Ultah Dewa

waktu baca 10 menit
Foto: disway.id

KEMPALAN: LEBIH 70 dewa turun di Semarang. Minggu pagi ini. Mereka sudah berdatangan sejak Sabtu kemarin. Dari berbagai penjuru Jawa. Salah satunya yang saya bawa dari kelenteng Gudo, luar kota Jombang.

Saya bertemu dewa itu di rest area Salatiga –rest area dengan pemandangan sekitar terindah di sepanjang jalan tol Merak-Probolinggo.

Saya dan istri datang dari Surabaya. Berhenti di rest area tersebut. Yang dari Malang juga berhenti di situ. Pun yang langsung dari Gudo: satu bus dan 3 mobil. Rest area ternyata juga berfungsi untuk meet point. 

Dewa yang dari Gudo diangkut dengan mobil yang dihias seperti mobil pengantin. Dari Salatiga ini kami konvoi menuju Semarang. Titik berkumpulnya di halaman kelenteng Tay Kak Sie, di pecinan Semarang. 

Kelenteng ini sangat tua: didirikan tahun 1771. Bangunan kuno di samping halaman terlihat bekas terbakar. Itulah rumah abu jenazah. Terbakar dua tahun lalu.

Setelah salat duhur di kelenteng Tay Kak Sie itu saya bergabung di barisan yang sudah siap jalan. Yang paling depan adalah pembawa bendera kebesaran kelenteng Gudo. Seperti yang sering Anda lihat di film silat Hong Kong. 

Di belakang bendera berbaris para wanita pembawa bunga. Saya di belakang wanita bunga itu. Dewa dari Gudo pun dikeluarkan dari mobil. Diserahkan ke saya.

Di belakang saya, barisan seluruh anggota rombongan. 

Paling belakang adalah kelompok musik kelenteng, lengkap dengan tamburnya.

Diiringi tetabuhan bertambur itulah kami melangkah. Pelan-pelan. Meninggalkan halaman kelenteng ini. Ke arah kelenteng yang lain: kelenteng Ling Hok Bio. Jaraknya sekitar 500 meter. Lewat jalan utama pecinan Semarang. 

Yang saya bawa tersebut adalah dewa Hok Tik Cing Sin. Dewa Bumi. Disebut juga Dewa Tanah. Di kelenteng, Dewa Tanah ini banyak disembah oleh pengusaha real estate. 

Di sepanjang jalan menuju kelenteng Ling Hok Bio masyarakat menyaksikan di pinggir jalan. Sambil banyak yang menuding-nuding saya. Pengeras suara memang menyebut si pembawa dewa adalah anaknya Pak Iskan itu.

Menjelang sampai di Ling Hok Bio perjalanan kami harus berhenti. Di situ diadakan penyambutan dari tuan rumah. Petasan dihampar di depan kami. Meletus bersautan. Letusan mercon reda kami disambut Barongsai tuan rumah. Lalu satu hamparan mercon lagi digelar. Letusannya bertubi-tubi. Meriah sekali.

Tiba di depan altar Ling Hok Bio dewa Bumi itu saya serahkan ke tuan rumah. Untuk diletakkan di altar khusus. Ditonton ratusan orang. 

Saya pun memperhatikan altar itu. Sudah banyak dewa berjajar di situ. Rupanya sudah banyak delegasi dari kelenteng lain yang lebih dulu menyerahkan dewa ke tuan rumah. 

Setelah kami pun masih akan banyak dewa-dewa lain yang berdatangan.

Pagi ini dewa-dewa itu akan diarak keliling jalan-jalan di pecinan Semarang. Untuk pawai ta’aruf. Memperingati ulang tahun kelahiran salah satu dewa unggulan di Ling Hok Bio. 

Di sepanjang jalan dekat Ling Hok Bio terlihat berjajar ”paddock” para dewa. Di ”paddock” masing-masing terdapat tandu. Sedang dihias dengan bunga. Semua sibuk menghias tandu. Satu kelenteng, satu tandu. 

Di tandu itulah, Minggu pagi ini, dewa diletakkan. Untuk dipikul, dibawa berpawai ta’aruf para dewa.

Saya sudah beberapa kali ikut arak-arakan dewa seperti itu. Di Bogor saja dua kali. Juga di Singkawang. 

Yang di Semarang ini adalah untuk merayakan hari lahir salah satu dewa di kelenteng Ling Hok Bio. Di antara lebih 70 kelenteng itu saya lihat ada klenteng Slawi (Tegal), Bandung, Tangerang, Krian, Jalan Demak Surabaya. Dan banyak lagi.

Tidak semua kelenteng kirim dewa ke acara ini. Kelenteng tua tahun 1771 tadi termasuk yang tidak ikut mengirimkan dewa. Padahal kelenteng ini punya lebih dari 40 dewa. Altarnya saja 29. Tiap dewa ditempatkan di satu altar tersendiri.

Banyaknya altar itu membuat kelenteng ini ramai. Punya banyak dewa. Dewa apa saja ada. Maka yang datang untuk minta sesuatu ke dewa tanah bisa dilayani. Yang minta keadilan bisa datang ke dewa Hakim Bao. Lalu ada dewa Kwan Im. Bahkan di sini ada dewa Cheng Ho –rupanya Cheng Ho sudah didewakan. Masih ada lagi Buddha. Dewa laut. Dewa penolakan bencana. Dewa kepintaran. Dan banyak lagi.

Salah satu patung di kelenteng itu adalah patung suhu sedang memancing. “Beliau memancing tanpa kail. Beliau menunggu sampai ada ikan yang dengan sukarela datang memakan benang pancing itu,” ujar penjaga kelenteng di situ.

Kirab dewa di Semarang ini adalah acara kedua saya yang terkait dengan kelenteng. Di bulan ini. 

Pekan lalu saya diundang ke Munas kelenteng yang tergabung di Tri Dharma. Di Jakarta International Expo di Kemayoran. 

Saya, yang muslim ini, diminta membuka Munas itu. 

Saya memang lagi berharap agar Tri Dharma segera mendapat ketua umum yang baru. Lalu terjadi kerukunan lagi seperti di zaman ketua umum Ongko Prawiro yang meninggal dunia.

Saya diminta memukul gong. Sebelum membuka Munas itu saya undang lebih 15 tokoh kelenteng untuk ikut naik panggung. Lalu semua saja secara giliran menabuh gong pembukaan. Termasuk tokoh kelenteng dari Riau. Ibu Maria. Pengusaha besar sawit di pulau Rupat. Dia sendiri saja sudah membawa 200 mandat dari 200 kelenteng di seluruh Riau. 

Munasnya pun lancar. Ketua umum baru terpilih dengan aklamasi: Go Sik Kian dari Tulungagung.

Ke depan kelihatannya akan kian banyak pawai dewa seperti di Semarang hari ini. Kediri segera mengadakan. Lasem. Slawi. Dan banyak lagi. 

Ulang tahun dewa semakin meriah saja. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan
Edisi 25 Februari 2023: Jalan Pintas

Jimmy Marta

Anak orang berkuasa : “Awas lu ya, gue lapor ke bpk gua..” Anak orang kaya : “..emang nya gue takut, bpk gue juga ada..! Anak orang gila : “wooii..jangan canda mulu, bpk gue mana..?!”…

Udin Salemo

#everyday_berpantun Saya pergi ke Stasiun Cikini/ Untuk bertemu Abang Bob/ Saya tak tertarik topik hari ini/ Apresiasi tulisan manufacturing hope/ Kelapa muda gampang lakunya/ Kelapa diambil dari kampung Setu/ Kepada Abah Dis inyong bertanya/ Kapan dilanjutkan tulisan Riau Satu/ Sutan manggaleh di Pasa Banto/ Galehnyo dibaok dari Sawahlunto/ Payah baurusan jo urang gilo/ Awak berang inyo galak sajo/ Gabak manjadi di Kota Solok/ Turunlah hujan di Lipek Kain/ Sabak bacampua tangih jo ratok/ Maliek adiak basandiang jo urang lain/ Kancang balari sianak kijang/ Kijang balari dek kanai tembak/ Kok rabah kayu nan gadang/ Koncekpun ikuik mamijak/

Liáng – βιολί ζήτα

habis ngamén……. sekarang serius nih nulis komentar. Itu Oom Budi Utomo Shin Chan, di bawah sana menuliskan : ……. homo sapiens sebodoh hewan ……. Nguawur-nya pol……. Naluri atau insting itu berupa “suatu pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu yang tidak dipelajari, tetapi telah ada sejak kelahiran suatu makhluk hidup dan diperoleh secara turun-temurun (Filogenetik). Tetapi……. Naluri manusia itu terkait dengan akal (intelligence) dan hati nurani, sedangkan naluri hewan tidak terkait dengan akal (intelligence) dan hati nurani. Inilah yang membedakan manusia dan hewan. Ketika hewan ingin melakukan sesuatu, misalnya akan menangkap mangsanya, maka hewan tersebut semata-mata akan mengikuti nalurinya ; sedangkan manusia jika ingin melakukan sesuatu, maka ia akan mengikuti naluri itu dengan akal (intelligence) yang dimilkinya. Lha ternyata ada orang-orang tertentu yang berperilaku seperti naluri hewani, itu disebabkan oleh “faktor-faktor psikologis (gangguan psikologis, penyimpangan perilaku, mental disorder)”. Begitu Oom Budi, jangan dikira “pengamen” ngga ngerti yang ginian, gini-gini juga pengamen kampus-an……. wkwkwkwkwkwkwk…

Liam Then

Saya selalu semangati kawan-kawan saya yang muslim ketika mereka ada bilang mau berdagang, dengan berkata begini : “Coba kamu pikirkan, cek orang terkaya di dunia, di Indonesia, ada pejabat gak? Gak ada kan? Coba apa profesinya? Pedagang. Nah, coba kamu bayangkan, kafir saja ikut sunnah Nabi bisa jadi orang terkaya di dunia. Apalagi muslim? 

Liam Then

Hati-hati dengan video pendek di internet, terpapar dalam jangka waktu panjang, saya curiga bisa berakibat negatif, misalnya kecenderungan sulit berkonsentrasi pada informasi yang lebih panjang dan lengkap. Saya belakangan tersadar, dan cukup risih, ketika tahu berapa besar waktu saya yang habis terhipnotis, deretan video pendek yang gak ada habisnya. 

Budi Utomo

Bung Dacoll. Manusia itu pin-pin-bo. Pintar-pintar-bodoh. Secara cognitive boleh jadi lebih pintar ketimbang primata atau hewan mamalia. Tapi secara social/emotional, homo sapiens sebodoh hewan, karena takluk sama kebencian dan ketakutannya sendiri, sehingga sejarah akan selalu berulang. Itu kesimpulan saya selama berpuluh tahun membaca literatur sejarah, science, agama, filsafat, dll

Leong Putu

Luaaaar biasa, mendengar percakapan anak² kelas 8 saat mereka pulang sekolah barusan. Satu anak laki2 bercerita kepada temannya. .”kenapa kamu marah – marah ?”. .”Eca selingkuh, dia selingkuh sama Putra…”. … TV mendidik anak² kita dengan sempurna.

Komentator Spesialis

TV di rumah saya sudah 15 tahun lebih saya matikan total. Nggak pernah saya hidupkan untuk nonton TV.

Juve Zhang

Sebagai mantan kuli di zaman purbakala, begitu proyek selesai saya datangi Depnaker setempat,minta syarat syarat pesangon itu apa saja. Kita bayar saja semua persyaratan depnaker.beres. semua senang. masalah timbul jika syarat syarat di abaikan. PHK itu suatu kepastian dalam dunia proyek. Semoga tercipta UU yg saling menguntungkan semua pihak. Dan PHK bukan akhir hidup seseorang, begitu pun usaha dagang offline dihantam bakar duit Shop## , Tope#, Laza##, kita pedagang offline pun ikut terbakar habis, alias bangkrut, tapi konon sekarang tukang bakar itu kena ” dibakar” lagi sama Tik Tok yg “menyerang” dengan formasi canggih, Tik tok shop sudah menyerang Shop##, tope#,lazad# dengan pukulan telak, rupanya diatas langit masih ada langit, yg pintar masih ada yg lebih pintar NGIBULI seperti di GOT#, sekarang tukang bakar duit , kena batunya juga di bakar Tik Tok. selamat berkompetisi, sekali lagi PHK ataupun Tutup usaha dagang offline bukan berarti dunia kiamat, masih banyak jalan ke Roma ,katanya, masih banyak jalan mengambil ikan, bisa mancing, bisa menjalankan, . selamat berkompetisi di sini bagi Shop##,tope#,Laz#,,Tik tok dll. Toh semuanya milik PMA. Hanya Mark Zuckerberg yg sudah mengakui keunggulan Tik tok di AS.

bagus aryo sutikno

Baca artikel UU ciptaker kok jadi mikir negara. Anggota DPR mikir negara, digaji. Polisi mikir negara, digaji. Sambo mikir negara, digaji. Orang pajak mikir negara, digaji. DAN mereka nggak berpikir PUN juga digaji. Lha perusuh, mikir ra mikir panggah onone paketan berkurang. Jadi mending tak mikir, piye carane sesuk ndelok balapan formula air nok Toba tanpo sangu. Tak mikir piye carane sepiring nasi, seonggok cha kangkung dan sepiring ikan asin di hadapan saya bisa tertransfer ke lambung tanpa mengunyah apapun..? #artikel ngoyoworo membagongkan penuh misteri

Amat K.

Ciyeeeee ada yang lewat jalan pintas tapi masih belum sampai tujuan. Biar cepat asal selamat. Anak istri menanti di rumah.

thamrindahlan

Terpaksa lewat jalan pintas rimba raya/ Pemburu kuatir diterkam harimau jawa/ Berbeda kepentingan UU Cipta Kerja/ Kasihan nasib buruh semakin merana/

Komentator Spesialis

Meminjam istilah mas Juve, UU Cipta Kerja ini sebenarnya ide brillian Pak Jokowi. Paling tidak ini untuk menyenangkan perusuh agar saya tak diserang. UU ini bagai pisau bermata 2. Ada sisi tajam yang mengiris hak pekerja. Sebaliknya, ada bagian yang semakin tumpul kepada pemberi kerja. Secara garis besar, point point yang harus diangkat adalah sbb : 1) Hak Pekerja : Yang seharusnya ditingkatkan malah dirampas. Ada potensi terjadinya pegawai kontrak seumur hidup dll. Kalau nggak bisa ditingkatkan ya janganlah dikurangi. 2) Kepentingan pemerintah : tentu ada banyak aspek, salah satunya pajak dan pertumbuhan ekonomi. Ternyata UU ini tidak banyak memberikan dampak positif investasi. Setidaknya sampai saat ini. 3) Isu lingkungan, perijinan, pelayanan dll.: Kita berharap harusnya sisi inilah yang banyak dibenahi dalam UU Ciptaker. Saya membuka pabrik. Salah satu persyaratan adalah RKL/RPL. Disodori syarat 50 dokumen lebih. langsung pusing. Hal ini kalau bisa disederhanakan akan bagus. 4) Pekerja asing : memberikan kelonggaran kepada masuknya pekerja asing. Ada kelonggaran dalam jumlah dan keahlian. Ini yang membuat sopir taksi yang barusan saya naiki uring uringan, membanjirnya TKA china. Pengusaha itu tidak terlalu butuh banget upah murah pekerja. Tetapi membutuhkan iklim usaha dan kemudahan berusaha yang baik. Peran UU Ciptaker harusnya memberi solusi isu ini.

Budi Utomo

Bung KS. Ayo bicara data. Pekerja Cina yang Anda benci itu berapa ribu dan pekerja kita di luar negeri itu berapa ribu. Banyakan mana? Wakakaka

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *