Kamis, 4 Juni 2026, pukul : 12:09 WIB
Surabaya
--°C

Membangun KSMR, bukan LGBT

Barat adalah budaya yang sedang bangkrut, terutama karena mereka mencampakkan family values sejak seratus tahun lalu. Pernikahan menjadi tradisi yang ditinggalkan dan tidak penting, lalu anak dianggap sebagai beban. Bahkan di tahun 1980an kita bisa mendapati condom vending machines di kantin2 mahasiswa di Inggris. Barat secara perlahan menjadi ageing societies dengan pertumbuhan populasi negatif.

Akibatnya, Barat terpaksa membuka pintu bagi para imigran untuk bekerja awalnya di sektor2 berupah rendah. Kini situasinya berubah secara demografi. Juga banyak imigran yang bekerja di sektor berupah tinggi seperti pengacara, dokter, insinyur, arsitek, akuntan, pengusaha, bahkan politikus.

BACA JUGA: Hattanomics Menjawab Disrupsi Ekonomi Global

Negeri Pancasila ini diamanahkan oleh para pendirinya sebagai negeri dengan keluarga sebagai basis utamanya. Kata keluarga bahkan ada dalam naskah UUD45 yang menyatakan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Keluarga harus dipandang sebagai satuan produktif, sekaligus satuan edukatif sebagaimana ajaran Islam.

BACA JUGA  Tongkat Komando Berganti, Danyon A Pelopor Satbrimob Polda Jatim Pimpin Sertijab Danki dan Wisuda Purnabakti

Kekuatan2 iblisy wal ‘ifrity merampas peran mendasar keluarga ini sehingga keluarga diposisikan sekedar sebagai mesin penghasil buruh murah, melalui persekolahan massal, yang cukup dungu untuk setia bekerja bagi kepentingan pemilik modal, terutama asing. Bersama dengan hutang ribawy, gaya hidup konsumtif sekaligus eksploitatif itulah secara perlahan nilai2 keluarga dihancurkan.

Oleh karena itu keputusan keponakan kami untuk menikah, lalu membentuk KSMR itu tidak saja penting, tapi sekaligus instrumental bagi eksistensi Republik ini. Republik ini tidak mungkin dibangun di atas puing2 keluarga yang berantakan. Keluarga sebagai satuan produktif dan edukatif harus terus dihidupkan dan diperkuat. Pernikahan lelaki-perempuan harus dipermudah dan difalisitasi agar bangsa ini memiliki kapasitas regeneratif yang cukup sehingga bonus demografi saat ini lebih sustainable. Hanya dengan ini visi Indonesia emas 2045 bisa wujud, bukan mimpi di siang bolong. (*)

BACA JUGA  Kenapa NPD Masih Terus Berbohong

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.