Argentina terlalu mudah mendapatkan hadiah penalti, termasuk ketika menghadapi Kroasia. Messi terlalu dimanja, sehingga wasit yang membuatnya tidak senang pun harus dipulangkan lebih awal. Itulah serangkaian teori konspirasi yang berkembang.
Kapitalisme global mempunyai ikon-ikon. Bill Gates, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Jack Ma, Elon Musk, adalah ikon kapitalisme global. Sepakbola global juga punya ikonnya sendiri. Linonel Messi, Cristiano Ronaldo, Neymar Jr, adalah ikon sepakbola global. Ronaldo telah redup, Neymar tersingkir, tinggal Messi satu-satunya yang tersisa. Ikon-ikon baru pun harus segera diciptakan.
Messi adalah La Pulga, Si Kutu, sang ikon, paduan antara realitas dan mitos. Ia kutu kecil yang menjadi dewa sepak bola dengan kemampuan skill super human. Tidak ada manusia di planet yang punya kemampuan alamiah seperti Messi. Ia datang dari planet lain. Ia adi-manusia, melampaui manusia.
BACA JUGA: Charles Martel
Messi adalah Si Kutu, karena ketika masih kecil Messi memiliki kelainan hormon, sehingga ia tidak bisa tumbuh besar seperti anak-anak lainnya. Karena itu, kakak Messi, Rodrigo, memanggilnya dengan sebutan La Pulga.
Bagi anak-anak kecil, sebutan Si Kutu bisa bermakna bullying atau rundungan. Mungkin mirip dengan pemain Indonesia Kurniawan Dwi Julianto yang dijuluki Si Kurus, atau mantan pemain Arema Arif Suyono yang lebih dikenal sebagai “Keceng” karena badannya yang tipis.
Bagi Messi jukukan itu menjadi berkah. Dia memang Si Kutu yang membuat gatal semua pemain lawan. Ia Si Kutu yang sulit dideteksi dan tidak bisa dilihat gerakannya, karena kecepatan dan ketajamannya. Si Kutu selalu menjadi problem bagi setiap lawannya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi