Karena kegemarannya menghamburkan uang negara, Marie Antoinette bahkan dijuluki sebagai “Madame Deficit” atau ‘’Nyonya Tekor’’. Pemborosan dan gaya hidup mewah Marie Antoinette menyebabkan kecemburuan sosial semakin luas.
Raja Louis XVI juga membuat banyak pinjaman sehingga utang negara semakin menumpuk. Rakyat diperas bangsawan dan raja. Ketka menyadari negara dalam keadaan krisis, golongan bangsawan menolak untuk membayar pajak dan membebankan seluruh kewajiban pajak kepada rakyat.
Louis XVI hanya bisa mengandalkan pembayaran pajak untuk mengatasi masalah keuangan negara. Namun, ia tidak bisa memaksa kelompok bangsawan untuk membayar pajak karena bangsawan memiliki hak-hak istimewa bebas dari pajak. Rakyat yang sudah menderita akhirnya menjadi semakin sengsara karena pajak.
BACA JUGA: Made in Japan
Ketidakadilan dalam bidang politik pun terjadi, terutama ketika terjadi pemilihan pegawai-pegawai pemerintah yang berdasarkan keturunan, bukan keahlian. Hal itu menyebabkan administrasi negara menjadi kacau dan korupsi merajalela. Rakyat makin terisolasi karena tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.
Munculnya filsuf-filsuf pembaru yang berpaham rasionalis juga turut andil dalam mendorong meletusnya Revolusi Perancis. Paham rasionalis hanya mau menerima kebenaran yang dapat diterima oleh akal. Paham ini telah melahirkan renaissance dan humanisme, yang menuntun manusia untuk bebas berpikir dan mengemukakan pendapat. Hasilnya, muncul tokoh-tokoh pemikir yang karyanya berpengaruh besar terhadap masyarakat Perancis saat itu, seperti John Locke, Montesquieu, dan JJ Rousseau.
Ironi revolusi Prancis adalah bahwa setelah berhasil menumbangkan penguasa otoriter melalui revolusi yang paling berdarah di dunia, ternyata dalam waktu singkat revolusi itu dibajak oleh kekuatan otoriter baru, yang memunculkan penguasa baru yang tidak kalah otoriter dibanding the ancient regime.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi