Kesambet Sambo

waktu baca 6 menit
Foto: Istimewa

KEMPALAN: BUDAYAWAN Budayawan Emha Ainun Nadjib mengaku kesambet dan meminta maaf kepada semua orang yang ‘’kecipratan’’ oleh ucapannya. Pernyataan itu dibuat sehari setelah videonya viral, menyebut Jokowi sama dengan Firaun, Luhut Panjaitan seperti Haman, dan Anthony Salim adalah Qarun.

Video Firaun menjadi viral nasional, dan video kesambet juga menjadi lebih viral lagi. Pernyataan kesambet itu diungkapkan Cak Nun dalam siniar bersama anak sulungnya, Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau yang lebih populer sebagai Noe Letto. Dalam siniar itu Cak Nun mengaku dirujak oleh keluarga dan orang-orang dekatnya sendiri gegara video Firaun.

Diksi kesambet kontan menjadi populer dan dikutip banyak orang. Puluhan orang mengutip istilah itu dan ribuan orang berkomentar di medsos terhadap istilah itu. Berbagai konten mengenai Firaun juga bermunculan. Bahkan, konten lama yang menyebutkan Anies Baswedan—yang ketika itu masih menjadi gubernur DKI—sebagai Firaun, juga dikutip kembali dan beredar luas.

Kesambet adalah istilah bahasa Jawa untuk menyebut seseorang yang terserempet kekuatan sejenis makhluk halus atau semacam roh jahat. Di pedesaan Jawa zaman dulu, anak-anak dilarang mendekat ke rumah seseorang yang meninggal dunia karena dikhawatirkan kesambet. Kalau ada iring-iringan jenazah yang lewat menuju pemakaman, anak-anak diminta menjauh karena takut kesambet.

BACA JUGA: Erick Thohir for PSSI

Seseorang yang kesambet akan melakukan atau mengatakan sesuatu di luar kesadarannya. Ia seolah tidak paham mengenai apa yang dikatakan atau dilakukannya. Ia melakukan perbuatan itu tanpa sadar, seperti ada kekuatan yang mengendalikannya melalui semacam remote control gaib.

Cak Nun mengaku kesambet. Ia seharusnya tidak mengatakan apa yang sudah dikatakannya. Cak Nun sudah meminta maaf karena mengaku khilaf akibat kesambet. Pernyataan Cak Nun mendapat respons luas dari netizen. Ada yang menganggap pernyataannya itu sudah cukup sebagai bentuk permintaan maaf, tapi ada juga yang menganggapnya belum cukup, karena tidak secara eksplisit menyebut nama.

Selain kesambet ala Cak Nun, sebenarnya ada kesambet lain yang terjadi pada persidangan kasus Ferdy Sambo di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sidang tuntutan terhadap terdakwa Richard Eliezer Pudiang Lumiu menjadi perhatian publik karena dicurigai ada yang kesambet.

Richard Eliezer, salah seorang ajudan Ferdy Sambo, menjadi salah satu eksekutor Brigadir Joshua atas perintah Ferdy Sambo. Dalam persidangan Eliezer menarik simpati publik karena penampilannya yang simpatik dan pernyataannya yang dianggap jujur. Eliezer bahkan sejak awal sudah mengajukan diri sebagai justice collaborator untuk mengungkap kejahatan Sambo.

BACA JUGA: Cak Nun dan Firaun

Tetapi, publik terkejut ketika jaksa penuntut umum menuntut Eliezer hukuman 12 tahun penjara, lebih berat dari Putri Cendrawathi, Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf yang hanya dituntut 8 tahun penjara. Publik bereaksi keras dan menilai jaksa telah ‘’kesambet’’ dalam memutuskan kasus ini.

Adegan kesambet terlihat ketika jaksa Paris Manalu membacakan tuntutan. Ia terlihat gemetar ketika sudah mendekati saat-saat pembacaan tuntutan. Suaranya beberapa kali tercekat, dan tangannya terlihat gemetar. Jaksa Sugeng Haryadi yang berada di sampingnya juga terlihat resah dan berusaha menenangkan Paris Manalu dengan mengusap pundaknya.

Dua jaksa yang duduk di belakang Paris dan Sugeng juga mempertunjukkan gesture yang tidak tenang. Jaksa yang duduk di belakang Paris Manalu menundukkan kepala seperti menghindar dari kamera, jaksa yang duduk di belakang Sugeng Haryadi beberapa kali memegang kepala.

Ketika jaksa kemudian menyebutkan Eliezer dituntut 12 tahun penjara, pengunjung mencemooah dengan koor ‘’huuu’’. Eliezer menutup mata dan mengatupkan kedua tangannya, sejenak kemudian ia membuka mata dan terlihat air matanya meleleh. Pengunjung masih riuh dengan teriakan cemoohan sampai majelis hakim mengingatkan supaya tenang dan mengancam akan mengeluarkan pengunjung yang ribut.

Adegan pembacaan tuntutan oleh para jaksa itu terlihat seperti adegan kesambet. Para jaksa seolah sedang merasakan tekanan beban yang sangat berat, sehingga terjadi pertentangan batin yang hebat. Jaksa Paris Manalu terlihat tidak bisa menahan emosinya dan bahkan hampir menangis. Hal yang sama terlihat pada jaksa lainnya.

BACA JUGA: Malapetaka Morowali

Dramaturgi itu menunjukkan bahwa para jaksa kesambet oleh kekuatan dari luar yang tidak bisa mereka tolak. Jarang sekali terlihat adegan semacam ini. Para jaksa biasanya selalu tegar dalam membacakan tuntutan. Tapi kali ini para jaksa itu benar-benar terlihat seperti kesambet.

Publik melihat ada yang tidak beres dalam persidangan itu. Hal itu bisa dilihat dari reaksi para netizen yang membuat komentar dan postingan keras. Ada yang menyebut bahwa sikap Eliezer yang jujur tidak dihargai oleh jaksa sehingga dituntut lebih berat dari tiga pelaku lainnya. Ada yang berkomentar bahwa di Indonesia sikap jujur tidak ada artinya. Buktinya, Eliezer yang jujur malah dituntut lebih tinggi dari kawan-kawannya.

Ada yang marah terhadap tuntutan Putri Cendrawati, Kuat Ma’ruf, dan Ricky Rizal yang dianggap bersekongkol. Tuntutan 8 tahun dianggap terlalu ringan. Maling ayam pun dituntut 5 tahun, tapi pembunuhan berencana terhadap ajudan sendiri dituntut 8 tahun. Nilai nyawa manusia ternyata hanya 1,5 kali ayam.

Keluarga Brigadir Joshua Hutabarat juga menyatakan kecewa terhadap tuntutan ini. Dalam salah satu persidangan Eliezer sempat sungkem kepada kedua orang tua Joshua dan meminta maaf. Kedua orang tua Joshua juga memaafkan Eliezer.

BACA JUGA: Intelektual Stempel

Publik sudah mengungkapkan kekecewaannya terhadap rasa keadilan yang terluka. Kalau persidangan ini terjadi di Amerika yang memakai sistem juri, sangat mungkin hasilnya berbeda. Dalam sistem peradilan pidana dikenal ada juri yang diambil dari unsur orang awam di luar pengadilan. Jumlah juri ada 12 orang diambil secara acak.

Sistem juri di Amerika mengutamakan unsur sosial berdaulat dan membatasi kekuasan pemerintah. Kekuasan pemerintah tersebut dilakukan oleh penuntut umum dan hakim. Amerika menganut adagium bahwa lebih baik membebaskan sepuluh orang yang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah. Dasar ini pula yang membuat Amerika menganut sistem juri dalam peradilan pidana. Hingga saat ini, sistem juri masih dianut oleh Amerika Serikat dalam menghadapi peradilan pidana.
Juri inilah yang memutuskan seorang terdakwa bersalah atau tidak. Juri tidak boleh mewawancarai terdakwa, tetapi dia mendengarkan semua keterangan terdakwa, saksi, penuntut umum, maupun hakim. Pada akhirnya keputusan juri mutlak tidak bisa diganggu gugat.

Memang sistem juri tidak bisa seratus persen objektif. Tentu sering terjadi keputusan yang dianggap subjektif. Tetapi, sistem juri bisa mengurangi peran lembaga judikatif negara dalam mengambil keputusan. Sistem juri bisa mencegah terjadinya kesambet seperti yang mungkin dialami jaksa di Indonesia.

Menko Polhukam Mahfud MD dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa ada pesanan keputusan dalam tuntutan Ferdy Sambo. Tengara Mahfud MD mengindikasikan peradilan Ferdy Sambo tidak independen, dan ada pihak-pihak yang ingin mengintervensi.

BACA JUGA: “Jokowi, Kasihan, dah…”

Kasus Ferdy Sambo yang semula dianggap berkaitan dengan konsorsium judi dan kemunculan Satgas Merah Putih di Polri, akhirnya direduksi menjadi kasus perselingkuhan di lingkungan keluarga saja. Pengacara-pengacara Ferdy Sambo–dengan kelihaiannya mencari lubang hukum–telah menyelamatkan Putri Cendrawati dari hukuman yang lebih berat.

Apakah para penasihat hukum itu telah menegakkan keadilan?

Ada kisah yang dikutip dalam memoir mantan perdana menteri Singapura Lee Kuan Yew mengenai penegakan hukum di Singapura. Lee mengenal seorang pengacara hebat yang selalu berhasil membela kliennya dalam perkara pidana, seperti pembunuhan dan korupsi.

Lee bertanya kepada sang pengacara, apakah dia yakin telah menjalankan prinsip keadilan. Sang pengacara menjawab, dia tidak punya urusan dengan keadilan, ia dibayar untuk menyelamatkan kliennya dari hukuman.

Kisah ini sama dengan Febri Diansyah dan pengacara keluarga Sambo. Jangan tanya soal keadilan, karena mereka dibayar (mahal) untuk menyelamatkan kliennya. (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *