Buah nanas merupakan urat nadi perekonomian warga Sarireja. Mereka hidup dari penjualan hasil panen yang dilakukan setiap tiga hari sekali. Puluhan truk mengangkut buah nanas dari kebun penduduk untuk mengisi kebutuhan pasar di berbagai kota, khususnya Bandung dan Jakarta.
Ketergantungan masyarakat desa pada tengkulak sangat tinggi. Hampir 100 persen. Seperti kondisi di sebagian besar pedesaan, para petani hanya mengerti cara budidaya. Harga pasar sepenuhnya ditentukan para tengkulak.
Banyak pihak yang ingin membuat terobosan. Tetapi selalu kandas di tengah jalan. Dominasi tengkulak sulit dipatahkan.
Titik terang mulai muncul ketika departemen riset PT Pupuk Kujang membuat demplot ujicoba pupuk khusus buah nanas di Sarireja, pada 2017 yang lalu. Sukses di demplot itu mendorong warga desa untuk menerima program CSR (corporate social responsibility) PT Pupuk Kujang dalam pengembangan budi daya buah nanas yang terintegrasi. Program Kampung Nanasku akhirnya bergulir pada 2019.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi