“Pertama, saya contohkan karet. Produksi karet Indonesia adalah terbesar kedua di dunia, setelah Thailand. Tapi lihat apakah petani karet kita lebih sejahtera? Karena kita menjual karet mentah. Padahal, dari ujung kaki hingga ujung rambut membutuhkan unsur karet. Kita kekurangan SDM yang mau dan mampu mengelola karet menjadi bernilai tambah lebih tinggi,” paparnya.
Contoh berikutnya, ia sebut kayu. Negara dengan alam yang begitu subur, harusnya bisa jauh lebih makmur dari negara-negara Skandinavia jika kita mengelola hutan dan menanam pohon dengan baik.
BACA JUGA: Doni Monardo: Menjaga Alam Harus Jadi Perilaku, Bukan Slogan
Doni kemudian membuka tabir kekayaan VOC yang mencapai 7,9 triliun dollar AS. Sebuah asset yang jauh lebih besar dibandingkan dengan 20 perusahaan kakap dunia, seperti Apple, Samsung, Tesla, dan lain-lain. “Dari mana kekayaan VOC itu berasal? Dari bumi Nusantara!” tegas Doni.
Itu semua yang disebut Doni sebagai ‘emas hijau’. “Masih ada ‘emas biru’, yaitu hasil laut. Karena miskin teknologi, nelayan kita kalah dengan nelayan negara-negara maju. Tingkatan nelayan kita masih mencari ikan, sementara dengan bantuan teknologi, nelayan asing sudah sampai pada tingkatan ‘menangkap ikan’. Dengan teknologi, mereka mengetahui spot-spot ikan. Nah, ini yang saya maksud bidang pengabdian lain yang terbuka luas buat adik-adik sekalian,” kata Doni Monardo.
Penentu Kejayaan
Dalam kesempatan itu, Doni mengajak Danny Praditya, Direktur Operasi & Portofolio MIND ID. Danny menceritakan bagaimana negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa mengalami inflasi yang tinggi. “Melihat kondisi dunia, kita jauh lebih baik,” ujarnya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi