita yang ada di media mainstream tidak perlu diekspos besar-besaran ke masyarakat karena ini tentu akan berdampak terhadap stagnasi dan perlambatan ekonomi akibat pelaku usaha enggan berinvestasi dan bahkan masyarakat enggan berbelanja.

Dan saya mengapresiasi kebijakan pemerintah Jepang dalam memulihkan kondisi ekonomi mengeluarkan kebijakan mendorong masyarakatnya untuk berbelanja dan berwisata dengan memberikan insentif yang disebut Community Development Certificate untuk masyarakatnya yang mau travelling dan berbelanja guna menumbuhkan ekonomi pasca covid, sehingga ekonomi di Jepang saat ini lebih membaik dibanding tahun 2019 sebelum covid.

Dan ini sebetulnya seiring dengan apa yang pernah Presiden Jokowi sampaikan agar masyarakat beramai ramai berbelanja, nonton konser dan berwisata guna menumbuhkan ekonomi pasca covid “tutup BHS”

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.