Bagi Anies tak ada persatuan kalau tidak ada keadilan, maka yang dilakukan oleh Anies ketika berkunjung ke daerah – daerah, Anies lebih banyak mendengarkan suara – suara rakyat yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia. Anies ajak mereka diskusi untuk menemukan masalah dan mencari solusi yang tepat bagi persoalan yang mereka hadapi.
Semua masyarakat dia perlakukan bak sebagai seorang ahli yang bisa menemukan jalan keluar bagi masalahnya, bagi Anies yang paling tahu jalan keluar bagi masalah mereka adalah mereka sendiri. Anies memperlakukan mereka dengan memberi ruang aktualisasi atas potensi yang mereka miliki. Bagi Maslow penemu teori Needs of Hierarchy, itulah yang disebut dengan kebutuhan tertinggi manusia, kebutuhan aktualisasi. Dalam kaitan perlakuan seperti ini, sejatinya Anies sedang menjalankan nilai nilai Pancasila sila ke empat dan kelima, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
BACA JUGA: Tinggalkan Ganjar, Jokowi Berpaling ke Prabowo
Jadi keliru kalau ada yang menuduh Anies ini pemicu perpecahan, mengusung identitas tertentu dan lain sebagainya yang selalu negatif. Jangan – jangan apa yang dilakukan oleh mereka yang membenci Anies adalah sebuah ekspresi kecemasan dan ketakutan akibat elektabilitas dan penerimaan masayarakat kepada Anies yang cenderung meningkat dan menguat. Trend Anies sangat melesat, melebihi kandidat lain yang yang cenderung stagnan dan terlanjur terstigma menjadi calon istana yang didukung oligarki.
Semakin Anies ditekan, semakin Anies dihambat, tentu ini akan semakin membuat rakyat bersimpati pada Anies, Jadi realistis lah istana dan oligarki, bergabunglah bersama Anies untuk menyelamatkan Indonesia agar bisa mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi